Digital

QR Code Payments, Potensi dan Risiko

10 Oktober 2018   10:50 Diperbarui: 10 Oktober 2018   10:52 340 0 0

Quick Response code payments atau system pembayaran berbasis QR code memiliki potensi untuk berkembangan secara luas di Indonesia. Salah satu factor yang mendorong hal tersebut adalah smartphone penetration di Indonesia yang diproyeksikan mencapai 47.6% pada tahun 2019 (source: statista.com). QR code payments juga relative lebih murah untuk diimplementasikan apabila dibandingkan dengan system pembayaran berbasis EDC atau NFC. Disamping itu regulator tentunya berkepentingan untuk mendorong perkembangan QR payments sebagai salah satu alternative menuju cash less society. Namun demikian perlu disadari bahwa mobile payment industri di Indonesia masih cukup kecil dan didominasi oleh mobile POS payment dengan nilai transaksi diproyeksikan sekitar USD 410 milion pada 2018, lebih kecil dibanding Singapura (USD 491 million) ataupun Malaysia (USD 651 million)  (source: statista.com).

 

China dapat dikatakan sangat berhasil bahkan bukan hanya sekedar cash less society namun juga card less society melalui pengimplementasian QR code payments yang dimotori oleh Alipay (Alibaba) dan WeChat Pay (Tencent). Untuk contact less payment, market share QR code payments mencapai lebih dari 90%, jauh lebih besar dibanding NFC payment (misal: Apple Pay). Pada tahun 2016 transaksi mobile payment di China telah mencapai USD 790 billion. Transaksi cash turun secara signifikan dari 63% di 2011 menjadi hanya 33% di 2016. Mobile payments penetration rate di China telah mencapai 77%. Disini dapat kita lihat kolaborasi yang baik antara pelaku industri dan regulator secara signifikan dapat mentransformasi masyarakat China menuju cashless dan bahkan cardless society.

 

Southeast Asia saat ini dipandang sebagai "the next blue ocean market" untuk QR code payments (technode.com). Hal ini tentunya akan berdampak pada massive expansion ke pasar asia tenggara  khususnya dari dua raksasa QR payments China (Alipay dan WeChat pay). Kita tentunya akan melihat dalam waktu dekat ini "traditional financial institution" maupun "startups fintech" berlomba-lomba menjadi yang terdepan dalam QR code payment indusutri di Indonesia. Awal tahun 2018 ini BI megeluarkan izin untuk 12 perusahaan yang akan menerapkan system pembayaran QR code. Meskipun demikian saat ini standarisasi QR code payments masih dalam tahap pengembangan. Kita tentunya berharap standarisasi ini segera terimplementasikan sehingga nasabah akan merasa lebih aman dalam bertransaksi dan dimungkinkan untuk transaksi lintas platform.

 

Disamping segala manfaat dan potensi QR code payments kedepannya, kita juga harus aware dengan risiko yang mungkin muncul khususnya dari fraudster. Salah satu ancaman yang mungkin adalah "fake QR code" atau QR code palsu. Fraudster dapat mengganti barcode tersebut dengan barcode yang tidak legitimate, sehingga dana yang ditransfer nasabah saat melakukan pembayaran akan masuk ke rekening bukan pemilik merchant. Lebih dari itu barcode tersebut juga dapat disusupi dengan virus, sehingga saat nasabah men-scan barcode tersebut secara tidak sadar mobile phone mereka akan terinstall virus yang akan mencuri data-data user tersebut dan dapat menyebabkan kerugian finansial. Selain itu keunikan system barcode tersebut tentunya akan menyulitkan nasabah dalam melakukan verifikasi keabsahan barcode tersebut. Dikutip dari scmp.com (south china morning post), fraud QR code telah menyebabkan kerugian sebesar USD 13 million dimana fraudster mengganti legitimate barcode dengan yang palsu dan menggandung virus. Lebih lanjut disebutkan bahwa 23% dari penyebaran virus dan Trojan di China saat ini melalui QR codes. Melihat potensi risiko tersebut, tentunya regulator dan pelaku industri di tanah air harus bahu membahu untuk mengantisipasi segala potensi risiko dar perkembangan QR code payments kedepannya.