Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Di Kota Batu, Jawa Timur: Siswa Jadi Sasaran “Tembak” Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS

21 Oktober 2016   18:50 Diperbarui: 21 Oktober 2016   18:55 0 0 0 Mohon Tunggu...
Di Kota Batu, Jawa Timur: Siswa Jadi Sasaran “Tembak” Sosialisasi Bahaya HIV/AIDS
Sumber: AIDS Watch Indonesia/Syaful W. Harahap

Ketika kasus HIV/AIDS terus terdeteksi pada ibu-ibu rumah tangga, yang disorot malah siswa. Ini terjadi di Kota Batu, Jawa Timur, seperti yang terbaca pada judul berita ini: Bahaya, 82 Persen Siswa di Kota Batu Tak Paham Bahaya HIV/AIDS (suryamalang.tribunnews.com, 19/10-2016).

Pertanyaan yang sangat mendasar adalah: Apakah kalau seseorang tahu bahaya sesuatu otomatis tidak melakukan hal yang berisiko akan terjadi bahaya tsb.?

Ternyata tidak. Buktinya, merokok berbahaya, fakta menunjukkan jutaan orang mengisap rokok. Menyalahgunakan narkoba berbahaya, tetap saja jutaan orang ‘pake narkoba’. Memakai ponsel sewaktu mengendarai motor atau mobil bahaya, data menunjukkan banyak korban kecelakaan lalu lintas justru terjadi karena sedang berponselria.

Sejak awal epidemi sudah disebarluaskan bahaya HIV/AIDS, tapi tetap saja banyak orang yang melakukan perilaku yang berisiko terjadi penularan HIV. Bahkan, tidak ada obat yang bisa menghilangkan HIV dari darah tapi banyak orang yang tetap melakukan perilaku seksual yang berisiko.

Dilaporkan kasus kumulatif HIV/AIDS di Kota Batu sebanyak 136, dengan 50 kematian (malangpagi.com, 2/11-2015).

Dalam berita disebutkan: Ketua KPAD Kota Batu, Punjul Santoso mengaku sedang mencari solusi agar siswa memahami bahaya penyakit HIV/AIDS. Semua pihak harus mengetahui dan memahami bahaya penyakit mematikan tersebut.

Apakah semua kalangan dewasa sudah mengetahui bahaya penyakit HIV/AIDS? Ya dan tidak. Yang jelas penyebaran HIV dari suami ke istri terus terjadi. Sayang, dalam berita tidak ada data tentang jumlah kasus kumulatif HIV/AIDS dan kasus HIV/AIDS pada ibu rumah tangga.

Disebutkan “ .... bahaya penyakit mematikan tersebut.” Ini keliru karena HIV atau AIDS tidak menyebabkan kematian pengidap HIV/AIDS. Kematian pada pengidap HIV/AIDS terjadi karena penyakit-penyakit yang muncul pada masa AIDS (secara statistik antara 5-15 tahun setelah tertular HIV), disebut infeksi oportunistik, seperti diare, TBC, dll.

Jika disimak gambar di atas, maka yang perlu ditangani bukan siswa atau remaja tapi kalangan dewasa karena mereka ini mempunyai pasangan tetap dan pasangan tidak tetap. Yang beristri akan menularkan HIV ke istrinya secara horizontal dan ada pula risiko penularan dari ibu-ke-bayi yang dikandungnya kelak secara vertikal.

Yang perlu dilakukan Dinkes Kota Malang dan KPAD Kota Malang adalah intervensi terhadap laki-laki dewasa dan remaja atau siswa yang melakukan hubungan seksual dengan pekerja seks komersial (PSK) berupa mewajibkan mereka memakai kondom setiap kali terjadi hubungan seksual.

Tapi, bisa saja Dinkes dan KPAD bisa saja berkelit: Di Kota Batu tidak ada pelacuran!

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x