Mohon tunggu...
Inspirasiana
Inspirasiana Mohon Tunggu... Full Time Blogger - Kompasianer Peduli Literasi dan Edukasi

Bagikan tulisan hak cipta kami dalam bentuk artikel Kompasiana. Kami ingin menerbitkan bunga rampai karya dan mendukung taman baca di penjuru tanah air. KRewards sepenuhnya untuk dukung cita-cita literasi. * IG: inspirasianakita * FB: inspirasiana.kita * Twitter: @InspirasianaKi1 * inspirasianakita@gmail.com

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Tiga Cara Meringankan Derita Orang Sakit Jiwa yang Dipasung di Kampung-kampung

6 Desember 2021   10:14 Diperbarui: 6 Desember 2021   10:19 177 27 5
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Lihat foto
Orang dipasung - Kompas/Markus Makur

Pengalaman bertugas di sebuah pulau di luar Jawa membuat mataku terbuka akan kenyataan pahit. Di kampung-kampung, masih ada penderita sakit jiwa yang dipasung. 

Menurut data Human Right Watch, di Indonesia diperkirakan ada sekitar 57 ribu orang yang dipasung karena stigma sosial. Jumlah pasti sulit didapat karena sulitnya akses ke pelosok Nusantara ini. Belum lagi, ada kelompok warga dan keluarga yang sengaja menyembunyikan pasungan dari pantauan orang luar. 

Bagaimana edukasi agar penderita sakit jiwa tak lagi dipasung di kampung-kampung pelosok Nusantara? Inilah kisah nyataku dan langkah yang bisa kita lakukan.

Kakak-beradik penderita sakit jiwa

Tono dan Tini, sebut saja demikian, adalah kakak-beradik penderita gangguan sakit jiwa. Usia mereka sekitar 35-40 tahun. Sehari-hari mereka dirawat oleh ayah mereka yang sudah lama menduda. 

Tono sebenarnya sempat menjalani hidup normal sebagai petani gurem. Akan tetapi, suatu hari dia tiba-tiba mengamuk. Dua warga kampung dilukainya sehingga warga memutuskan untuk memasung Tono. Menyusul kakaknya, Tini, yang sudah lama dipasung karena suka mengganggu ketenteraman kampung.

Stigma kutukan

Tono dan Tini adalah anak kedua dan ketiga dari empat bersaudara. Satu saudara mereka, sebut saja Tondo, sudah meninggal saat lepas dari pasungan dan tenggelam di sungai beberapa tahun silam.

Hanya adik bungsu, sebut saja Sari, yang sehat. Sari bekerja sebagai guru di kampung lain. Masyarakat kampung setempat menganggap, si Sari selamat dari kutukan karena dia tinggal di kampung lain. 

Seandainya Sari tetap tinggal di kampung, dia pasti juga akan jadi gila dan pasti akan dipasung juga seperti tiga saudara kandungnya. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Kesehatan Selengkapnya
Lihat Kesehatan Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
VIDEO PILIHAN
LAPORKAN KONTEN
Alasan