Mohon tunggu...
Ircham Arifudin
Ircham Arifudin Mohon Tunggu... KBC-53: penikmat kopi tanpa gula

menjadi tua itu pasti, menjadi dewasa itu pilihan

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Membumikan Kultur NU (2-Habis)

5 September 2020   17:01 Diperbarui: 5 September 2020   17:16 33 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Membumikan Kultur NU (2-Habis)
ngopibareng.id

Judul lengkap: Membumikan Kultur NU dalam Jiwa dan Sikap atau Perilaku NU Kultural

Beberapa waktu tulisan saya sebagaimana judul di atas menjelaskan tentang beberapa permasalahan internal yang dihadapi NU saat ini terletak pada generasi Nahdliyin sekarang yang sebagian besar tidak memahami ajaran-ajaran Islam ahlussunnah wal jamaah an-Nahdiyyah. Sehingga tidak dapat disalahkan jika masyarakat awam berusaha mencari pedoman lain yang menurut mereka lebih "sesuai dengan Al-quran dan Hadits." 

Bukan karena konsep "ideologi beragama" yang ditawarkan mereka lebih kuat atau lebih mapan dari keyakinan keislaman lain yang telah lama berkembang di Indonesia, khususnya aswaja an-nahdiyyah. 

Tetapi lebih dikarenakan generasi yang kurang memahami (bahkan tidak memahami) ajaran aswaja an-Nahdiyyah seutuhnya, yang salah satunya disebabkan dari internal struktural NU sendiri (oleh sebagian orang) yang dinilai masih kurang massif dan maksimal dalam penguatan ke-NU-an kepada generasi mudanya.

Kurang efektif dan maksimalnya penguatan ke-NU-an kepada generasi muda ini bisa jadi karena sebagian dari kita sebagai Pengurus NU (NU Struktural) sudah disibukkan dengan urusan-urusan politis praktis, sehingga melupakan pemberdayaan Nahdliyyin. 

Berpolitik bagi Nahdliyin secara pribadi/individu memang tidak dilarang, tetapi jangan sampai demi mengejar ambisi politik kemudian melupakan misi utama untuk memperjuangakan Islam Aswaja Annahdliyah.

Perlu diketahui bahwa secara organisasi, NU memiliki konsep politik kebangsaan. Politik kebangsaan NU merupakan bagian instrumen untuk membangun peradaban bangsa yang mampu mendinamisir bangsa ke arah yang benar dan bermartabat sesuai dengan keinginan dan tujuan semua bangsa Indonesia, dengan pola gerakan politik kebangsaan NU pasca khittah 1926.

Sehingga dalam kontestasi politik praktis (baca: pemilu/pilkada), NU bukan bagian dari parpol dan tidak terikat oleh parpol manapun. NU telah memberikan pedoman sembilan pedoman berpolitik bagi Nahdliyin dan menekankan seluruh kader-kadernya dalam berpolitik (secara pribadi/individu) untuk mengedepankan akhlaqul karimah, baik berupa etika sosial maupun norma politik. Dengan demikian, keterlibatan Nahdliyin dengan partai politik yang ada bersifat individual, tidak atas nama organisasi NU.

Penguatan kultur NU (Aswaja Annahdiyyah)

Apa yang mereka (kelompok Islam fundamentalis ataupun Islam radikal) perdebatkan dalam hal amaliyah NU (pandangan bernegara bahwa NKRI adalah keputusan yang final dan tradisi-tradisi keagamaan yang dituding sebagai perbuatan bid'ah bahkan  sesat) merupakan persoalan klasik yang telah mendapatkan jawaban yang tuntas dari para Kiai/ulama terdahulu.

Langkah strategis yang harus dilakukan saat ini adalah "ngopeni" basis massa NU (akar rumput),  melakukan penguatan internal (Nahdliyyin) dengan kembali meneguhkan ajaran Asjawa An-Nahdliyyah di tengah masyarakat. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN