Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Artikel Utama

Risiko Penularan HIV/AIDS Bukan karena Sifat Hubungan Seksual

21 November 2016   08:18 Diperbarui: 21 November 2016   09:34 0 1 1 Mohon Tunggu...
Risiko Penularan HIV/AIDS Bukan karena Sifat Hubungan Seksual
Ilustrasi. penyakithivaids.com

"Ada dua perilaku berisiko yang paling harus dihindari: penggunaan nartkotika, jenis apapun. Kedua, aktivitas seksual di luar nikah. Itu yang paling prioritas," kata Arif Rahman, volenteer senior dari YAI. Ini ada dalam berita “Pengidap HIV/AIDS Kebanyakan Cowo. Yuk, Tangani Bersama, Bro” (hai-online.com, 17/11-2016).

Koleksi Pribadi
Koleksi Pribadi
Duh, ‘hari gini’ masih saja ada volunteer dan wartawan yang pengetahuan dan pemahamannya terhadap HIV/AIDS ada di titik nadir. Dari pernyataan di atas ada beberapa hal yang menyesatkan, yaitu:

Pertama, disebutkan “ .... perilaku berisiko yang paling harus dihindari: penggunaan narkotika, jenis apapun.” Ini jelas ngawur karena risiko penularan HIV melalui (penyalahgunaan) narkoba (narkotika dan bahan-bahan berbahaya) jika narkoba tsb. dipakai dengan jarum suntik secara bersama-sama dengan bergiliran memakai jarum suntik dan tabungnya. 

Ini berisiko karena kalau salah satu dari mereka mengidap HIV/AIDS, maka yang lain berisiko tertular HIV karena dalam darah di jarum suntik ada HIV. Kalau menyuntik narkoba dengan jarum dan tabung yang steril tidak ada risiko penularan HIV.  Narkoba yang diisap, ditelan dan dihirup tidak ada risiko penularan HIV karena alat-alat yang dipakai tidak bisa menyimpan darah.

Kedua, disebutkan “ .... perilaku berisiko yang paling harus dihindari: “ .... aktivitas seksual di luar nikah.” Ini benar-benar pernyataan yang menyesatkan karena penularan HIV melalui hubungan seksual bisa terjadi bukan karena sifat hubungan seksual (di luar nikah, zina, melacur, selingkuh, dll.) tapi karena kondisi hubungan seksual (salah satu mengidap HIV/AIDS dan suami atau laki-laki tidak memakai kondom setiap kali melakukan hubungan seksual).

Media massa (media cetak, elektronik dan online) berperan dalam penanggulangan HIV/AIDS, tapi kalau informasi yang disampaikan ke masyarakat tidak akurat, maka berita tsb. justru menyesatkan sehingga masyarakat tidak mengetahui informasi yang benar tentang HIV/AIDS.

Padahal, ‘vaksin’ AIDS adalah informasi. Artinya, seseorang yang sudah mengetahui cara-cara penularan dan pencegahan yang akurat akan terhindar dari HIV/AIDS. Tapi, ketika informasi yang sampai ke masyarakat justru yang tidak akurat itu artinya informasi tsb. menyesatkan dan merugikan masyarakat karena tidak bisa melindungi diri agar tidak tertular HIV/AIDS.

Ini pernyataan di lead berita: Kalau dilihat dari sejarahnya, HIV itu pertama kali masuk ke Indonesia pada 1987. Seorang turis dari Belanda lah yang pertama kali membawanya, ke Bali. Setelah itu, HIV/AIDS terus merambah. Sampai kini, Yayasan AIDS Indonesia mengklaim bahwa HIV sudah ditemukan di seluruh propinsi di Indonesia.

Wartawan yang menulis berita ini jelas tidak memahami epidemi HIV/AIDS dengan benar. Turis Belanda itu hanya dua bulan di Bali. Lagi pula HIV tidak bisa disebarkan karena cara-cara penularannya yang sangat khas sehingga epidemi HIV/AIDS bukan wabah. Turis itu tiba Maret 1987 dan meninggal April 1987. Pada tahun 1988 ada warga negara Indonesia asli yang meninggal karena penyakit terkait AIDS. Jika dirunut maka WNI ini sudah tertular HIV jauh sebelum turis bule itu masuk ke Bali (Kapan, Sih, Awal Penyebaran HIV/AIDS di Indonesia?).

Sebelum tahun itu pun sudah ada beberapa pasien di rumah sakit di Jakarta yang terindikasi mengidap penyakit yang terkait dengan AIDS (ARC-AIDS related complex). Ini menunjukkan jauh sebelum turis Belanda itu masuk ke Bali sudah ada kasus HIV/AIDS di beberapa kota di Indonesia.

Pelatihan cara menulis berita dan reportase HIV/AIDS yang bertumpu pada ‘jurnalisme empati’ yang sekarang dikembangkan jadi ‘jurnalisme harapan’ beberapa tahun belakangan sangat jarang karena tidak ada lagi donor yang bersedia menggelontorkan dana untuk program pelatihan wartawan. Dulu ada Ford Foundation yang menyokong program jurnalisme empati di LP3Y Yogyakarta, lalu ada dana AusAID yang dijalakan HCPI yang terbatas di beberapa provinsi.

Pengalaman Thailand menunjukkan salah satu kunci keberhasilan penanggulangan HIV/AIDS di Negeri Gajah Putih itu adalah peranan media massa yang secara simultan memberitakan HIV/AIDS bersamaan dengan program pemerintah dengan skala nasional. Ini bertolak belakang dengan Indonesia, maka Indonesia tinggal menunggu waktu saja sampai terjadi ‘ledakan AIDS’. ***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x