Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Di Wonogiri Penularan HIV/AIDS Terjadi pada Usia 10-19 Tahun

30 Mei 2018   05:11 Diperbarui: 30 Mei 2018   05:34 888 1 0
Di Wonogiri Penularan HIV/AIDS Terjadi pada Usia 10-19 Tahun
Ilustrasi (Sumber: onhealth.com)

" .... yang perlu mendapat perhatian saat ini adalah dimana jumlah penderita AIDS lebih banyak daripada penderita HIV saat ditemukan sehingga terlambat dalam pengobatan." Ini pernyataan Kepala DKK (Dinas Kesehatan Kabupaten) Wonogiri, Jateng, Adhi Dharma (timlo.net, 8/5-2017).

Kasus kumulatif HIV/AIDS di Wonogiri dari tahun 2001-2017 tercatat 388. Dari jumlah ini 215 laki-laki dan 173 perempuan. Jika ditambah dengan kasus yang terdeteksi tahun 2018, maka jumlahnya mencapai 418. Kasus-kasus ini terdeteksi pada usia 20-40 tahun. Disebutkan oleh Adhi: "Proporsi kasus AIDS terjadi pada kelompok penduduk usia 20-40 tahun. Ini mengimplikasikan bahwa terjadinya transmisi dan penularan AIDS terjadi dalan kurun waktu lima sampai sepuluh tahun sebelumnya atau pada usia 10-19 tahun."

Pernyataan Adhi tidak sepenuhnya tepata karena setiap orang yang terdeteksi mengidap HIV  tidak ototmatis (harus) minum obat antitretroviral (ARV). Setelah tes HIV dengan hasil positif dilanjutkan dengan tes CD4. Jika hasil tes CD4 menunjukkan angka di bawah 350 sesuai dengan anjuran Badan Kesehaan Dunia (WHO) segera diberikan obat ARV agar penggandaan HIV di dalam darah ditekan.

Sayang, Adhi tidak menyebutkan apakah warga yang terdeteksi HIV di masa AIDS (secara statistik masa AIDS terjadi antara 5-15 tahun setelah tertular HIV) sudah dengan penyakit, disebut infeksi oportunistik, seperti diare, TBC, dll. Soalnya, infeksi oportunistik inilah yang menyebabkan kematian pada pengidap HIV/AIDS di masa AIDS. Tidak disebutkan jumlah pengidap HIV/AIDS yang sudah meminum obat ARV.

Ktika seseorang terdeteksi HIV di masa AIDS itu artinya ybs. sudah tertular HIV antara 5-15 tahun sebelumnya. Dalam kurun waktu ini bisa saja ybs. sudah menularkan HIV kepada orang lain, terutama melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah. Ini bisa terjadi karena orang-orang yang mengidap HIV/AIDS tidak bisa dikenali dari fisik mereka karena tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS.

Tapi, biar pun tidak ada gejala-gejala yang khas AIDS pada fisik dan keluhan kesehatan, mereka bisa menularkan HIV ke orang lain.

Jika kasus HIV/AIDS di Wonogiri terdeteksi pada kelompok usia 20-40 tahun berarti ada penularan HIV uang terjadi pada pengidap pada umur 10-15 tahun. Mereka ini usia sekolah di SMP. Dalam berita tidak ada informasi tentang faktor risiko (cara penularan HIV/AIDS).

Adhi mengeluhkan tidak ada relawan dan LSM yang peduli HIV/AIDS sehingga penjangkauan, terutama ke kelompok-kelompok tertentu, tidak bisa dilakukan. Pihak DKK tentu saja tidak bisa masuk ke kelompok tertentu, seperti kalangan waria, pekerja seks komersial (PSK), dan homoseksual.

Di beberapa daerah banyak kasus HIV/AIDS terdeteksi karena penjangkauan yang aktif ke kelompok-kelompok tsb. Dalam hal ini DKK bisa saja mementuk kelompok relawan, bukan WPA (warga peduli AIDS), yang menjangkau kelompok tertentu. Sedangkan untuk memberdayakan pengidap HIV/AIDS bisa dilakukan melalui kelompok dukungan sebaya (KDS).

Selain membentuk kelompok relawan dan KDS pihak Pemkab Wonogiri, dalam hal ini DKK, perlu merancang program penanggulangan yang riil yang langsung menyasar akar persoalan terkait dengan penularan HIV. Misalnya, kalau faktor risiko terbanyak memalui hubungan seksual dengan PSK, maka perlu intervensi terhadap laki-laki 'hidung belang' agar memakai kondom setiap kali seks dengan PSK.

Tanpa program yang riil insiden infeksi HIV baru, terutama pada laki-laki dewasa, akan terus terjadi. Selanjutnya mereka ini sebagaijadi mata rantai penyebaran HIV/AIDS tanpa mereka sadari sebagai 'bom waktu' yang kelak bemuara pada 'ledakan AIDS'. *