M. Iqbal
M. Iqbal Blogger and Freelance Writer

Seorang pengamat dan pelempar opini dalam sudut pandang berbeda. Saya bisa ditemui di http://www.lupadaratan.com/ segala kritik dan saran bisa disampaikan di m.iqball@outlook.com. Terima kasih atas kunjungannya.

Selanjutnya

Tutup

Hijau Artikel Utama

Menakar Fenomena Terdamparnya Paus di Pantai

15 November 2017   00:11 Diperbarui: 15 November 2017   11:07 1553 9 5
Menakar Fenomena Terdamparnya Paus di Pantai
Ilustrasi: merkur.de

Baru-baru ini kehebohan terjadi saat berita terdamparnya gerombolan Paus Sperma (Physeter maccrocephalus) di perairan Aceh. Tepatnya di daerah Ujong Kareung, Aceh Besar. Sebuah fenomena pastinya, banyak orang yang bertanya-tanya fenomena langka tersebut. Sedikitnya ada sepuluh ekor paus jenis ini terdampar dan membuat masyarakat berbondong-bondong menyaksikan fenomena langka tersebut.

Saat kembali ingat peristiwa tahun lalu yaitu tepatnya di awal bulan Agustus 2016. Saat itu hanya ada seekor Paus Sperma di daerah Alue Naga, Syiah Kuala, Banda Aceh. Lokasinya pun tidak terlalu jauh dengan lokasi terdamparnya di Pantai Aceh. Penyebab saat itu dikarenakan paus tersebut terpisah dari kawanan sehingga terseret ke pinggir pantai. Apalagi ia tidak mampu bertahan lama dan ditambah dengan luka di sekujur tubuh.

Berbagai dugaan awal bermuncul, mulai dari gangguan pada kemampuan navigasi dari paus tersebut yang disebabkan oleh banyak hal mulai dari kondisi individu paus, cuaca ekstrem, pencemaran lingkungan hingga keseimbangan biota di laut. Semua dikaitkan satu sama lain menjadi sebuah dugaan kuat.

Penyebab hewan mamalia terbesar di dunia itu harus terdampar menurut laporan warga ialah akibat terluka atau sakit. Dalam keadaan ini mereka berenang terlalu dekat dengan pesisir untuk tujuan berlindung, namun malahan terperangkap sebab perubahan pasang ke surut. Apalagi pantai timur punya kontur dasar laut  yang lebih dangkal dibandingkan pantai barat Aceh.

Saya pun selaku mahasiswa jebolan fakultas kelautan dan perikanan mungkin tidak asing mendengar penjelasan dari para dosen akan fenomena langka saat duduk di bangku perkuliahan. Salah satu dugaan menurut saya mulai dari pengaruh angin barat dalam beberapa hari terakhir. Daerah Aceh dilandai cuaca buruk termasuk di laut, pengaruh ini saya rasa sangat mempengaruhi kawanan paus saat melakukan migrasi.

Sedikit penjelasan, bahwasanya Paus Sperma sangat menyukai ikan-ikan kecil selain dari plankton sebagai makanan utamanya. Iklim yang hangat di daerah pinggir pantai mampu menarik gerombolan ikan paus tersebut menepi dan akhirnya terjebak di perairan dangkal saat pasang surut. Akibatnya sejumlah ikan paus terdampar di pinggir pantai dan ditemukan oleh warga pesisir.

Tak hanya itu saja, Ikan Paus punya nilai kebersamaan dan kesetiaan yang sangat besar terutama dalam proses migrasi. Andai dari gerombolan mereka yang sakit atau terluka, sejumlah paus lainnya rela menunggu hingga sang paus bisa kembali melanjutkan perjalanan. Lokasi utamanya ialah daerah perairan dangkal dan landai yang tenang, daerah perairan di Ujong Kareung punya spesifikasi tersebut dan jauh dari aktivitas manusia.

Selain itu mungkin ada faktor seismik yang terjadi dasar laut punya kaitan besar terdamparnya kawanan paus di pantai Aceh. Bisa saja gempa atau letusan gunung berapi yang mampu dideteksi oleh paus lebih cepat dibandingkan sistem peringatan dini gempa atau tsunami yang dibuat oleh manusia. Mengingat daerah Aceh dan Indonesia merupakan daerah cincin api yang dipenuhi frekuensi seismik yang dengan mudah ditangkap oleh Paus. 

Berkat kemampuan pendengaran dan komunikasi dari ikan Paus yang menggunakan ultrasonik dalam menangkap suara atau getaran dengan frekuensi. Tak hanya itu saja mereka sering terganggu dengan aktivitas manusia yang menggunakan sonar yang mengganggu sistem dari navigasi ikan paus.

Banyak dari jenis paus yang terluka, buka hanya karena perkelahian antara sesamanya namun bisa karena kerusakan gendang telinga. Penyebabnya karena getaran frekuensi sonar berkekuatan tinggi yang dipantulkan dari kapal-kapal di sekitar perairan. Itu diperkuat dengan pantai timur Aceh terkenal dengan lalu lintas kapal yang sangat padat yang menghubungkan dengan selat malaka.

Gerombolan Paus yang mengalami kelinglungan karena pantulan sonar yang datang dari berbagai arah membuat mereka tersesat. Untuk terhindar dari bahaya yang lebih besar, Paus memilih pinggir pantai sebagai lokasi yang lebih aman salah satu opsinya ke perairan dangkal, mengingat hingga kini perburuan ikan paus sangat tinggi.

Migrasi rentan dengan berbagai bahaya, paus yang sangat menyukai suhu hangat dari perairan. Ia rela melakukan migrasi rutin setiap tahunnya untuk menemukan perairan hangat dan sumber makanan tanpa batas. Kesalahan navigasi kadang membuat mereka harus terdampar ke tepi pantai diakibatkan oleh perubahan temperatur laut. Migrasi paus dilakukan rutin setiap tahun dan juga karena perubahan musim.

Fenomena ini sangat mungkin terjadi karena perubahan iklim yang sangat cepat dan berpengaruh pada temperatur laut. Niat dari gerombolan paus ingin melakukan migrasi ke daerah bersuhu hangat, namun mereka mengalami kesalahan navigasi akibat suhu hingga berakibat paus terdampar di pinggir pantai.

Migrasi ikan paus untuk di daerah Indonesia bagian barat berasal dari Samudera Hindia hingga mencari suhu hangat yang ada di perairan Australia. Topografi yang asing, memang dalam beberapa kasus membuat paus terdampar.

Walaupun ikan paus punya sistem navigasi yang sangat canggih. Mereka saling berkomunikasi satu sama lain dengan sonar dan mengenali lingkungan baru. Tapi dalam beberapa kasus, seperti terlalu bernafsu mencari ikan kecil hingga ke perairan dangkal berakibat mereka lupa bahwa daerah tersebut merupakan dangkal. Akibatnya mereka terjebak dalam waktu lama, tak jarang banyak dari ikan paus yang harus merenggang nyawa.

Penanganan ikan paus yang terdampar

Sejumlah warga dan tim khusus bekerja keras mengembalikan gerombolan ikan paus ke perairan dangkal. Terlalu lama di perairan dangkal membuat paus kekurangan oksigen dan makanan, secara tak langsung membuat peluang hidupnya mengecil.

Sejumlah cara dapat dilakukan sebelum proses penarikan ikan paus ke perairan dalam dilakukan. Salah satunya dengan menyiram badan ikan tersebut dengan air, supaya tetap lembab pastinya. Harus dilakukan dengan ekstra hati-hati pastinya terutama dalam menarik paus ke perairan dalam.

Untuk ikan paus yang mengalami kelelahan dan luka, harus adanya tim khusus yang menangani proses perawatan paus hingga bisa melanjutkan proses migrasinya kembali. Bila dibiarkan dengan melepas ikan paus ke laut lepas, potensi bertahan hidup relatif kecil. Mengingat begitu banyak marrabahaya yang mengancamnya sebelum sampai ke lokasi migrasi.

Menjaga Alam, menjaga habitat hewan langka

Perubahan iklim bukan lagi isu yang baru, aktivitas yang menaikkan suhu bumi seakan paling cepat berpengaruh pada laut. Kini kampanye perburuan ikan paus sangat gencar, namun jumlahnya makin menyusut dari tahun ke tahun.

Faktor perubahan iklim jadi alasan kuat sejumlah biota laut termasuk paus mengalami penurunan jumlah dalam berapa tahun terakhir. Aktivitas yang mencemari dan merusak alam secara tak langsung membuat kita tak pernah melihat lagi hewan langka seperti paus menyemprotkan air dari hidungnya melakukan migrasi setiap tahunnya.

Mereka bisa saja mati karena kesulitan bertahan hidup diakibatkan terbatasnya pasokan makanan dan perubahan suhu ekstrem. Mungkin hanya bangkai mereka yang terdampar di pinggir pantai karena terjebak perubahan suhu atau diburu manusia.

Menjaga alam berarti menjadi semua elemen ekosistem di dalamnya dan fenomena langka ini tidak terjadi lagi di kemudian hari saat paus melakukan migrasi. Tetap menjaga alam dari hal terkecil, baik dan kecilnya hal yang kita lakukan berpengaruh besar pada alam sekitar.

Semoga memberikan pencerahan dan edukasi.