Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Regional

AIDS di ‘Kota Hujan’ Bogor: Penyangkalan dengan ’Kambing Hitam’ Penduduk Luar Kota

15 Oktober 2011   00:05 Diperbarui: 9 Maret 2018   06:48 196 0 0
AIDS di ‘Kota Hujan’ Bogor: Penyangkalan dengan ’Kambing Hitam’ Penduduk Luar Kota
Ilustrasi (Sumber: kanglaonline.com)

Penyangkalan merupakan salah satu faktor yang mendorong penyebaran HIV melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, secara horizontal di masyarakat.

Lihat saja pernyataan dalam berita “Seribuan Warga Bogor Pengidap HIV” (www.republika.co.id, 14/10-2011) ini: Menurut Ketua Forum Kota Sehat Kota Bogor, Abdul Karim, pengidap HIV di Bogor cukup mengkhawatirkan. Hal ini karena Bogor merupakan kota tujuan wisata yang banyak didatangi penduduk luar kota.

Pernyataan Abdul itu jelas mitos (anggapan yang salah) dan merupakan salah satu bentuk penyangkalan terhadap perilaku berisiko penduduk Bogor.

Apakah Abul bisa menjamin bahwa tidak ada satu pun laki-laki dewasa penduduk Bogor yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan perempuan yang berganti-ganti atau dengan perempuan yang sering berganti-ganti pasangan, seperti pekerja seks komersial (PSK) langsung atau PSK tidak langsung, di Kota Bogor atau di luar Kota Bogor?

Kalau jawabannnya YA, maka pernyataan Abdul Karim bisa diterima karena pendatanglah yang menularkan HIV kepada penduduk Bogor. Berarti penduduk Bogor yang terdeteksi HIV dengan faktor risiko hubungan seksual melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan pendatang.

Kalau jawabannya TIDAK, maka persoalan besar ada di depan mata Pemkot Bogor karena akan terjadi penyebaran HIV secara horizontal di masyarakat dengan mata rantai laki-laki ‘hidung belang’.

Dikabarkan berdasarkan data Riset Kesehatan Nasional tahun 2006-2011 kasus kumulatif HIV/AIDS di Bogor mencapai 1.328 dengan 58 kematian.

Menurut Kepala Bidang Penanggulangan dan Pencegahan Penyakit Lingkungan, Dinas Kesehatan Kota Bogor, Edi Dharma, penyebaran virus HIV di Bogor didominasi penggunaan jarum suntik pemakai narkoba. Selain itu seks bebas juga turut memberi kontribusi terhadap besarnya jumlah pengidap HIV di Kota hujan ini.

Jika berpijak pada pernyataan Abdul, maka kasus HIV/AIDS yang terdeteksi pada penduduk Bogor terjadi karena mereka melakukan ’seks bebas’ dengan pendatang.

’Seks bebas’ merupakan terminologi yang ngawur bin ngaco karena kalau ’seks bebas’ diartikan melacur, maka tidak ada kaitan langsung antara ’seks bebas’ dengan penularan HIV. Penularan HIV melalui hubungan seksual (bisa) terjadi di dalam dan di luar nikah jika salah satu dari pasangan tsb. mengidap HIV dan laki-laki tidak memakai kondom setiap kali sanggama.

Sedangkan Kepala Seksi Promosi Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Barat, Tuti Sutinarah, mengatakan mayoritas pengidap HIV di Jawa Barat berusia 25-40 tahun. Usia tersebut menurut Tuti menunjukan kebanyakan pengidap HIV ada pada usia produktif.

Pernyataan Tuti ini pun menohok remaja karena tidak ada ada penjelasan mengapa kasus HIV/AIDS banyak terdeteksi pada rentang usia tsb.

Kasus HIV/AIDS pada remaja banyak terdeteksi di kalangan penyalahguna narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya) karena mereka wajib menjalani tes HIV jika hendak masuk rehabilitasi.

Sebaliknya, tidak ada mekanisme yang konkret untuk mendeteksi HIV di kalangan dewasa sehingga kasus HIV/AIDS pada kalangan dewasa banyak yang terdeteksi di masa AIDS. Kasus terdeteksi ketika mereka berobat ke rumah sakit dengan keluhan penyakit yang terkait dengan HIV/AIDS. *** [Syaiful W. Harahap] ***