Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

"Musuh di Bawah Selimut": Penyakit Yang Ditularkan Melalui Hubungan Seksual

14 Maret 2012   06:42 Diperbarui: 25 Juni 2015   08:04 407 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
"Musuh di Bawah Selimut": Penyakit Yang Ditularkan Melalui Hubungan Seksual
13317068771481551693

Biar pun banyak jenis penyakit atau infeksi yang terkait dengan hubungan seksual, tapi hanya HIV/AIDS yang dikenal luas. Padahal, banyak penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual tanpa kondom di dalam dan di luar nikah.

Tahun 1999 WHO memperkirakan ada 340 juta kasus baru IMS yang dapat disembuhkan (sifilis, gonore, klamidia dan trikomoniasis) terjadi setiap tahun di seluruh dunia pada orang dewasa berusia 15-49 tahun. (Ini adalah data yang tersedia yang terbaru. Baru perkiraan sampai dengan tahun 2005 sedang dalam pengembangan untuk publikasi menjelang akhir 2007). Sayang, tidak ada data yang akurat tentang kasus IMS di Indonesia.

Pengendalian IMS tetap menjadi prioritas utama WHO. Majelis Kesehatan Dunia mengesahkan strategi global untuk pencegahan dan pengendalian IMS pada Mei 2006. Strategi ini mendesak semua negara untuk mengontrol transmisi IMS dengan menerapkan sejumlah intervensi yang konkret. Misalnya, sosialisasi kondom, terutama pada hubungan seksual dengan pasangan yang berganti-ganti atau dengan yang sering berganti-ganti pasangan.

Pada mulanya penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual disebut sebagai sexually transmitted diseases (STDs) yang dikenal sebagai penyakit menular seksual (PMS). Belakangan istilah pun bergeser menjadi sexually transmitted infections (STIs) yang dikenal sebagai infeksi menular seksual (IMS). Penggantian istilah ini menggambarkan bahwa tidak semua infeksi (penyakit) IMS terjadi pada alat kelamin. Misalnya, virus hepatitis B dan HIV/AIDS infeksinya terjadi di darah.

Di Indonesia penyakit-penyakit yang ditularkan melalui hubungan seksual disebut sebagai ’penyakit kelamin’. Tapi, istilah ini tidak tepat karena tidak semua penyakit yang termasuk IMS terjadi di alat kelamin. Misalnya, akibat virus hepatitis B sama sekali tidak terjadi di alat kelamin karena infeksinya terjadi di darah yang ’berakhir’ pada sirosis di hati. Begitu pula dengan HIV/AIDS, Biarpun ditularkan melalui hubungan seksual tapi infeksinya tidak terjadi di alat kelamin, tapi di darah.

IMS yang dikenal luas, al. Gonorrhea (kencing nanah), sífilis (raja singa), klamida, kankroid, trikomona, herpes genitalis, jengger ayam, kutil kelamin, dll.

Satu jenis penyakit yang termasuk IMS selalu diabaikan banyak orang adalah hepatitis B. Penularan virus hepatitis B persis sama dengan HIV, tapi orang tidak malu mengaku dirinya mengidap hepatitis B.

IMS yang tidak ‘populer’ tapi nyaris memusnahkan satu suku di Papua yaitu Granuloma inguinale (Lihat:

Beberapa di antara IMS tidak menunjukkan gejala yang khas (symptoms) sehingga orang-orang yang sudah terinfeksi atau tertular tidak menyadarinya. Akibatnya, penularan terus terjadi juga tanpa disadari.

Beberapa di antara IMS dapat disembuhkan, tapi sebagian tidak bisa diobati. Bahkan, muncul varian yang lebih ganas, seperti Vietnam rose, yang disebut-sebut berkembang pasca Perang Vietnam.

Risiko tertular IMS dapat dicegah dengan cara-cara yang realistis, yaitu menghindari hubungan seksual tanpa kondom, di dalam dan di luar nikah, dengan:

(a) yang berganti-ganti, karena ada kemungkinan salah satu dari mereka mengidap IMS atau HIV atau dua-duanya sekaligus

(b) yang sering berganti-ganti pasangan yaitu:

-pekerja seks komersial (PSK) langsung yaitu PSK yang beroperasi di lokalisasi pelacuran, rumah bordir, losmen, hotel melati, hotel berbitang, dll.

- PSK tidak langsung yaitu ‘cewek bar’, ‘cewek disko’, ‘anak sekolah’, ‘mahasiswi’, ‘cewek SPG’, ‘ibu-ibu rumah tangga’, selingkuhan, WIL, dll., serta perempuan pelaku kawin cerai

Perempuan sering tidak menyadari dirinya mengidap atau tertular IMS karena tidak tanda berupa rasa sakit atau nyeri pada alat kelamin seperti yang dialami oleh laki-laki. Biasanya, IMS pada perempuan ditandai dengan keputihan. Celakanya, perempuan sering menganggap keputihan sebagai ’penyakit perempuan’ yang bisa disembuhkan dengan ramua atau obat-obatan yang dibeli bebas di kaki lima.

Padahal, bayi yang lahir dari ibu dengan infeksi klamidia yang tidak diobati akan mengembangkan infeksi mata serius (Oftalmia neonatorum). Ini bisa menyebabkan kebutaan pada bayi jika tidak diobati dari awal. Di dunia diperkirakan antara 1.000 - 4.000 bayi yang baru lahir setiap tahun buta karena ibunya mengidap klamidia.

Begitu pula dengan perempuan hamil yang mengidap sifilis bisa menyebabkan kematian bayi yang baru lahir. Diperkirakan 14 persen dari 40 persen kematian pada kelahiran terjadi karena sifilis. (dari berbagai sumber) ***[Syaiful W. Harahap]***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x