Mohon tunggu...
Syaiful W. HARAHAP
Syaiful W. HARAHAP Mohon Tunggu... Peminat masalah sosial kemasyarakatan dan pemerhati berita HIV/AIDS

Aktivis LSM (media watch), peminat masalah sosial kemasyarakatan, dan pemerhati (berita) HIV/AIDS

Selanjutnya

Tutup

Kesehatan

Pemerintahan SBY: RS Meningkat 600 Persen, Jumlah Penduduk yang Sakit Juga Meroket

7 Agustus 2014   18:28 Diperbarui: 18 Juni 2015   04:10 0 0 0 Mohon Tunggu...
Pemerintahan SBY: RS Meningkat 600 Persen, Jumlah Penduduk yang Sakit Juga Meroket
140738601843301614

* Pemerintahan Jokowi-JK diharapkan bisa merancang jaminan kesehatan sejak menghirup udara pertama sampai menghembuskan napas terakhir

Dalam satu kesempatan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) mengatakan bahwa selama memimpin Indonesia hampir 10 tahun sudah dibangun 837 rumah sakit yang setara dengan 600 persen. Sedangkan Puskesmas disebutkan bertambah 1.960 buah atau meningkat 600 persen. Apotek bertambah 1.056 atau meningkat 400 persen. Jumlah dokter sekarang mencapai 76.523  meningkat 200 persen (detikNews.com. 15/7-2014).

Penyebab Kematian

Di satu sisi pernyataan Presiden SBY ini membelalakkan mata berupa keberhasilan infrastruktur di bidang kesehatan, tapi di sisi lain pernyataan ini membuka mata karena terkuak fakta yaitu jumlah penduduk yang menderita berbagai penyakit pun meningkat ratusan bahkan ribuan persen.

Andaikan satu rumah sakit yang baru itu rata-rata menyediakan 250 tempat tidur dengan masa rawat inap  rata-rata 7 hari, maka dalam satu tahun ada 10.881.000 pasien rawat inap baru (837 rumah sakit x 250 tempat tidur x 52).

Sektor kesehatan tidak kalah penting jika dibanding dengan sektor lain karena kesehatan merupakan salah satu kuncuk utama keberhasilan pembangunan. Berbagai penyakit di Indonesia termasuk terbesar di Asia dan dunia dan menjadi penyebab kematian tertinggi di Indonesia, yaitu:

1. Jantung Koroner. Angka kematian penderita jantung koroner di Tanah Air mencapai 7,6 juta orang per tahun (republika.co.id, 26/9-2013).

2. Tuberkolosis (TB). Kematian akibat TB di Indonesia diperkirakan mencapai 61.000 per tahun. Jumlah kasus TB di Indonesia menempatkan Indonesia pada peringkat kelima kasus terbanyak di dunia (health.kompas.com, 25/2-2011).

3. Diabetes Mellitus (Kencing Manis). . Jumlah penderita diabetes di Indonesia sebanyak 7,6 juta. Angka ini menempatkan Indonesia pada peringkat ketujuh di dunia (tempo.co, 6/9-2013).

4. Hipertensi/Tekanan Darah Tinggi. Kematian akibat mencapai 7 juta per tahun (bisnis.com, 24/3-2014)

5. Stroke. Data Perhimpunan Rumah Sakit Indonesia (PERSI) tahun 2009 menunjukkan, penyebab kematian utama di RS akibat stroke adalah sebesar 15 persen. Artinya 1 dari 7 kematian disebabkan oleh stroke dengan tingkat kecacatan mencapai 65 persen (indonesiarayanews.com, 18/2-2013).

6. Kanker. Di Indonesia tiap tahun diperkirakan terdapat 100 penderita kanker baru per 100.000 penduduk. Ini berarti dari jumlah 237 juta penduduk, ada sekitar 237.000 penderita kanker baru setiap tahun (YKI, 10/10-2013).

HIV/AIDS

7. Penyakit Paru Kronis.Kematian terkait penyakit infeksi paru dan saluran napas 33,2 persen. Jumlah kemaitan ini menjadi salah satu penyebab kematian yang mencapai 254 persen. Survei Kesehatan Rumah Tangga (SKR) tahun 1992 menunjukkan angka kesatikan TB sangat tinggi sehingga menjadi penyebab kematian nomor dua di Indonesia (www.klikpdpi.com/).

8. Diare.Di negara berkembang, termasuk Indonesia, diare merupakan penyebab kematian tertinggi pada bayi dan anak berusia 1-4 tahun. Dari Hasil Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2007 diperoleh angka bahwa kematian bayi yang terbanyak disebabkan karena diare (42 persen), sedangkan penyebab kematian anak berusia 1-4 tahun juga diare (25,2 persen). (republika.co.id, 21/5-2009).

9. Infeksi Saluran Pernafasan. Insiden pada Balita diperkirakan 0,29 episode per anak/tahun di negara berkembang dan 0,05 episode per anak/tahun di negara maju. Kasus terbanyak terjadi di India (43 juta), China (21 juta) dan Pakistan (10juta) dan Bangladesh, Indonesia, dan Nigeria masing-masing 6 juta episode. Dari semua kasus yang terjadi di masyarakat, 7-13% kasus berat dan memerlukan perawatan rumah sakit. Episode batuk-pilek pada Balita di Indonesia diperkirakan 2-3 kali per tahun (Rudan et al Bulletin WHO 2008). ISPA merupakan salah satu penyebab utama kunjungan pasien di Puskesmas (40%-60%) dan rumah sakit (15%-30%). (http://ispa.pppl.depkes.go.id/).

10. HIV/AIDS. Kasus HIV/AIDS di Indonesia, khususnya penyebaran melalui jarum suntik pada penyalahguna narkoba,  menempatkan Indonesia sebagai negara ketiga di Asia setelah Cina dan India dengan pertambahan kasus penyebaran HIV/AIDS tercepat (dari berbagai sumber). Indonesia sendiri dikategorikan sebagai negara tertinggal dalam penanganan HIV/AIDS (Lihat:  Indonesia Termasuk Negara Yang Tertinggal Dalam “Perang” Melawan AIDS - http://www.aidsindonesia.com/2014/07/indonesia-termasuk-negara-yang.html).

Selain itu ada pula virus hepatitis B. Jumlah kasus virus heptitis B di Indonesia 5-10 persen dari jumlah penduduk atau sekitar 13,5 juta jiwa, jumlah ini membuat Indonsia sebagai negara ketiga terbanyak kasus hepatitis B di Asia (detiknews.com, 22/4-2007).

Ada lagi katarak. Jumlah penderita buta katarak di Indonesia tertinggi kedua di Asia Tenggara, yakni mencapai 1,5 persen atau dua juta jiwa. Setiap tahunnya, 240.000 orang terancam mengalami kebutaan (republika.co.id, 18/3-2014).

Bukan hanya yang disebut di atas, tapi masih ada lagi yaitu kanker serviks. Dilaporkan dari 40 perempuan yang terdeteksi mengidap kanker serviks 25 di antaranya meninggal setiap (lensaindonesia.com, 14/2-2014 dan ginekologimetropole.blogspot.com)

Pemerintahan Jokowi-JK

Ada lagi penyakit yang menjadi penyebab kematian di Indonesia, yaitu malaria. Disebutkan oleh Kemenkes bahwa penderita penyakit malaria di Indonesia masih tinggi yaitu mencapai 417.819 kasus positif pada 2012. Disebutkan bahwa 70 persen kasus malaria terjadi di wilayah Indonesia Timur, terutama di Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Sulawesi dan Nusa Tenggara. Wilayah endemik malaria di Indonesia Timur tersebar di 84 kabupaten dan kota dengan jumlah penduduk yang berisiko mengiap penyakit 16 juta (voaindonesia.com, 25/4-2013).

Yang lain adalah demam berdarah. Kementerian Kesehatan menyebutkan Indonesia masih menjadi sarang kasusdemam berdarah. Hingga pertengahan tahun ini, kasus demam berdarah terjadi di 31 provinsi dengan penderita 48.905 orang, 376 di antaranya meninggal dunia.(tempo.co, 26/7-2013).

Fakta tentang jumlah penyakit yang mematikan, jumlah penderita baru, jumlah kematian menunjukkan dalam 10 tahun terakhir ini tidak ada langkah-langkah konkret untuk meningkatkan kesehatan masyarakat melalui promosi kesehatan. Yang terjadi adalah pembangunan rumah sakit (mewah) yang justru kian jauh dari jangkauan rakyat banyak.

Puskesmas yang pada awalnya dijadikan sebagai ujung tombak pembinaan masyarakat untuk berperilaku sehat agar tidak sakit (preventif) sekarang justru dari tempat berobat dan rawat inap (kuratif).

Soalnya, banyak di antara penyakit penyebab kematian tsb. erat kaitannya dengan perilaku dan kondisi lingkungan yang menjadi urusan pemerintah. Dengan langkah-langkah preventif penyakit-penyakit tsb. bisa dicegah dan dihindari.

Inilah tantangan ril bagi pemerintah Jokowi-JK, merancang program yang menjamin layanan kesehatan penuh kepada setiap orang sejak menghirup udara pertama sampai menghembuskan napas terakhir.

Kesehatan di Indonesia bukan soal neolib atau kapitalis. Di negara kapitalis justru tidak ada rakyat yang mati karena tidak mendapatkan penangangan medis seperti yang terjadi di negara kita. *** [Syaiful W. Harahap - baranews.co] ***

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x