Mohon tunggu...
Irsyal Rusad
Irsyal Rusad Mohon Tunggu...

Internist. Tertarik dng bidang Healthy Aging, Healthy Live, Diabetes Mellitus Twitter; @irsyal_dokter

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Mitos Olahraga Usia Lanjut: Tidak Olahraga karena Takut Jatuh dan Patah

6 Mei 2017   07:46 Diperbarui: 6 Mei 2017   20:07 687 4 5 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mitos Olahraga Usia Lanjut: Tidak Olahraga karena Takut Jatuh dan Patah
Ilustrasi/Kompasiana (Shutterstock)

"Saya takut jatuh dan tulangnya patah, Dokter. Saya lihat beberapa tetangga saya jatuh dan tulangnya kemudian patah," cerita seorang pasien diabetes melitus usia 75 tahun ketika saya anjurkan untuk lebih aktif dan berolahraga.

Jatuh, kemudian tulang cidera, patah memang sering dialami oleh kelompok penduduk usia tua atau lanjut. Penelitian di Australia menunjukkan bahwa satu dari tiga kelompok usia 65 tahun ke atas pernah jatuh dalam satu tahun. Semakin tua usia seseorang akan semakin bsear pula kemungkinan mereka jatuh dengan berbagai macam komplikasi. Tidak salah juga banyak mereka yang kemudian takut olahraga karena kekawatiran seperti itu, yang memang dilihat atau dialami sendiri oleh keluarganya. Sehingga tidak hanya para orang tua yang takut melakukan aktivitas fisik memadai, olahraga, bahkan keluarga, anak-anak juga sering melarang orangtuanya, tidak hanya untuk olahraga, aktivitas fisik, kegiatan sehari-hari saja mereka larang. Ungkapan seperti ini, “Bapak atau ibu saya ini susah dilarang, Dokter,” sering saya dengar dari keluarga pasien waktu konsultasi. Maunya sang anak barangkali orangtuanya cukup duduk-duduk di depan TV atau tidur-tiduran saja.

Berlawanan dengan ketakutan jatuh karena olahraga pada orang tua, penelitian menunjukkan bahwa kebanyakan para usia lanjut jatuh terjadinya di rumah dan disebabkan oleh hal-hal sepele, misalnya jatuh dari tempat tidur, jatuh dari kursi, jatuh waktu mau berdiri di toilet, kepleset di kamar mandi, jatuh waktu turun dari kendaraan, atau bahkan hal-hal sederhana yang tidak disangka-sangka. Saya sering memerima pasien yang jatuh karena hal-hal kecil ini dengan bermacam akibatnya. Ibu saya sendiri pada usia 89 tahun juga jatuh di rumah dengan penyebab yang tidak jelas.

Dan, yang lebih penting lagi untuk diketahui adalah bahwa olahraga pada usia lanjut dapat mencegah kemungkinan risiko jatuh dan tulang patah. Penelitian memang menunjukkan demikian, para usia lanjut yang rutin berolahraga kemungkinan mereka jatuh dan tulang patah lebjh kecil dibandingkan mereka yang tidak aktif. Apa sebabnya? Banyak alasannya, di antaranya adalah bahwa olahraga akan memperbaiki keseimbangan mereka yang rutin melakukannya—gangguan keseimbangan adalah salah satu penyebab penting para usia lanjut jatuh. 

Manfaat olahraga dapat mengurangi penyakit lupa, pikun, meningkatkan kewaspadaan, juga memperkecil kemungkinan para usia lanjut jatuh. Lalu, meningkatnya kepadatan tulang, massa otot terutama tulang, otot penyangga tubuh seperti otot paha, betis, panggul, akan memperkecil kemungkinan para usia lanjut jatuh.

Menurut para ahli, kemungkinan jatuh para usia lanjut sulit dihindari, apalagi pada usia yang semakin tua. Tetapi, yang penting adalah, kalau toh jatuh juga, cidera yang dialami tidak berat, tulang tidak patah. Nah, itu hanya dapat dicegah dengan tetap mempertahankan dan menjaga kepadatan tulang dan massa otot dengan tetap aktif dan olahraga. Ingat, di atas tulang paha yang kuat, otot yang padat, kita akan tegak lebih kokoh dan kuat pula.

Jadi, kekhawatiran kemungkinan jatuh karena olahraga pada usia lanjut sebenarnya tidak perlu, bahkan olahraga akan memperkecil kemungkinan itu. Olahraga juga akan mengurangi kemungkinan tulang patah akibat jatuh. Karena itu, jangan larang orangtua kita aktif bergerak, olahraga. Biarkan mereka tetap melakukan aktivitas fisik yang disukainya. Yang penting, jaga lingkungan yang lebih aman, yang akan memperkecil kemungkinan mereka jatuh.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x