Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

AIDS di Bali, Pernyataan Pengelola Program AIDS yang Mencengangkan

5 Juli 2018   10:56 Diperbarui: 5 Juli 2018   11:00 566 0 0
AIDS di Bali, Pernyataan Pengelola Program AIDS yang Mencengangkan
Ilustrasi (Sumber: india.curejoy.com)

Cara berpikir Pengelola Program Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Bali, Yahya Anshori, ini benar-benar mencengangkan bahkan kontra produktif untuk penanggulangan epidemi HIV/AIDS di Indonesia.

Disebutkan oleh Ansori dalam berita Mencengangkan, 75 Persen Penderita HIV/AIDS di Bali, Usia Produktif di radar.jawapos.com/baliexpress (1/7-2018): dari 18.000 kasus HIV/AIDS Bali, .... 75 persennya adalah kelompok usia 15-39 tahun yang merupakan kelompok usia yang masih produktif. "Yang mencengangkan malah 75 persen adalah usai produktif."

Pernyataan Anshori itu tidak masuk akal saya karena dia sebagai pengelola program di institusi penanggulangan HIV/AIDS. Secara empiris kasus HIV/AIDS pada usia 15-39 tahun adalah orang-orang dengan tingkat libido seks yang tinggi. Itu artinya mereka harus menyalurkan dorongan seksual melalui hubungan seksual karena tidak ada substitusi dorongan seksual selain hubungan seksual. Bisa juga dengan onani dan masturbasi, tapi ini tidak menuntaskan hasrat seksual pada usia itu

Lalu, apanya yang mencengankan Tuan Anshori?

Libido seks pada usia 15-39 adalah hal yang alamiah dan ini kabar gembira karena mereka ada dalam kondisi yang sehat. Bayangkan kalau pada usia itu libido seks ada di titik nadir. Ini baru jadi masalah dan mencegangkan, Tuan Anshori.

Kalau mau, maaf, cari sensasi atau bikin sensasi tolonglah jangan mempermainkan kasus HIV/AIDS karena pemahaman terhadap HIV/AIDS pada sebagian besar orang masih diselimuti mitos (keyakinan atau gagasan yang dipegang luas namun salah),

Sampai sekarang banyak kalangan yang selalu mengait-ngaitkan penularan HIV/AIDS dengan zina, seks menyimpang, homoseksual, pelacuran, dll. Padahal, penularan HIV melalui hubungan seksual bukan karena sifat hubungan seksual (zina, seks menyimpang, seks bebas, homoseksual, dll.), tapi karena kondisi pada saat terjadi hubungan seksual di dalam dan di luar nikah (salah satu atau keduanya mengidap HIV/AIDS dan laki-laki tidak pakai kondom). Ini fakta dan bukan fakta baru.

Kalau saja Tuan Anshori mau memakai pola ini: mengapa banyak kasus HIV/AIDS pada usia 15-39 tahun, dan bagaimana HIV menular kepada mereka di usia 15-39 tahun tentulah penjelasan HIV/AIDS melalui berita tsb. akan lebih berguna dalam upaya penanggulangan HIV/AIDS. Soalnya, berita sensasi tidak akan pernah menjadi agent of change yang efektif dalam upaya mengajak masyarakat lebih peduli untuk menanggulangi epidemi HIV.

Dalam berita disebutkan: Virus HIV/AIDS menyerang kekebalan tubuh seseorang yang terinfeksi dan penyebarannya sendiri dapat melalui kontak fisik melalui darah, jarum suntik, transfusi darah bahkan dari ibu kepada anak yang dikandungnya.

Pertama, HIV sebagai virus tidak menyerang sistem kekebalan tubuh orang yang terinfeksi HIV. Sebagai retrovirus HIV menggandakan diri di sel-sel darah putih orang yang terinfeksi HIV dengan menjadikan sel darah putih sebagai 'pabik' untuk memproduksi virus (HIV) baru yang jumlanya miliran copy per hari. Nah, virus-virus yang baru itu pun menjadikan sel darah putih sebagai 'pabri'. Begitu seterusnya. Akibatnya, banyak sel darah putih yang rusak. Pada satu kondisi sampailah ke masa AIDS (secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV).

Kedua, kontak fisik melalui darah tidak akurat karena hal ini hanya bisa terjadi kalau ada darah pengidap HIV/AIDS yang terpapar ke tubuh orang. Penularan bisa terjadi kalau ada luka-luka mikroskopis di kulit orang yang terpapar darah.

Di bagian lain Ashori mengatakan: "Remaja adalah usia yang sangat rentan terpapar AIDS, untuk itu mari tingkatkan kepedulian, tingkatan edukasi kepada masyarakat, bersama-sama kita tanggulangi dan cegah penyebaran HIV/AIDS."

Kerentanan terkait dengan HIV/ADS bukan karena usia tapi perilaku seksual orang per orang. Pernyataan ini lagi-lagi mendorong stigma (cap buruk) dan diskriminasi (perlakuan berbeda) kepada remaja.

Seperti dijelaskan di atas bagi remaja dan usia sampai 39 tahun dorongan seksual sangat kuat. Maka, yang perlu disampaikan kepada mereka adalah cara-cara yang riil mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual karena penyaluran libido hanya melalui hubungan seksual.

Ada pula pernyataan Adi Narendra, Wakil Ketua Forum Remaja Bali yang berada di bawah naungan Kisara Bali. Menurut Adi, remaja merupakan kelompok usia yang sangat memegang peran penting dalam upaya pencegahan penyakit HIV/AIDS.

Mustahil mereka (remaja) bisa mencegah agar mereka tidak tertular HIV jika mereka tidak dibekali dengan cara-cara yang konkret untuk mencegah penularan HIV melalui hubungan seksual. Buktinya, data yang disampaikan Anshori tentang 75 persen kasus HIV/AIDS justru terdeteksi pada kelompok umur 15-39 tahun menunjukkan mereka tidak mengetahui cara-cara melindungi diri agar tidak tertular HIV, terutama melalui hubungan seksual.

Disebutkan orasi Adi Narendra meminta agar pemerintah dapat menyusun program-program yang sejalan dengan kebutuhan para remaja dan remaja dapat dilibatkan dalam program tersebut.  

Kalau yang dimaksud ada pemeirntah adalah pemeirntah pusat, itu artinya Adi 'ketinggalam kereta' karena sudah 20 tahun Indonesia ada di era otonomi daerah sehingga urusan HIV/AIDS ada di provinsi, kabupaten atau kota.

Lagi pula bagaimana remaja ikut berperan, wong mereka sendiri tidak mengetahui cara melindungi dari dari risiko tertular HIV.

Ya, memang sejak awal epidemi HIV/AIDS yang terjadi hanya orasi moral yang menyuburkan mitos yang pada akhirnya hanya menjungkirbalikkan akal sehat. Akibatnya, banyak orang yang tidak tahu cara melindungi dari agar tidak tertular HIV. Itu artinya insiden infeksi HIV baru akan terus terjadi yang pada gilirannya akan mendorong penyebaran HIV di masyarakat, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah, sebagai 'bom waktu' menuju 'ledakan AIDS'. *