Mohon tunggu...
Inspirasiana
Inspirasiana Mohon Tunggu... Kompasianer Peduli Literasi dan Edukasi

Bagikan tulisan hak cipta kami dalam bentuk artikel Kompasiana. Kami ingin menerbitkan bunga rampai karya dan mendukung taman baca di penjuru tanah air. Artikel di akun ini semoga kelak dapat dibukukan. KRewards sepenuhnya untuk dukung cita-cita literasi. https://linktr.ee/inspirasiana * IG: inspirasianakita * FB: inspirasiana.kita * Twitter: @InspirasianaKi1

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Mengurai Jati Diri Manusia dalam Fenomena "Belalak"

18 Februari 2021   07:11 Diperbarui: 18 Februari 2021   07:35 202 24 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Mengurai Jati Diri Manusia dalam Fenomena "Belalak"
Ilustrasi Belalak (Dokumentasi Pribadi)

Ilustrasi belalak di atas memperlihatkan warga yang sedang mengadakan ritual adat pati pada lokasi makam leluhur yang termakan api saat musim bakar ladang. Adat pati dapat menjadi cerminan dari jati diri manusia sebagai makhluk spiritual. Mensyukuri alam sebagai anugerah Petara Nan Agung dan memanfaatkannya dengan bijaksana, penuh hormat dan beradat. 

Belalak. Bukan Balala. Balala merupakan ritual adat dalam suku Dayak Kanayatn untuk memohon kepada Jubata agar terhindar dari bencana dan malapetaka.

Belalak sendiri adalah bahasa kami suku Dayak Desa. Istilah ini diartikan sebagai sebuah kondisi di mana seseorang merasa belum terpuaskan baik secara lahiriah/jasmaniah maupun secara batiniah/rohaniah. Setiap sub suku Dayak pasti memiliki istilahnya tersendiri seturut bahasanya masing-masing.

Untuk sedikit membantu kita memahaminya, saya akan memberikan sebuah contoh dari pengalaman pribadi saya. Tahun 2014 saya mendapat tugas perutusan ke paroki Ambalau, Keuskupan Sintang, Kalimantan Barat. Tentu saja saya menyambut dengan gembira hati tugas perutusan tersebut.

Namun, ada satu hal lain lagi yang membuat saya begitu gembira, yakni mengetahui kalau untuk sampai ke paroki Ambalau saya harus menggunakan speed boat. Saya sangat gembira karena ini akan menjadi pengalaman pertama dalam hidup saya menempuh perjalanan sekitar 6-7 jam menggunakan speed boat.

Sebuah perjalanan yang cukup melelahkan tentunya. Namun, rasa lelah itu telah dikalahkan oleh semangat saya yang begitu menggebu-gebu untuk menyusuri sungai Melawi menggunakan speed boat. Setelah sampai di tujuan, saya tetap saja masih merasa belum puas. Karena itu, dalam perayaan misa hari Minggu saya mengatakan kepada umat kalau saya masih belalak naik speed boat.

Belalak: Bukan tentang Manusia sebagai Makhluk yang Tak Pernah Puas

Dari kehidupan sehari-hari komunitas adat suku Dayak Desa sendiri ada beberapa contoh yang bisa diambil untuk semakin memperjelas pemahaman tentang belalak. Dari dunia kehidupan bayi, misalnya. Saat bayi menangis setelah selesai menyusu atau setelah bangun tidur, oleh masyarakat setempat situasi demikian dinamakan dengan belalak.

Contoh lain lagi ialah dalam hal makan. Ketika seseorang baru selesai makan, lalu masih ada butiran nasi menempel di dagunya, misalnya, oleh mereka yang melihatnya, orang itu akan dikira masih belalak makan.

Dari realitas hidup sehari-hari di mana istilah ini sering digunakan, saya berani menyimpulkan kalau istilah ini mengandung makna yang positif. Dengan kata lain, fenomena belalak tidak hendak menunjukkan bahwa manusia itu adalah makhluk yang tak pernah puas.

Memang, saat seseorang berada pada kondisi belalak ada sesuatu yang belum terpuaskan. Akan tetapi, hal ini kemudian tidak berarti orang tersebut akan melakukan apa saja demi memuaskan hasratnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
  4. 4
  5. 5
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x