Syaiful Bahri
Syaiful Bahri Dosen

Kebetulan ngajar di kampus, dan ditakdirkan mencintai Juventus. Ngajar hanya kebetulan, mencintai Juventus diarahkan langsung oleh Tuhan.

Selanjutnya

Tutup

Muda

Reformulasi Pers Mahasiswa

26 September 2011   21:20 Diperbarui: 26 Juni 2015   01:35 146 0 0

Di negara demokrasi, pers merupakan instrumen penting pengontrol kekuasaan. Pers adalah pilar demokrasi keempat yang harus ada dan dijamin kebebasannya. Tanpa pers, kekuasaan akan tampil sedemikian liar tanpa bisa dikontrol oleh siapa pun.

Untuk konteks Indonesia, kebebasan pers baru bisa dirasakan pasca runtuhnya orde baru. Sebelumnya, pers masih terpasung dalam kerangkeng kekuasaan. Saat itu, gerak pers sangat dibatasi. Pemerintah mengontrol setiap gerak-gerik pers. Bila ada media pers yang berani menganggu “kenyamanan” pemerintah, maka bredel adalah konsekwensi yang mesti direrima.

Namun demikian, di tengah suasana yang pelik itu, masih ada pers yang berani melawan “arus”, bahkan tampil sedemikian garang untuk melawan rezim otoriter yang menindas rakyat. Pers Mahasiswa (Persma) adalah media pers yang mampu tampil ke permukaan untuk melawan rezim saat itu. Tak heran kemudian banyak orang yang menyebut Persma sebagai pers perlawanan.

Selain disebut pers perlawanan, Persma juga disebut pers alternatif. Disebut pers alternatif karena saat itu Persma mampu menyajikan liputan-liputan alternatif yang tak disentuh oleh pers umum. Tak jarang karena keberaniannya itu banyak Persma yang dibredel oleh Rektorat (sebagai kepanjangan pemerintah di tingkat kampus), termasuk Persma tempat sekarang saya bernaung juga pernah merasakan itu.

Jargon sebagai pers alternatif tetap melekat sampai saat ini. Di tengah kran kebebasan pers yang sudah terbuka lebar, keberadaan Persma kalah pamor dengan pers umum yang harus diakui bila kualitas terbitan dan intensitas penerbitannya melebihi Persma itu sendiri. Satu sisi, kebebasan pers memberi dampak positif. Namun di sisi lain, kebebasan pers telah menenggelamkan pamor Persma yang sempat menjadi pioner di masa lalu.

Romantisme sejarah yang sering digembar-gemborkan oleh aktivis Persma (termasuk saya tentunya), mesti segera dikubur dalam-dalam. Saat ini, hal mendesak yang harus dilakukan adalah merumuskan kembali jargon pers alternatif. Dengan memaknai ulang makna alternatif diharapkan Persma akan kembali bangkit. Karena bagaimana pun, Persma adalah kawah candra dimuka tempat menempa calon-calon penjaga peradaban pers masa depan.

Dari alternatif isu ke alternatif output

Harus jujur diakui bila saat ini Persma memang sedang mengalami problem pelik. Hampir di semua Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) di berbagai kampus mengalami masalah serupa: dari kaderisasi hingga produk penerbitan.

Masalah kaderisasi menjadi salah satu problem krusial. Konteks saat ini sangat berbeda dengan konteks saat Persma mengalami masa keemasannya. Bila dulu berkecimpung di Persma dianggap sebagai sesuatu yang prestisius, saat ini banyak mahasiswa yang enggan berkecimpung dan berorganisasi, termasuk berkecimpung di Persma. Persma sudah tak seprestisius dulu, sekarang banyak mahasiswa yang memilih menjadi akademisi an sich. Keadaan ini diperparah dengan kebijakan kampus yang cenderung membatasi ruang gerak aktivitas mahasiswa.

Produk penerbitan menjadi problem paling krusial yang mendesak dicari formula penyelesaiannya. Problem dalam penerbitan terletak pada kualitas dan intensitasnya. Untuk kualitas memang lebih bersifat subjektif. Karena berkualitas tidaknya sebuah hasil penerbitan lebih ditentukan oleh penilaian pembaca terhadap hasil penerbitan itu. Menilai kualitas hasil penerbitan Persma harus dibedakan dengan pers umum. Bagaimana pun Persma dikelola oleh mahasiswa yang masih belajar menjadi pelaku pers. Sedangkan pers umum dikelola oleh orang-orang yang sudah profesional.

Dilihat dari intensitas terbitan, Persma sering disebut sebagai media pers yang terbit berkala, kala terbit dan kala tidak. Sebutan ini bukan tanpa alasan. Karena kenyataanya, masalah intensitas menjadi masalah besar yang sulit dihilangkan. Molornya penerbitan Persma bisa disebabkan oleh beberapa hal. Dari kinerja yang amburadul hingga ketersediaan dana yang tak memadai.

Namun problem di atas bukanlah alasan untuk membuat Persma mati tanpa karya. Sampai kapan pun, Persma tetap diperlukan untuk mencetak calon-calon penjaga peradaban pers masa depan. Pun demikian, Persma tak boleh diam saja apalagi membiarkan keterpurukan yang terjadi. Persma harus bangkit dan kembali menjadi episentrum yang memproduksi ide-ide segar perubahan.

Kualitas dan intensitas memang sulit berjalan beriringan. Namun bila harus memilih antara memprioritaskan kualitas dan intensitas, maka saya lebih memilih memprioritaskan intensitas. Karena bagaimana pun, kualitas lahir dan terbentuk dari intensitas, bukan sebaliknya.

Apa yang menjadi kegelisahan dalam tulisan ini hanya berdasarkan apa yang penulis lihat dan rasakan selama berkecimpung di dunia Persma. Tentu, pengalaman setiap individu berbeda. Dan bisa saja setiap orang mempunyai kesimpulan yang berbeda bila ditanya tentang problem-problem yang melilit Persma saat ini. Namun yang jelas, untuk saat ini, Persma memang sedang butuh penyegaran agar sebutan sebagai pers alternatif juga pers perlawanan bisa tetap disematkan.

Hidup Persma!.