Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Ekonomi Pilihan

Menggenjot Kunjungan Wisatawan ke Indonesia dengan “Gerakan Budaya Bersih dan Senyum”

9 Oktober 2016   16:07 Diperbarui: 9 Oktober 2016   16:41 78 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menggenjot Kunjungan Wisatawan ke Indonesia dengan “Gerakan Budaya Bersih dan Senyum”
Ilustrasi (Sumber: banjarmasin.tribunnews.com)

Pariwisata merupakan salah satu sektor yang nyaris tidak terpengaruh ketika resesi menyelimuti dunia. Pariwata pulalah, seperti dikatakan oleh Presiden Joko Widodo (Jokowi) merupakan sektor yang paling banyak menyerap tenaga kerja dibanding sektor lain (kompas.com, 21/8-2016).

Maka, amatlah beralasan kalau kemudian Pemerintah, dalam ini Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman (Kemenko Maritim), mendorong kunjungan wisatawan, tertama wisatawan mancarnegara, ke Indonesia dengan dukungan program “Gerakan Budaya Bersih dan Senyum”(GBBS) yang dicanangkan tanggal 19 September 2015. Peringkat daya saing pariwisata Indonesia di kawasan ASEAN ada di awah Singapura, Malaysia dan Thailand (Lihat: Tabel I) Secara global peringkat Indonesia di posisi 50. Bandingkan dengan Singapura 11, Malaysia 25 dan Thailand 35.

tabel-1-57fa0884d993733718c33949.jpg
tabel-1-57fa0884d993733718c33949.jpg
 Bali and The Beyond

Posisi Indonesia itu memberikan sinyal bahwa perlu ada gerakan massal untuk menaikkan peringkat. Pariwisata Indonesia mempunyai kekuatan berdasarkan keunggulan beberapa objek wisata, tapi banyak faktor yang tidak menunjuang keunggulanga tsb., seperti sarana dan prasarana serta keamanan. Kemenko Maritim pun mengajak kompasianer (blogger yang tergabung dalam kompasiana.com) untuk mengajak masyarakat menyukseskan “GBBS” yang ditandai dengan acara Kompasiana Nangkring bersama Kementerian Koordinator Bidang Kemaritimandengan tema “Gerakan Budaya Bersih dan Senyum” di Jakarta, tanggal 9/9-2016. 

Nangkring menghadirkan pembicara dari Kemenko Maritim yaitu (1) Dr. Ir. Safri Burhanudin, DEA, Deputi Bidang Sumber Daya Manusia, Iptek, dan Budaya Maritim, (2) Dra. Musyarafah Machmud, M.A., Wakil Ketua Satgas GBBS dan Ketua Dharma Wanita, dan (3) Dr. Rima Agristina, Tim Satgas GBBS.

ilus-blog-maritim-57fa081bae92736639cceef3.jpg
ilus-blog-maritim-57fa081bae92736639cceef3.jpg
Dalam pemaparan dan tanya jawab tergambar kendala-kendala yang dihadapi dalam meningkatkan sikap terkiat “GBBS” sehingga diperlukan dukungan dari berbagai kalangan, al. kompasianer yang diharapkan bisa menebarluaskan program “GBBS” ke semua lapisan masyarakat.

Pemerintah telah mencanangkan Indonesia sebagai ‘poros maritim’ dunia karena negeri ini dikenal sebagai negara dengan belasan ribu pulau sehingga bisa disebut negara kepulauan terbesar di dunia. Ini jadi modal utama dalam mengembangkan pariwisata. Hanya dengan meningkatkan rasa bangga sebagai negara maritim yang bisa menjadikan aset ini jadi modal bagi pariwisata nasional.

Soalnya, dengan kondisi yang terjadi salam ini tidak mengherankan kalau kemudian ternyata 4 dari 5 lokasi wisata atau daerah tujuan wisata (DTW) yang paling banyak dikunjungi berdasarkan studi Tripadvisor ada di Pulau Bali, yaitu 1 Ubud, 2 Seminyak, 3 Sanur dan 5 Nusa Dua. Di luar Bali ada Jakarta di peringkat ke-4 (dw.com, 17.03.2015).

Itu artinya DTW lain, termasuk 10 DTW baru yang dicanangkan Presiden Jokowi harus berbenah agar bisa menarik wisatawan mancanegara. Selama ini selain Bali yang didengung-dengungkan adalah ‘Bali and the Beyon’, al. Lombok di Nusa Tenggara Barat (NTB) gugusan pulau di timur Pulau Bali dengan semboyan "You can see Bali in Lombok, but you cann’t see Lombok in Bali.”

Fakta menunjukkan siasat itu tidak berhasil karena banyak faktor. Dalam kaitan inilah upaya Kemenko Maritim menggalang budaya bersih dan sesungging senyuman jadi aktual karena akan memberi warna baru bagi wisatawan nusantara dan menacanegara. Dengan bahasa lain Presiden Jokowi mengatakan perlu perubahan kultur masyarakat karena pada dasarnya masyarakat harus mampu melayani wisatawan yang datang ke kawasan DTW.

Kultur yang dimaksud Presiden Jokowi dengan ‘perubahan kultur masyarakat’ bukan berarti mengubah budaya, tapi kebiasaan sebagai orang yang selama ini tidak mendukung iklim yang baik bagi wisatawan nusantara dan mancanegara. Untuk itulah Presiden Jokowi berharap tokoh-tokoh masyarakat dan agama serta pemuka adat sebagai informal leader yang dihargai masyarakat berperat aktif.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN