Mohon tunggu...
Irsyadul Umam
Irsyadul Umam Mohon Tunggu... Petani - Pelajar dengan keseharian ngopi dan sedikit melihat lingkungan sekitar

Corat Coret di toilet

Selanjutnya

Tutup

Pendidikan

Trobosan, Memahami Matematika dengan Mudah

2 April 2019   02:20 Diperbarui: 2 April 2019   02:57 57
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Pendidikan. Sumber ilustrasi: PEXELS/McElspeth

Keadaan siswa tentuntya menjadi aspek yang perlu diperhatikan. Kesuksesan sistem pembelajaran juga memperhatikan siap tidaknya mental seorang siswa. Jika siswa belom siap menghadapi suatu pembelajaran , bagaimana materi tersebut dapat ditangkap. Terlebih jika mental seorang pelajar belum terbentuk dengan baik. Hambatan-hambatan kesiapan  mental pelajar dapat berasal dari diri sendiri maupun dari lingkungan sekitar pelajar.

Pembelajaran matematika yang kurang bermakna membuat siswa merasakan belajar matematika hanya sekedar sekumpulan aturan yang harus dihafal dan dikerjakan. Schoenfeld dalam Riedesel, dkk. (1996) merangkum beberapa pandangan siswa terhadap matematika, yaitu: hanya memiliki satu jawaban benar, tidak perlu memahami kenapa dikerjakan dengan cara tertentu, hanya orang pintar yang menemukan dan membuat matematika, dan masalah matematika sedikit kaitannya dengan kehidupan nyata.

Beberapa pandangan tersebut tentunya melahirkan sikap negatif siswa terhadap pelajaran matematika. Sikap negatif siswa bisa dilihat dari kurangnya minat dan motivasi siswa untuk belajar matematika. 

Akhirnya, matematika hanyalah momok dalam kelas. Inilah realitas pembelajaran matematika yang tidak bisa dipandang sebelah mata khususnya oleh guru matematika. Salah satu sebab munculnya sikap negatif siswa terhadap pelajaranmatematika adalah cara atau strategi guru menyajikan matematika dalam kelas. 

Kebanyakan guru matematika mengajarkan matematika dengan pembelajaran secara langsung. , awalnya memberikan penjelasan disertai contoh kemudian mereka disuruhmengerjakan latihan.

Dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 tentang Sistem Pendidikan Nasional menjelaskan bahwa pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa, bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Diknas, 2003). 

Seperti yang tertuang di undang-undang tersebut , membentuk watak menjadi keharusan. Dengan terbentuknya watak  peradaban akan terbangun.  Ketika peradaban terbangun  Negara demokratis akan terwujud.

Untuk menghasilkan pembelajaran yang efektif dan mendukung tujuan Negara. Diperlukanlah suatu metode yang dapat memahami keadaan siswa. Karena dengan metode yang baik akan memberikan kesempatan pelajar untuk mengembangkan kreatifitas dan potensi yang dimiliki.

Dengan menilik pembelajaran matematika disekolah-sekolah yang kurang efektif. Pernyataan ini berdasar pada pelajar yang kurang berkenan dengan mata pelajaran tersebut. Seolah-olah matematika menjadi hantu ketika pembelajaran berlangsung.  

Padahal kita tahu, ketika mental pelajar(dalam konteks ini adalah kemauan), rendah bahkan ada yang sampai di tingkat benci terhadap matematika maka bagaimana seorang pelajar itu menangkap sebuah pelajaran. Sedangkan didalam jiwanya tertanam pemahaman kalau matematika itu susah dan mengerikan.

 Dengan keadaan diatas,  penulis ingin memaparkan bagaimana alternatif pembelajaran matematika berbasis sejarah.  Hal yang mempengaruhi penulisan ini diantaranya :  keadaan pelajar yang banyak merasa takut dengan matematika; kurang diperhatikannya sejarah matematika dalam konteks pembelajaran di kelas. Dengan dua keadaan ini, penulis bergerak dari  melihat keadaan siswa. Kemudian metode yang dapat menjadi alternatif pembelajaran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Pendidikan Selengkapnya
Lihat Pendidikan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun