Irmina Gultom
Irmina Gultom Apoteker

A Pharmacist who love reading, traveling, photography, movies and share them into a write | Universitas 17 Agustus 1945 Jakarta | IG: https://www.instagram.com/irmina_gultom/ | https://marvelousthings250552759.wordpress.com/

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Artikel Utama

Sulitnya Mengesampingkan Gengsi di Pernikahan Adat Batak

2 Agustus 2018   11:36 Diperbarui: 4 Agustus 2018   17:51 13796 26 21
Sulitnya Mengesampingkan Gengsi di Pernikahan Adat Batak
Ilustrasi: roosvansia.com

Jujur saja, sebelum menulis ini saya berpikir berulang kali karena mungkin saja tulisan ini akan menyinggung pihak lain. Tapi setelah dipikir-pikir, tidak ada salahnya saya mengutarakan opini sepanjang saya tidak bermaksud buruk dengan adanya tulisan ini. Dan kebetulan sekali, topik khusus yang diangkat tim redaksi Kompasiana kali ini adalah tentang pesta pernikahan.

Kalau saya amat-amati, biasanya bulan Juli -- Oktober boleh dibilang musim kawin, karena banyak pesta pernikahan digelar dimana-mana.

Kalau kata orang, empat bulan ini paling cocok untuk menggelar pesta pernikahan karena pertama, hari raya Idul Fitri sudah lewat sehingga harga sembako sudah mulai turun kembali (terutama tahun-tahun belakangan ini karena tanggal Idul Fitri selalu maju setiap tahunnya).

Kedua, empat bulan ini masih dalam peralihan musim kemarau ke musim hujan. Jadi seharusnya tidak terlalu panas dan curah hujan juga belum terlalu tinggi.

Dan ketiga, musim liburan anak sekolah sudah lewat. Jadi bagi keluarga yang akan menggelar pesta pernikahan namun masih memiliki anak yang duduk di bangku sekolah, biaya yang harus dikeluarkan terkesan agak longgar (padahal sih sama saja).

Bicara pernikahan, berarti bicara biaya yang harus siap dikeluarkan. Meskipun ditanya, "habis berapa untuk pesta ini?", pasti jawabnya "Yah, banyak lah pokoknya".

Kata 'banyak' di sini bisa berarti belasan, puluhan hingga ratusan juta rupiah. Tidak ada standar khusus memang. Yang jelas, semakin besar dan megah suatu pesta, semakin banyak biaya yang dikeluarkan. Apalagi kalau pesta pernikahan tersebut berupa pesta adat (karena Indonesia masih kental adat istiadatnya).

Dan karena saya kebetulan berasal dari suku Batak yang besar dan tinggal di Jakarta, boleh saya pastikan, biaya yang harus dikeluarkan untuk pesta adat Batak di Jakarta minimal seratus juta rupiah (dan biasanya lebih).

Jangan khawatir, biaya tersebut belum termasuk biaya adat sebelum pernikahan mulai dari Marhusip (semacam lamaran), Martumpol (pertunangan), dan Martonggoraja (persiapan akhir).

Ilustrasi Martonggo Raja (yolandamarbun.blogspot.com)
Ilustrasi Martonggo Raja (yolandamarbun.blogspot.com)
Bagi saya sendiri, adat Batak adalah sesuatu yang unik, sarat makna dan sangat perlu dilestarikan dan dipelihara, terutama oleh kita-kita yang tergolong kaum milenial ini.

Meski zaman sudah berubah menjadi serba cepat dan praktis, bukan berarti kita serta-merta boleh melupakan adat istiadat yang katanya terkenal rempong bin ribet dan menghabiskan banyak uang. Bagaimanapun adat-istiadat adalah identitas kita sebagai bagian dari bangsa Indonesia yang beraneka ragam.

Berkali-kali saya pernah memperoleh wejangan dari para tetua, bahwa pernikahan tidak harus bermegah-megah. Yang penting seluruh unsur adat yang diwajibkan ada dan bisa dilaksanakan, maka pesta adat tersebut sah.

Tapi fakta bahwa ada biaya yang begitu besar yang harus dikeluarkan dibalik pelaksanaan adat tersebut, membuat para kaum milenial menjadi antipati. Hidup di perantauan saja sudah susah, apalagi menyiapkan biaya untuk pesta adat. Dan kalau kedua calon mempelai memilih untuk mengadakan pesta resepsi biasa, tidak sedikit mulut orang di luar sana yang bergunjing.

Pun jika mereka memutuskan pesta adat yang minimalis, tetap saja ada yang nyinyir. Mengapa? Karena semuanya berkaitan dengan gengsi.

Saya jadi ingat salah satu tulisan di Kompasiana yang menyatakan bahwa "yang mahal itu bukan pernikahannya, tapi gengsinya". Ada benarnya juga. Dan fenomena inilah yang saya lihat di pesta pernikahan adat Batak. Rasa gengsi ini ada di setiap aspek persiapan pesta adat sehingga tampaknya begitu sulit untuk diabaikan apalagi dihilangkan, misalnya:

Sewa Gedung dan Katering

Dua hal ini boleh dibilang yang paling banyak menyedot anggaran. Rata-rata gedung adat batak di Jakarta berkapasitas seribu orang dan untuk biaya sewa selama satu hari (pagi hingga sore, karena acara adat berlangsung seharian) berkisar 30 -- 80 juta rupiah.

Gedung-gedung tertentu juga sudah dikenal di kalangan orang Batak sebagai gedung mewah. Contoh, kalau pesta diadakan di gedung sekelas Mulia Raja atau Balai Samudera, pastilah yang punya Ulaon (acara) orang terpandang dan semua tamu akan terkesan.

Suasana pesta di Gedung Mulia Raja (weddingbatak.com)
Suasana pesta di Gedung Mulia Raja (weddingbatak.com)
Soal katering, setiap vendor katering biasanya sudah punya minimum order tertentu dengan harga tertentu di gedung tertentu, tergantung apakah vendor tersebut rekanan dengan gedung atau tidak. Dan biasanya minimum ordernya berkisar 800-1000 porsi untuk katering adat dan 250-300 untuk katering nasional. Jadi boleh dikatakan minimum order ini menyesuaikan kapasitas gedung. Kekurangan makanan di pesta adat Batak boleh dikatakan sebagai hal yang paling tabu.

Kasarnya, kalau makanan kurang, maka pesta tersebut bisa jadi gunjingan tujuh pomparan (alias tujuh turunan)! Serem kan? Saya yakin sekali tidak ada keluarga yang tidak memperhitungkan jumlah tamu dan katering yang dipesan. Semua pasti ingin tamunya merasa puas dan mendapat makan.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2