Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Sosbud

Data HIV/AIDS Semu di Kab Melawi, Prov Kalimantan Barat

5 April 2012   06:21 Diperbarui: 25 Juni 2015   07:01 191 0 0 Mohon Tunggu...

Kepala P2PL, Dinas Kesehatan Kab Melawi, Prov Kalimantan Barat, Oktavianus Naibaho, mengakui jika pihaknya tidak mendeteksi adanya penderita HIV/ AIDS di Kab Melawi pada tahun 2011 lalu. Menurutnya hal tersebut berdasarkan hasil pengecekan yang dilakukan pihaknya melalui pemeriksaan serta pengambilan sample darah pada tempat-tempat yang diangap rawan penularan penyakit HIV/AIDS. (Tahun 2011 Penderita HIV/AIDS Di Melawi Tak Terdeteksi, kalimantan-news.com, 21/3-2012).

Jika pengecekan hanya dilakukan terhadap orang-orang di ‘tempat-tempat yang diangap rawan penularan penyakit HIV/AIDS’, seperti wanita pekerja kafe, pekerja seks, dll. maka itu artinya HIV/AIDS tidak terdeteksi pada orang-orang di ‘tempat-tepat yang diangap rawan penularan penyakit HIV/AIDS’ bukan di wilayah Kab Melawi.

Kalau disebut di Kab Melawi tidak terdeteksi HIV/AIDS, maka: Apakah semua penduduk Kab Melawi sudah menjalani tes HIV?

Kalau jawabannya YA, maka pernyataan itu benar adanya. Tapi, perlu diingat hasil tes tsb. tidak berlaku selamanya. Artinya, bisa dikatakan tidak ada kasus HIV/AIDS hanya sampai pada saat contoh darah penduduk diambil. Soalnya, bisa saja setelah darahnya diambil untuk dites ybs. melakukan perilaku berisiko sehingga tertular HIV.

Kalau jawabannya TIDAK, maka tidak pula bisa dikatakan bahwa di Kab Melawi tidak ada kasus HIV/AIDS.

Berita ini menggambarkan pemahaman wartawan dan narasumber berita yang tidak komprehensif terkait dengan epidemi HIV.

Dari 59 contoh darah wanita pekerja café tahun 2011 ternyata ada delapan yang mengandung sifilis. Kalau saja wartawan yang menulis berita ini melihat kegiatan di café terkait dengan perilaku seks laki-laki, maka angka itu akan berbicara banyak di tataran realitas sosial.

Pertama, ada kemungkinan sifilis pada wanita pekerja café itu ditularkan oleh laki-laki lokal, asli atau pendatang. Ini membuktikan penduduk sudah ada yang mengidap sifilis.

Kedua, ada kemungkinan wanita pekerja café itu sudah mengidap sifilis ketika tiba di Melawi. Kalau ini yang terjadi maka laki-laki lokal, asli atau pendatang, yang melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan wanita pekerja café berisiko tertular sifilis.

Dari sisi epidemi, maka laki-laki yang menularkan sifilis ke wanita pekerja café dan laki-laki lokal, asli atau pendatang, yang tertular dari wanita pekerja café akan menjadi mata rantai penyebaran HIV di masyarakat.

Karena penularan HIV persis sama dengan penularan sifilis, maka kalau wanita pekerja café yang menularkan sifilis ke laki-laki lokal juga mengidap HIV maka bisa jadi juga terjadi penularan HIV sekaligus.

Laki-laki yang tertular HIV tidak menyadari dirinya sudah mengidap HIV karena tidak ada tanda-tanda yang khas AIDS pada fisik mereka. Akibatnya, mereka menularkan HIV kepada orang lain tanpa mereka sadari.

Dikabarkan: “Dinas Kesehatan Melawi kembali akan melaksanakan pemeriksaan terhadap wanita pekerja café serta PSK yang ada di daerah ini, meskipun anggaran untuk itu belum ada.”

Kalau sasarannya hanya wanita pekerja café, maka itu artinya penduduk yang sudah mengidap HIV/AIDS akan terus menularkan HIV kepada orang lain. Soalnya, tidak ada mekanisme untuk mendeteksi HIV pada penduduk.

Pernyataan bahwa tahun 2011 tidak terdeteksi HIV/AIDS di Kab Melawi merupkan kondisi yang semu karena tes HIV hanya dilakukan terhadap 50 wanita pekerja café.

Kondisi itu bisa menjadi bumerang karena banyak orang yang merasa aman untuk melakukan hubungan seksual tanpa kondom dengan wanita pekerja café atau pekerja seks karena pernyataan tsb.

Pada gilirannya penyebaran HIV/AIDS di Melawi kelak akan menjadi ledakan AIDS. ***[Syaiful W. Harahap]***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x