Irmina Gultom
Irmina Gultom Apoteker

Pharmacist - Universitas 17 Agustus 1945 | Books and movie addict | Writing and photography lovers | IG: irmina_gultom | No one can tell your story, so tell it yourself. No one can write your story, so write it yourself

Selanjutnya

Tutup

Muda Artikel Utama

Hari Buku Nasional, Pilih e-Book atau Buku Konvensional?

17 Mei 2017   18:39 Diperbarui: 17 Mei 2017   20:32 129 4 2
Hari Buku Nasional, Pilih e-Book atau Buku Konvensional?
Ilustrasi: listchallenges.com

Hari gini masih jaman baca buku? Plis deh, pake e-book dong!

Kalimat di atas sering saya dengar dari anak-anak muda zaman digital nan canggih ketika saya bertanya tentang informasi buku tertentu pada beberapa teman saya. Mungkin para pembaca pernah juga merasakannya.

Bertepatan dengan Hari Buku Nasional yang jatuh pada hari ini, 17 Mei 2017, tulisan saya kali ini juga tidak akan jauh-jauh dari buku. Setiap Hari Buku Nasional tiba, topik yang muncul sering kali berkaitan dengan minimnya budaya membaca di masyarakat kita, terutama kaum muda. Apalagi dengan zaman digital yang berkembang terlalu cepat, rasa-rasanya kaum muda lebih memilih mengoleksi dan memelototi gadget dibandingkan buku. Dibandingkan membeli buku, mereka lebih memilih berhemat untuk membeli gadget keluaran teranyar.

Zaman dahulu, ketersediaan buku tidak seperti sekarang ini yang menjamur di mana-mana. Buku sulit didapat karena dicetak terbatas dan bahkan beberapa harganya sangat mahal. Oleh sebab itu, biasanya hanya orang-orang beradalah yang sanggup memiliki perpustakaan pribadi sehingga tak jarang buku diasosiasikan dengan kaum-kaum bangsawan maupun cendekiawan.

Entah kenapa, hingga saat ini budaya literasi tidak pernah berkembang secara signifikan di kalangan masyarakat Indonesia. Tidak seperti di negeri Barat sana, sejak kecil mereka sudah diperkenalkan budaya literasi. Memperoleh informasi dengan membaca buku sudah menjadi suatu kebiasaan. Hingga tak sedikit dari mereka yang memiliki perpustakaan pribadi di rumahnya.

Membaca buku juga bukan sekadar membaca, melainkan mereka dilatih untuk menganalisis dan mengembangkan pemikiran mereka atas informasi yang sudah mereka baca, kemudian mereka utarakan kepada orang lain sebagai perbandingan analisis.

Orang yang sering membaca buku dan menganalisis apa yang ia baca sangat berbeda dengan orang yang jarang membaca buku. Kosakata dan tutur kata tentunya bisa menjadi salah satu indikasinya. Oleh sebab itu, saat menempuh pendidikan dasar hingga pendidikan tinggi, membaca buku perlu selalu digalakkan. Jangan membiasakan para pelajar hanya mendapatkan informasi mentah dari internet tanpa sumber/referensi yang kompeten.

Kini, saat era digital semakin pesat berkembang, buku-buku konvensional mulai ditinggalkan. Dan akhirnya mau tidak mau para penerbit buku pun harus menyesuaikan perkembangan zaman sehingga kemudian muncullah buku-buku yang diterbitkan dalam bentuk digital aliase-book.

E-book boleh dibilang lebih praktis daripada buku konvensional dan memiliki dampak yang luas. Tidak ada biaya cetak. Oleh sebab itu, bahan baku kertas yakni kayu juga mulai berkurang pemakaiannya. Dan ini tentunya berdampak pada penebangan hutan-hutan sebagai paru-paru dunia.

Selain itu, e-book juga tidak membuat orang bersusah payah dengan beratnya beban yang mereka bawa di tas mereka. E-book bisa didapatkan di mana saja dan kapan saja. Bahkan beberapa bisa kita dapatkan secara gratis!

Tapi apakah dengan munculnya inovasi literasi dalam bentuk digital, lantas meningkatkan minat baca masyarakat kita?

Tidak. Yah, setidaknya itu yang saya lihat. Coba Anda perhatikan, dari sepuluh orang yang memegang gadget mereka saat di angkutan umum, adakah yang membaca e-book? Berapa perbandingannya dengan mereka yang senyum-senyum sendiri karena membaca komentar-komentar di wall Facebook mereka?

Bagi yang punya anak, adik, atau keponakan yang saat ini masih bersekolah di pendidikan dasar (SD - SMA), saya yakin guru mereka sering meminta mereka membuat makalah. Dan karena zaman sudah canggih, mereka diperbolehkan mengambil materi dari internet. Tapi coba lihat, mereka lebih sering mengambil materinya dari buku/e-book dengan referensi yang kompeten, atau hanya copy-paste dari Wikipedia dan blog-blog yang tidak jelas? Kalau saat menempuh pendidikan dasar saja mereka terbiasa seperti itu, bagaimana jadinya ketika mereka kuliah? Akankah kita menjadi generasi copy-paste? Kalau seperti itu, percayalah kita tidak akan pernah sejajar dengan kaum-kaum intelektual di luar sana.

Meskipun e-book sangat menolong, saya pribadi lebih menyukai buku konvensional ketimbang e-book. Kenapa?

1. Buku konvensional bisa dibaca di mana saja dan kapan saja tanpa harus khawatir kehabisan baterai gadget.

2. Tidak ada risiko kerusakan mata akibat paparan sinar radiasi gadget.

3. Kecuali sistem data kita secanggih Pentagon, tetap ada risiko hilang jika gadget kita crash atau karena lain hal.

4. Ini mungkin hanya para pecinta buku yang tahu, saya suka sekali dengan bau kertas buku yang baru dibuka dari plastik dan selalu menyukai tampilan buku-buku yang tersusun rapi di rak buku.

Pilih e-book atau buku konvensional tentunya bergantung pada individu masing-masing. Yang penting semangat membaca tidak boleh hilang. Harapan saya semoga ke depannya budaya literasi bisa terus berkembang dan bisa menjadi kebiasaan kita. Kalau kamu, pilih yang mana?