Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Cegah Penyebaran HIV/AIDS melalui Wanita Penghibur yang Mudik

16 Mei 2018   14:28 Diperbarui: 17 Mei 2018   01:11 2539 3 1
Cegah Penyebaran HIV/AIDS melalui Wanita Penghibur yang Mudik
Ilustrasi (Sumber: bc.ctvnews.ca)

Memasuki bulan puasa dan menjelang lebaran biasanya cewek-cewek yang bekerja di tempat-tempat hiburan di kota-kota besar akan pulang kampung. Ini bisa dimanfaatkan dalam penanggulangan HIV/AIDS.

Dengan menjalin kerja sama antara daerah-daerah asal cewek-cewek penghibur dengan daerah tempat mereka bekerja bisa dilakukan survailans tes HIV yang dilanjutkan dengan tes HIV. 

Atau langsung dilakukan tes HIV tapi harus taat asas yaitu menjalankan standar prosedur tes HIV yang baku, yaitu: konseling sebelum dan sesudah tes HIV, persetujuan (informed consent), hasil tes hanya diberikan kepada ybs.

Jika hasil tes positif petugas dari daerah asal cewek penghibur mendampingi mereka dengan memberikan berbagai informasi tambahan agar mereka tidak melakukan perilaku yang bisa menularkan HIV di daerahnya. 

Bagi yang mempunyai suami diberikan bimbingan agar tidak menularkan ke suami. Tentu saja suami cewek itu pun harus diadvokasi juga agar siap menerima istrinya dengan kondisi mengidap HIV/AIDS (Baca juga: PSK Mudik Lebaran: Ada yang Bawa AIDS sebagai Oleh-oleh).

Yang perlu diperhatikan adalah informasi tentang status HIV cewek tidak boleh bocor agar tidak menimblkan kegaduhan di kampung halaman cewek-cewek itu. Hanya konselor atau petugas dari daerah asal cewek itu saja yang mengetahui status HIV cewek penghibur yang mereka dampingi.

Pemprov Riau pernah membuat gaduh Karawang, Jawa Barat, ketika mengirimkan hasil survailans tes HIV terhadap pekerja seks komersial (PSK) adal Karawang di beberapa lokasi pelacuran di sana (tahun 1990-an).

Entah bagaimana informasi tentang 4 (empat) PSK asal Karawang yang dipulangkan bocor ke wartawan. Maka, rumah 4 PSK itu pun diserbu wartawan dan petugas dari berbagai instansi Pemkab Karawang dan Pemprov Jabar.

Yang tidak masuk akal berita tentang 4 PSK itu tersebar luas dengan bumbu-bumbu moral, tapi 4 PSK itu justru belum sampai ke rumahnya. 

"Saya bingung, Pak. Anak saya ditulis di koran macam-macam padahal dia masih di Riau," kata seorang penduduk Cibuaya, Karawang.

Begitu juga dengan salah satu dari 4 PSK itu. "Saya tidak pernah diwawancarai wartawan, kok bisa-bisanya berita tentang saya ditulis," kata perempuan warga Tempuran, Karawang.

Keluarga dua perempuan itu benar-benar jadi objek banyak kalangan sehingga mereka menderita lahir dan batin. Keluarga perempuan Cibuaya berpindah-pindah karena terus-menerus jadi sasaran amukan warga dan kejaran wartawan. (Baca juga: Media Massa Menceraiberaikan Keluarga Kartam*).

Sedangkan perempuan di Tempuran jadi sapi perahan banyak kalangan. Ketika dia meninggal pun keluarga menghadapi masalah (Baca juga: Sudah Terinfeksi HIV Disakiti Pula* dan Derita Panjang Seorang Odha).

Maka, kalau ada daerah asal cewek-cewek penghibur yang menjalin kerja sama untuk melakukan tes survailans HIV atau tes HIV dengan daerah tempat cewek-cewek itu bekerja kerahasiaan harus dijamin agar tidak menimbulkan dampak buruk.

Mumpung masih ada rentang waktu sebelum terjadi eksodus pulang kampung, masih ada kesempatan menjalin kerja sama antara daerah asal cewek-cewek penghibur dan daerah tempat cewek-cewek itu bekerja.

Keuntungan dalam hal penanggulangan HIV/AIDS bukan hanya untuk daerah adal cewek-cewek penghibur, tapi juga tempat mereka bekerja. Pemerintah di daerah tempat cewek-cewek itu bekerja mempunyai data tentang jumlah cewek pengibur yang terdeteksi mengidap HIV/AIDS sehingga bisa dijalankan langkah-langkah konkret untuk penanggulangan.

Pemerintah daerah tempat cewek-cewek penghibur itu bekerja bisa melakukan penyuluhan secara luas dengan materi data cewek penghibur yang mengidap HIV/AIDS. Masyarakat luas diingatkan bagi yang pernah melakukan hubungan seksual dengan cewek penghibur untuk menjalani tes HIV secara sukarela.

Sedangkan di daerah asal cewek-cewek penghibur itu bisa 'direm' melalui pendampingan agar tidak melakukan perilaku berisiko yang bisa menularkan HIV.

Dengan kondisi penyebaran HIV yang sudah terjadi di seluruh Nusantara dengan estimasi kasus kumulatif 620.000 (aidsdatahub.org), maka diperlukan langkah-langkah konkret yang luar biasa untuk menanggulangi penyebaran HIV agar tidak jadi 'ledakan AIDS'. *