Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Pemuda Ini Was-was Kena AIDS Setelah Seks Pertama Kali dengan PSK

11 Maret 2018   15:56 Diperbarui: 11 Maret 2018   16:15 1215 0 0
Pemuda Ini Was-was Kena AIDS Setelah Seks Pertama Kali dengan PSK
Ilustrasi (Sumber: theconversation.co)

Tanya Jawab AIDS No3./Marei 2018

Pengantar. Tanya-Jawab ini adalah jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan yang dikirim melalui surat, telepon, SMS, dan e-mail. Jawaban disebarluaskan tanpa menyebut identitas yang bertanya dimaksudkan agar semua pembaca bisa berbagi informasi yang akurat tentang HIV/AIDS. Tanya-Jawab AIDS ini dimuat di: kompasiana.com/infokesprodan "AIDS Watch Indonesia" (http://www.aidsindonesia.com). Yang ingin bertanya, silakan kirim pertanyaan ke Syaiful W. Harahap, melalui: (1) Telepon (021) 8566755, (2) e-mail: aidsindonesia@gmail.com, (3) SMS 08129092017, dan (4) WhatsApp:  0811974977. Redaksi.

*****

Tanya: Saya baru pertama melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) dengan kondisi saya tidak memakai kondom. Setelah 2 hari melakukan hubungan seksual itu badan saya mejadi lemas dan cepat mengantuk, (1) Apakah itu gejala HIV? (2) Dimana kita bisa memdapatkan obat profilaksis? (3). Kalau baru 8 hari dari perilaku berisiko apakah penularan HIV bisa dicegah? (4) Gejala paling awal bisanya butuh berapa bulan pasca seks berisiko? (5) Katanya beresiko HIV 1:100, jadi masih mungkin nggak tertular kan? (6). Apakah kemungkinan tertular pada saya besar?

Via WA (15/10-2017)

Jawab: (1) Tidak ada tanda-tanda, gejala-gejala atau ciri-ciri yang khas pada fisik dan keluhan kesehatan yang khas terkait HIV/AIDS pada seseorang yang tertular HIV. Silakan ke dokter karena banyak penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dengan kondisi laki-laki tidak pakai kondom. Misalnya, kencing nanah/GO, raja singa/sifilis, virus hepatitis B, klamdia, virus kanker serviks, dll.

(2) Profilaksis hanya untuk pencegahan darurat yang dipakai oleh tenaga medis jika tertusuk jarum suntik yang dipakai pasien dan terpapar darah pasien.

(3) Begitu HIV masuk dalam tubuh virus ini akan langsung menggandakan diri di sel darah putih dengan jumlah miliaran copy setiap hari. Maka, begitu tertular HIV tidak ada lagi cara-cara medis yang bisa mematikan atau mengeluarkan virus dari darah.

(4) Lihat jawaban nomor 1. Kalau pun kelak ada gejala itu terjadi di masa AIDS, secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV. Gejala juga tidak khas AIDS hanya karena ybs. diketahui mengidap HIV/AIDS maka penyakit tersebut dikaitkan dengan HIV/AIDS yang disebut infeksi oportunistik.

(5) Bukan 'katanya', tapi teori yang dipublikasina oleh WHO (Badan Kesehatan Sedunia PBB). Yang perlu diingat adalah tidak bisa diketahui pada hubungan seksual yang keberapa terjadi penularan. Bisa yan pertama, kedua, kelima, ketiga puluh, kesembilan puluh sembilan atau yang keseratus. Artinya, setiap hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pengidap HIV/AIDS selalu ada risiko penularan pada setiap hubungan seksual.

Kalau status HIV pasangan tidak diketahui, maka setiap hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, selalu ada risiko penularan HIV.

(6) Risiko tertular HIV melalui perilaku berisiko bukan besar atau kecil, tapi selalu ada risiko jika hubungan seksual, di dalam dan di luar nikah, dilakukan tanpa kondom dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan seseorang yang sering berganti-ganti pasangan, seperti PSK, selalu ada risiko penularan HIV. *

disclaimer-5aa4f0b0f13344150922c023.jpg
disclaimer-5aa4f0b0f13344150922c023.jpg