Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Lainnya - Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Rekam Jejak Thamrin Dahlan untuk Mendorong Literasi di Indonesia

15 Agustus 2022   08:06 Diperbarui: 15 Agustus 2022   08:12 115 10 1
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi. (Foto: Dok Pribadi/Syaiful W. Harahap)

Thamrin Dahlan, 70 Tahun Rekam Jejak Literasi YPTD Dahlan Iskan dan Kawan-kawan, YPTD, Jakarta, 2022.

Sosok Thamrin Dahlan (TD) di dunia literasi Indonesia mencuat sejak dia memberikan ruang bagi penulis, pada mulanya bagi Kompasianer (penulis di blog atau platform Kompasiana.com) tapi terus berkembang seiring dengan kian masifnya situs terbitkanbukugratis.com yang dikembangkan Yayasan Pusaka Thamrin Dahlan (YPTD).

Bermula dari menerbitkan buku berupa kompilasi tulisan di Kompasiana, yang disebut TD buku sebagai 'mahkota' seorang penulis, TD sudah menerbitkan 49 buku yang berisi kompilasi tulisan.

Dengan semboyan 'menerbitkan buku dengan ISBN gratis' YPTD terus berjuang menyebarkan gaung literasi dengan menerbitkan ratusan judul buku dari puluhan blogger. Sampai Juli 2022 YPTD sudah menerbitkan 350 judul buku. "Kita konsekuen dan konsisten menyerahkan dua eksemplar setiap judul buku ke Perpusnas (Perpustakan Nasional-pen.)," kata TD.

Serahkan buku terbitan YPTD nomor bukti ke Perpusnas di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat,  bersama beberapa penulis, Juni 2022. (Foto: Dok YPTD)
Serahkan buku terbitan YPTD nomor bukti ke Perpusnas di Jalan Salemba Raya, Jakarta Pusat,  bersama beberapa penulis, Juni 2022. (Foto: Dok YPTD)

Setiap kali menyerahkan nomor bukti yang merupakan kewajiban penerbit yang diatur UU, TD juga mengajak penulis buku dan penulis di YPTD (di Google disebut pengarang) ke Perpusnas. "Ya, hitung-hitung sebagai Kopdar (kopi darat-pen.)." Ini tanggapan beberapa penulis yang sering ikut TD ke Perpusnas.

Di awal kemunculan YPTD semboyan 'mahkota penulis' jadi ikon yang dikejar-kejar penulis dan blogger, ketika itu di Kompasiana. Maklum, mengurus ISBN (International Standard Book Number) yang menjadi pengenal sebuah buku di kancah perpustakaan dunia dan proses lay-out buku gratis.

Baca juga: 10 Tahun Berkiprah di Kompasiana, Thamrin Dahlan Hasilkan 30 "Mahkota"

Dengan menyumbang seikhlasnya, biaya cetak 5 eksemplar buku Rp 250.000, penulis memperoleh 1 buku dari 5 buku yang dicetak (2 untuk Perpusnas dan 2 dokumentasi YPTD). Master lay-out jadi milik penulis.

Dalam perjalanan kepenulisannya TD di awal peluncuran YPTD sudah menerbitkan 30 'mahkota' atau buku. Sampai Juli 2022 TD menerbitkan 50 buku.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
Mohon tunggu...

Lihat Konten Sosbud Selengkapnya
Lihat Sosbud Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!

Video Pilihan

LAPORKAN KONTEN
Alasan