Mohon tunggu...
Istudiyanti Priatmi
Istudiyanti Priatmi Mohon Tunggu... Fortiter in re, suaviter in modo (Claudio Acquaviva, SJ)

Pendonor darah sukarela dan terdaftar sebagai pendonor kornea mata. Founder KRESZ-KRESZ INDONESIA (Green Juice, Sayur Hidroponik, Bloom and Grow POC). Lulusan Magister (S2) Hukum Bisnis UI, S1 Fakultas Ekonomi UI dan Tarakanita. E-mail: v.istudiyanti.priatmi@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Tebar Hikmah Ramadan Pilihan

Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus, Mengapa Harus Malu?

17 April 2021   07:41 Diperbarui: 17 April 2021   12:43 646 4 0 Mohon Tunggu...

Saat masa kehamilan putra saya, Matthew, di tahun 1998-1999 tidak pernah terbersit memiliki anak berkebutuhan khusus.  Semua kebutuhan terbaik ibu hamil dan menyusui, saya penuhi termasuk majalah khusus pun berlangganan, juga membeli tape recorder mungil untuk memutar musik klasik dan menempelkan ke perut buncit saya.  Musik klasik terus bergema di rumah kami, berharap calon bayi memiliki kecerdasan di atas rata-rata sebagaimana rujukan yang saya baca kala itu. 

Saya konsultasi dan melahirkan secara caesar, karena bayi sungsang, di RS Bunda, Menteng dengan dokter spesialis kandungan yang bagus.  Tes APGAR putra kami 10 artinya sempurna. Karena saya berkarier kala itu, maka saya rekrut babysitter dari yayasan terbaik dan termahal di Jakarta.  Saat pindah ke Balikpapan, babysitter pun turut kami dan mendampingi putra saya mulai usia 0 hingga 10 tahun.

Memang saya didiagnosis mengidap toksoplasma akibat banyak memelihara kucing saat gadis dan oleh dokter sudah diberikan aneka obat.  Kelak saat ada keinginan memiliki anak kedua, ternyata hasil tes TORCH tertinggi diidap ayahnya dan dokter tidak menganjurkan kami memiliki anak kedua hingga hasil tes benar-benar bersih, kami tes hingga 3 kali dan nihil.   Kala itu kami berdua harus rutin meminum aneka obat anti virus.  Kelak kemudian kami bercerai.  

Awal mengetahui adanya perbedaan putra saya dengan anak sebayanya adalah di usia 1 tahun lebih beberapa bulan.  Saat pindah ke Balikpapan di tahun 2000, anak saya kehilangan fungsi bicara sama sekali. Lantas saya pun berkonsultasi pada psikolog. 

Didiagnosia terlambat bicara dan diterapi.  Terapi rutin saya sudah lakukan untuk mengejar segala keterlambatannya atas anak seusianya.  Banyak orang mengatakan agar bersabar, nanti juga bicara sendiri dan lain-lain kalimat yang meredakan rasa gelisah saya, dan kelak kalimat ini bukan kalimat terbaik.  Care dan perhatian orang tua atas perkembangan anak itu yang terbaik.

Seiring bertambahnya usia anak, saya semakin risau manakala orang-orang mulai mencibir di belakang saya, bahkan ayahnya pun menyalahkan saya, dikritik karena kesibukan saya atau mengapa rekrut babysitter yang pendiam sekali dan lain sebagainya.  Salah satu penyebab perceraian kami, antara lain malunya mantan suami memiliki anak berkebutuhan khusus dan berbeda dengan anak-anak para temannya.  Kami sering bertengkar urusan anak, suami selalu menyatakan percuma menyekolahkan anak dari play group hingga SMA mahal dan les ini-itu.  Ia lupa, meski ABK anak juga punya perasaan dan emosi.  Perasaan ingin diakui dan berguna.

Di sela-sela masa terapi, anak saya bergonta-ganti psikolog dengan aneka diagnosa mulai dari autisme, asperger, ADHD hingga keterbelakangan mental dan IQ di bawah normal.  Saya tetap menyekolahkan putra saya di sekolah terbaik yang sesuai dengan penghasilan kami dan didampingi babysitter yang sudah bekerja lebih dari 10 tahun bersama Matthew.  Matthew pun saya kursuskan les piano sejak usia 2 tahun, selain les mata pelajaran sekolah plus terapi bersama guru yang saya datangkan ke rumah kami.  Bermain piano membuat motorik halusnya terlatih bagus, awalnya ia tidak bisa menggenggam erat.  Piano akustik melatih motorik halusnya dengan cepat.  Seminggu sekali saya ajak Matthew dan susternya berenang, konon berenang bagus untuknya.

Saat kenaikan kelas 5 SD, saya disidang di depan para guru sekolah dasar favorit agar pindah dari SD tersebut, bila dalam waktu 3 bulan tidak dapat mengejar keterlambatan pelajaran bersama para temannya yang normal.  SD tersebut malu bila ada 1 siswa yang tidak lulus ujian nasional dan akan mencemarkan nama SD favorit tersebut.  Usaha saya merayu beberapa guru mata pelajaran agar mengajar privat putra saya nihil, mereka menggeleng.  Saat itu saya sudah diceraikan suami dan babysitter pun ikut resign, sementara kisruh pasca perceraian seolah tidak henti mendera saya.

Saya diterima di program S2 Magister Hukum UI di tahun 2012 dan di Desember 2012 Matthew saya bawa pindah ke Jakarta,  saya sekolahkan di SD Homeschooling Kak Seto, satu-satunya sekolah yang mau menerima ABK pindahan dari Kaltim tanpa surat-surat dan rapor.  Beberapa minggu kemudian surat pindah dan rapor dikeluarkan SD favorit itu ditujukan kepada HSKS.  Sungguh saya tak habisnya bersyukur.

Meski ABK putra saya memiliki ketrampilan memijat yang bagus, mengedit foto di komputer dan membantu saya memetik sayur hidroponik bahan green juice produksi usaha mikro saya.  Hasil kerjanya cepat dan fokus.  Ia pun sangat rajin berdoa dan selalu mengingatkan saya untuk berdoa.  Di antara banyak kekurangannya, ia memiliki kelebihan yang tidak saya miliki,  saya yang mengklaim diri normal.  Putra saya adalah penyempurna saya, meski banyak yang mencibir, bahkan menghina terang-terangan atas segala keterlambatan putra saya.  Termasuk keluarga besar sendiri.  Well, Indonesia memang belum ramah ABK.    

Dokpri
Dokpri
Bila donor darah, saya pun beberapa kali ajak putra saya melihat prosesnya dan ia sudah 2 kali ikut mendonorkan darah.  Putra saya pun telah saya ajak daftarkan diri sebagai pendonor kornea mata kelak bila kami meninggal dunia.  Saya ingin kami bermanfaat bagi sesama dengan aneka cara yang dapat kami lakukan, tidak melulu harus dengan uang.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN