Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Blogger

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan Pilihan

Bukan LGBT, Tapi Heteroseksual Penyebar HIV/AIDS yang Potensial

7 Maret 2016   13:15 Diperbarui: 7 Maret 2016   18:30 628 1 1

 


“Rhoma Irama ikut menyuarakan penolakannya terhadap makin maraknya praktek LGBT (lesbian, gay, biseksual dan transgender). Ia mengkaitkan mewabahnya penyakit HIV di dunia saat ini dengan kemarahan Tuhan atas tumbuh suburnya para pelaku LGBT.” Ini lead di berita “Bang Rhoma Bicara Soal LGBT yang Resahkan Warga dan HIV Sebagai Azab Allah” (Wisnu Prasetiyo – detikNews, 6/3-2016).

Kesimpulan wartawan yang menulis berita ini menujukkan pengetahuannya tentang HIV/AIDS sangat rendah, hal yang sama juga pada narasumber yaitu Rhoma Irama.

Pertama, HIV bukan penyakit tapi virus yang bisa dicegah penularannya. Virus ini tidak mengenal orientasi seksual karena virus ini menular dari seseorang yang mengidap HIV ke orang lain melalui beberapa cara, al. hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Kedua, kasus AIDS pertama yang dipublikasikan memang terdeteksi pada laki-laki gay di San Fransisco, AS, 1981. Tapi, setelah WHO menetapkan HIV sebagai penyebab AIDS dan menyetujui reagen tes HIV (1983) ternyata ada darah pasien, bukan LGBT, yang disimpan di sebuah rumah sakit di Swedia yang diambil tahun 1959 mengandung HIV. Ketika kasus AIDS terdeteksi di San Fransisco pada saat yang sama juga ada kasus AIDS pada pekerja seks di pantai timur AS.

Ketiga, LGBT adalah Lesbian, Gay, Biseksual dan Transgender (waria) yang secara seksual tertarik kepada sesama jenis. Risiko penularan HIV pada gay, biseksual dan waria terjadi karena pada seks anal probabilitas penularan lebih besar daripada seks vaginal jika tidak memakai kondom.

Keempat, hubungan seksual pada Lesbian tidak ada laporan telah terjadi penularan HIV. Maka, Lesbian tidak termasuk kalangan yang disebut Rhoma Irama sebagai  ‘kemarahan Tuhan’.

Kelima, kasus HIV/AIDS pada gay, biseksual dan transgender jauh lebih sedikit daripada kasus HIV/AIDS di kalangan heteroseksual (laki-laki tertarik pada perempuan dan sebaliknya). Ini data yang dikeluarkan oleh Ditjen PP&P, Kemenkes RI, tanggal 26 Februari 2016, berupa data kasus di Indonesia sampai Desember 2015 yaitu: dari 77.112 kasus AIDS yang dilaporkan, yang terdeteksi pada homoseksual (gay dan waria) adalah 2.272 atau 2,95 persen, dan pada biseksual 390 atau 0,51 persen. Bandingkan dengan kasus AIDS pada heteroseksual 51.467 atau 66,74 persen.

Keenam, ‘tumbuh suburnya para pelaku LGBT’ tidak ada kaitannya secara langsung dengan penyebaran HIV/AIDS karena penyebaran HIV dilakukan oleh orang-orang yang mengidap HIV/AIDS kebanyakan tanpa mereka sadari.

Di bagian lain disebutkan “HIV itu kan penyakit yang menyengsarakan dan belum ada obatnya”. Nah, ini yang membuat kacau karena ketidaktahuan bahwa HIV adalah virus bukan penyakit sehingga tidak akan ada obatnya. Terhadap virus bukan obat, tapi vaksin. Belum da vaksin HIV. Virus tidak bisa dimatikan dengan obat di dalam tubuh manusia, seperti virus flu. Yang ada yaitu obat antiretroviral (ARV) yang berguna untuk menekan laju perkembangbiakan HIV di dalam darah. Setiap hari HIV berkembang biak antara 10 miliar – 1 triliun. Ini yang menyebabkan sistem pertahanan tubuh pengidap HIV/AIDS cepat rusak sehingga mudah dimasuki penyakit.

Dikatakan Rhoma Irama lagi: Ia menambahkan, perilaku LGBT bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, utamanya sila pertama.

Apakah perilaku laki-laki beristri yang selingkuh, berzina, atau melacur bertentangan dengan nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila, utamanya sila pertama?

Tampaknya, hanya hubungan seksual pada LGBT yang disoal, sedangkan seks oral dan seks anal pada suami-istri tidak diperbincangkan.

Yang perlu diingat adalah HIV/AIDS pada LGBT, khususnya gay, ada pada terminal terakhir karena kalaupun ada kemungkinan ditularkan hanya kepada kalangan gay juga.

Sedangkan pada transgender HIV akan menyebar ke laki-laki heteroseksual karena laki-laki heteroseksual yang ngeseks dengan waria selalu jadi ‘perempuan’ (dalam bahasa waria disebut ‘ditempong’). Posisi itu membuat laki-laki heteroseksual berisiko tinggi tertular HIV jika waria mengidap HIV karena waria melakukan penetrasi penis ke anus laki-laki heteroseksual (menempong). Seorang waria di Malang, Jatim, mengatakan laki-laki heteroseksual selalu mencari waria yang mau jadi ‘suami’ agar memperlakukan dia sebagai istri.

Persoalan besar ada pada laki-laki biseksual karena mereka jadi jembatan penyebaran HIV dari masyarakat ke waria dan LSL (Lelaki Suka Seks Lelaki) dan sebaliknya. Istri mereka akan menjadi tujuan penyebarn berikutnya dan berakhir pada anak yang dikandung istrinya. Sedangkan laki-laki juga berpotensi menularkan ke perempuan lain, waria, LSL dan pekerja seks.

Selama informasi tentang HIV/AIDS dibalut dengan norma, moral dan agama, maka selama itu pula fakta tentang cara-cara penularan dan pencegahan HIV tidak akan bisa diketahui banyak orang. Kondisi ini akan bermuara pada ‘ledakan AIDS’. *** [Syaiful W. Harahap – AIDS Watch Indonesia] ***