Syaiful Bahri
Syaiful Bahri Dosen

Kebetulan ngajar di kampus, dan ditakdirkan mencintai Juventus. Ngajar hanya kebetulan, mencintai Juventus diarahkan langsung oleh Tuhan.

Selanjutnya

Tutup

Bola Artikel Utama

TGB, Ronaldo, dan Bagaimana Seharusnya Mencintai

11 Juli 2018   10:27 Diperbarui: 12 Juli 2018   18:27 2077 1 0
TGB, Ronaldo, dan Bagaimana Seharusnya Mencintai
Ilustrasi oleh Getty Images

Sebelum Tuan Guru Bajang (TGB) memutuskan mendukung Jokowi, ia merupakan sosok sempurna yang dipuja sedemikian rupa oleh pendukungnya. Beragam pujian disematkan pada Doktor lulusan Al-Azhar, Kairo, Mesir, itu. Bahkan, ia direkomendasikan sebagai capres potensial sebagai lawan sepadan Jokowi di Pilpres 2019 nanti.

Sosok TGB adalah perpaduan antara ulama' dan umara'. Dia tak hanya mampu mengelola pemerintahan, namun juga pakar dalam hal keagamaan. Tak heran, ia dianggap sosok sempurna calon pemimpin masa depan. Namun, itu dulu. Sekarang, lain lagi.

Setelah menyatakan mendukung Jokowi di 2019 nanti, banyak di antara pemuja TGB yang mengubah sikapnya. TGB tak lagi dianggap sosok sebagaimana yang mereka puji-puja. Kealiman dalam ilmu agama yang dulu mereka sematkan, seketika dihilangkan hanya karena berbeda jalan. Begitulah puji yang disematkan manusia, ia hanyalah atribut semu yang sulit untuk bertahan lama.

Saya mengkritik pendukung TGB yang dulunya penuh puja-puji, sekarang justru sangat benci. Dalam hal yang berhubungan dengan dunia, tak boleh mencintai sesuatu secara berlebihan. Sebab kita tak akan pernah tau apa yang akan terjadi di masa depan. Terlebih dalam ranah politik. Sekarang kawan, besok bisa jadi lawan.

Namun demikian, Tuhan ternyata sangat adil. Tak perlu menunggu lama, karma akhirnya datang pada saya. Karena terlalu membenci Ronaldo, apapun yang berhubungan dengannya tidak saya suka. Saat Portugal tersisih di Piala Dunia, saya sangat bahagia. Terlebih, Ronaldo adalah sosok yang paling bertanggung jawab dalam kegagalan Juve di Liga Champions. Bagi saya, Ronaldo adalah sosok yang paling mewakili untuk dibenci.

Pindahnya Ronaldo ke klub yang saya cinta, membuyarkan semua rasa benci yang saya punya. Maka benar apa yang ditulis dalam salah satu buku yang saya baca, bahwa hakikat dari benci adalah cinta yang ternodai. Benci saya pada Ronaldo timbul karena ia telah menodai kehormatan klub yang saya cinta. Padahal, jika mau jujur, sejak dulu saya diam-diam menyukainya; menyukai kehebatan dan kemampuannya bermain sepak bola.

Kini, benci itu perlahan berubah menjadi cinta. Ronaldo bukan lagi sosok yang layak untuk dibenci, ia sosok baru yang paling mewakili untuk dicintai. Pilihannya membela Juventus adalah pintu pembuka timbulnya rasa suka saya padanya. Maka benar, memilih mencintai klub daripada pemain, merupakan pilihan yang paling tepat. Ingat, pemain itu, fana'. Sedang klub sepak bola, baqa'. Pemain boleh datang dan pergi. Sedang Juventus, abadi.

Bagaimana seharusnya mencintai?
Benar apa yang disebut dalam salah satu ungkapan sahabat Ali berikut ini: "Cintailah sesuatu yang kamu kasihi sekedarnya saja, siapa tau kelak kamu akan membencinya. Bencilah sesuatu yang kamu benci sekedarnya saja, siapa tau kelak kamu akan mencintainya."

Ungkapan ini memberi saya pelajaran bahwa dalam memilih antara cinta dan benci tidak boleh berlebihan.

Bagaimanapun, khairul umur awasatuha, sebaik-sebaik perkara adalah yang tengah-tengah, tidak ekstrem kanan atau kiri; tidak berlebihan dalam mencintai, juga tidak berlebihan dalam membenci. Memilih antara cinta dan benci untuk urusan dunia, mesti dilandasi keseimbangan dan pemikiran yang matang. Intinya, tak boleh terlalu berlebihan.

Berlebihan dalam dalam urusan politik dan sepak bola, merupakan pilihan yang tidak baik. Untuk hal yang berhungan dengan dunia, cintai dan bencilah sewajarnya. Cukup Tuhan yang dicintai dengan sempurna. Kalaupun harus mencintai makhluk-Nya, bangun cinta itu atas cinta-Nya, dan tentu saja, diselimuti rida-Nya.