Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Pengidap HIV/AIDS Terbanyak di Karawang adalah PSK

28 Agustus 2018   00:45 Diperbarui: 28 Agustus 2018   00:51 959 1 1
Pengidap HIV/AIDS Terbanyak di Karawang adalah PSK
Ilustrasi (Sumber: hivdoctorspune.com)

"Mayoritas yang kena HIV/AIDS adalah para pekerja seks komersial (PSK)." Ini dikatakan oleh Staf Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Karawang, Awan Gunawan dalam berita Pengidap HIV/AIDS di Karawang Bertambah 51 Orang (spiritnews.co.id, 3/8-2018).

Jumlah kumulatif kasus HIV/AIDS di Kab Karawang, Jawa Barat, sejak tahun 1992 sampai Mei 2018 dilaporkan 898. Namun, perlu diingat bahwa jumlah yang dilaporkan (898) hanyalah kasus yang terdeteksi, sedangkan jumlah kasus yang sebenarnya di masyarakat tidak diketahui.

Data yang disampaikan Awan ini tidak dikembangkan oleh wartawan. Celakanya, sebagai orang yang berkecimpung di KPA Awan juga tidak memberikan penjelasan tentang apa yang akan terjadi dan bagaiman hal itu terjadi terkait dengan data yang dia sampaikan terkait AIDS pada PSK.

Sayang wartawan tidak bertanya jumlah PSK yang mengidap HIV/AIDS di Karawang sehingga tidak ada data terkait jumlah PSK pengidap HIV/AIDS. Namun, terlepas dari jumlah riil ada beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh masyarakat, yaitu:

Pertama, ada laki-laki yang menularkan HIV/AIDS ke PSK. Dalam kehidupan sehari-hari laki-laki ini bisa seorang suami, duda, lajang atau perjaka. Mereka ini jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat. Yang beristri akan menularkan HIV ke istrinya dan PSK, sedangkan yang tidak beristri akan menularkan HIV ke pasangan seksualnya atau PSK.

Kedua, ada laki-laki yang berisiko tertular HIV dari PSK pengidap HIV/AIDS. Dalam kehidupan sehari-hari laki-laki ini bisa seorang suami, duda, lajang atau perjaka. Mereka ini jadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat. Yang beristri akan menularkan HIV ke istrinya dan PSK, sedangkan yang tidak beristri akan menularkan HIV ke pasangan seksualnya atau PSK.

Ketiga, PSK yang mengidap HIV/AIDS tidak bisa dikenal dari fisiknya karena tidak ada gejala-gejala khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan orang-orang yang mengidap HIV/AIDS.

Keempat, jika setiap malam seorang PSK melayani 3 laki-laki hidung belang tanpa kondom, maka bisa dibayangkan jumlah laki-laki yang berisiko tertular HIV dari PSK pengidap HIV/AIDS selama PSK itu tetap buka 'praktek'.

Kelima, laki-laki yang tertular HIV dari PSK tidak menyadari dirinya mengidap HIV/AIDS karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan. Akibatnya, tanpa sadar mereka menularkan HIV ke pasangan seksualnya.

Nah, lima hal di atas tidak muncul dalam berita sehingga berita itu tidak berguna bagi masyarakat karena tidak ada informasi yang terkait dengan cara-cara penularan dan pencegahan HIV/AIDS.

Disebutkan oleh Awan: " .... diantaranya ibu-ibu rumah tangga yang tertular dari suaminya yang sering melakukan seks bebas."

Lagi-lagi staf KPA yang seharusnya menyampaikan fakta tapi ini menyebarkan mitos (anggapan yang salah). Kalau yang dimaksud Awan seks bebas adalah zina, khususnya dengan PSK, maka pernyataan itu ngawur karena tidak ada kaitan seks bebas dengan penularan HIV melalui hubungan seksual.

Penularan HIV melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (seks bebas), tapi karena kondisi hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, jika salah satu atau dua-duanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki mengidap HIV/AIDS.

Langkah penanggulangan HIV/AIDS? Ini pernyataan Awan: "Kita berusaha mencegah agar warga jangan tertular, kita juga berharap elemen masyarakat bisa tahu bahaya HIV/AIDS."

Tapi, bagaimana caranya Pak Awan?

Tidak ada penjelasan dalam berita sehingga berita ini tidak mendorong masyarakat mengubah perilaku seksual yang berisiko. Itu artinya insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi, terutama pada laki-laki dewasa,  melalui hubungan seksual tanpa kondom dengan PSK.

Mereka yang terular jadi mata rantai penyebaran HIV bagaikan 'bom waktu' yang kelak bermuara pada 'ledakan AIDS'. *