Iwan Permadi
Iwan Permadi karyawan swasta

a freelance tv creative

Selanjutnya

Tutup

Transportasi Pilihan

Bus Malam antara Jantung Copot atau Cepat Sampai

9 Juni 2018   20:30 Diperbarui: 9 Juni 2018   20:45 615 0 0
Bus Malam antara Jantung Copot atau Cepat Sampai
kompasiana-bus-malam-5b1bd337ab12ae406a654492.jpg

Pengalaman sebelumnya naik bus malam cepat dari Jakarta ke Malang membuat saya memberanikan diri lagi untuk menemani ibunda tercinta yang telah berusia sepuh (hampir 80 tahun) untuk menaiki salah satu armada bus malam terkenal yang mempunyai kantor di dekat Terminal Kampung Rambutan, Jakarta Timur.

Memahami pergi saat bulan Ramadan akan sangat berat karena akan menguras tenaga, namun semangat untuk menyekar makam kerabat dan bersilaturahmi dengan keluarga dekat di kota sejuk itu seperti menjadi kekuatan untuk mengenyahkan perasaan takut dan lelah tersebut.

Kami berdua pergi pada Minggu, 03 Juni 2018, dan sesuai jadwal kami menggunakan kendaraan transit ke Stasiun Kampung Rambutan sebelum langsung menuju kota tujuan. Bus besar keren yang berisi maksimal 30 orang penumpang itu berangkat pada pukul 13:30 dan berhenti hanya di dua tempat pemberhentian untuk rehat makan dan selebihnya diisi dengan perjalanan yang "luar biasa" seperti "journey ala backpacker".

Bus dengan dengan inisial "GH" dan berwarna hijau ini berbeda dengan bus malam yang pernah saya gunakan sebelumnya yang rada teratur dan santun, karena bus GH ini bukan hanya ngebut tapi juga rada "ngawur" karena seperti dikejar-kejar untuk segera sampai ke tempat tujuan. Seingat saya sopir yang bekerja "hanya" satu orang karena kalaupun ada cadangannya, ada perbedaan dalam cara mengendarainya, namun bisa saja saya salah, tapi begitulah nyaris tidak ada perbedaan dari perjalanan yang berlangsung selama 16-17 jam tersebut. Lucunya "energi" sopir itu tidak ada lelahnya dan terus "on" hingga akhir perjalanan jelang kota Malang (entah konsumsi apa ini sopir). Dengan kecepatan tinggi dan tidak ikuti aturan jarak dengan kendaraan di depannya sehingga hampir menabrak truk pengangkut ayam, sementara jalan yang dilaluinya hanya cukup untuk dua mobil dan untuk kendaraan bermotor pada sebelah kiri.

Alhasil kendaraan mengerem mendadak dan hampir menabrak kendaraan didepannya, sehingga kami penumpang harus terkaget-kaget dan hampir menubruk bangku didepannya (kami duduk di bangku kedua dibelakang sopir). Saya gusar sekali melihat ibu saya hampir saja terluka dan saya sempat marah dan menyindir sang sopir, tapi sepertinya si sopir ada di "alam lain" dan sudah terbiasa dengan kebiasaan ngebutnya dan mungkin saja sudah menjadi pakem dan sop (standard operation procedure) untuk menjalankan bus malam ini.

Sebenarnya ngebut di jalan yang lengang tidak ada masalah namun entah mengapa cara ngebut bus ini yang mengambil dari sebelah kanan dan sebelah kiri, jelas tidak aman bagi  bus itu sendiri dan kendaraan lain.

Pukul 06 pagi kami sampai di  Malang di SPBU depan terminal Arjosari, dan dengan muka masam saya turunkan bagasi saya dan saya melihat raut muka ibu saya yang juga tidak "happy". Sambil menyumpah-nyumpah dalam hati  "saya tidak akan pernah naik bus malam ini lagi". Pengalaman yang mudah-mudahan pembaca artikel ini tidak alami karena ini jelas pengalaman buruk dan nggak banget!Dengan tiket jelang lebaran yang lebih dari Rp.420 ribu, saya pikir ini tidak seimbang dengan pelayanan yang disediakan.  

Namun cerita ini hanya pengalaman pribadi yang mungkin berbeda dengan pengguna bus malam lainnya karena sepertinya penumpang lain menikmati tayangan video dangdut dan hiburan video lain lewat layar televisi kecil didepan tempat duduknya,dan sepanjang perjalanan banyak yang tertidur lelap. Ya bus malam memang punya penggemar sendiri, hanya sayang saya telah berpindah hati untuk tidak naik bus malam lagi. Tobat!

Anda perlu waktu, kami perlu uang...benar sih...tapi kami juga perlu aman dan nyaman.