Kesehatan

Sistem Informasi Teknologi Komunikasi (SITK) Possitron Emission Tomography

15 November 2017   13:56 Diperbarui: 15 November 2017   14:13 101 0 0

TUGAS SISTEM INFORMASI TEKNOLOGI KOMUNIKASI (SITK)

POSSITRON EMISSION TOMOGRAPHY -- COMPUTER TOMOGRAPHY SCAN 


DosenPembimbing :Ella Hayati, S.Kp., M.Pd

Disusunoleh:

Kelompok 11

Indri Emalia Putri A (344070.16053)

Moh.IipFirdaus (344070.16067)

PuputPutriRahayu (344070.16080)

TINGKAT II  

 

PROGRAM STUDI DIPLOMA III KEPERAWATAN

UNIVERSITAS SULTAN AGENG TIRTAYASA

 

2017


 

 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur saya panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayah-Nya sehingga saya dapat menyelesaikan makalah untuk tugas mata kuliah SITK "PETCT SCAN". Tak lupa pula shalawat serta salam  saya  limpahkan kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW beserta para sahabat dan keluarganya yang membawa kita dari zaman kegelapan menuju zaman terang benderang yang penuh dengan ilmu pengetahuan. Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan makalah ini masih banyak kekurangan baik dari segi teknik penulisan maupun tata bahasa yang digunakan. Oleh karena itu, penulis mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun. Semoga penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi kita semua.

 

 

 

 

 

 

                           

 

         Penulis,

 

 

 

 

 

 

 

 

 

i

DAFTAR ISI

 

KATA PENGANTAR........................................................................................i DAFTAR ISI..................................................................................................ii BAB I PENDAHULUAN....................................................................................1 1.1 Latar Belakang...............................................................................1 1.2 Rumusan Masalah............................................................................1 1.3 Tujuan Khusus.....................................................................................2 Tujuan Umum................................................................................2 1.4 Manfaat.......................................................................................2 BAB II TINJAUAN TEORI....................................................................................3 2.1.  Sejarah PET/CT.................................................................................3 2.2. Definisi PET/CT.................................................................................4 2.3. Prinsip Kerja PET/CT..........................................................................4 2.4. Aplikasi Klinik Pemeriksaan PET/CT....................................................7 2.5. Kelebihan dan Kekurangan PET/CT........................................................10 2.6. AspekKeselamatan.........................................................................10 2.7. PerkembanganTeknologi PETSCAN........................................................12 2.8. PerangkatKhusus...........................................................................14 2.9. Prinsip kerja..................................................................................14 BAB III PENUTUP............................................................................................15 3.1.  Kesimpulan....................................................................................15 3.2. Saran..........................................................................................15 DAFTAR PUSTAKA.......................................................................................16

 

 

 

 

 

Ii

BAB I PENDAHULUAN

 

1.1.  Latar Belakang  Untuk mengantisipasi masuknya teknologi Positron Emission Tomography--Scan (PETScan) di Indonesia, adalah sangat penting bagi Badan Pengawas untukmelakukan beberapa pengkajian.Seperti diketahui, PETScanmerupakan teknik noninvasive yang memanfaatkan zat radioaktif untuk mendapatkan informasi medik mengenaiorgan atau jaringan untuk keperluan diagnosis.Dengan demikian, prinsip kerja, keselamatandan mutu adalah aspek-aspekutama yang perlu dipertimbangkan dalam rangkapengembangan pengawasan Badan Pengawas atas teknik diagnosis mutakhir dalamkedokteran nuklir ini. (Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))  Pada tahun 1970an, PET hanya digunakan sebatas alat penelitian. Kemudian, pada tahun 1980an teknologi PET mengalami perkembangan, yang ditandai dengan perubahan dari sistem koinsidensi digital ke sistem pencitraan tiga dimensi. Meskipun penyebarannya belum luas, PET mulai digunakan sebagai metode pencitraan medik di rumah sakit. Dengan mulai digunakannya bahan detektor baru yang lebih sensitif, pada akhir tahun 1990an teknologi PET semakin berkembang dengan pesat. Pada tahun 2000, untuk pertama kalinya PET/CTScan diperkenalkan. Studi menunjukan bahwa perkembangan teknologi PET ini mendukung diagnosis yang lebih tepat, mutu hasil pencitraan yang lebih baik dan mempersingkat waktu pengobatan.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))  Makalah ini menyajikan pengetahuan dasar teknologi PET, antara lain mengenai prinsip kerja, aplikasi, keuntungan dan risiko, keterbatasan, keselamatan radiasi, perkembangan teknologi dan peralatan khusus PET, serta unjuk kerja. Metode dalam penyusunan makalah ini adalah dengan melakukan pengkajian pustaka.Diharapkan makalah ini dapat menjadi masukan dalam pengembangan pengawasan BAPETEN dalam bidang kedokteran nuklir.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))

 

1.2. Rumusan Masalah   Dalam penjabaran dalam makalah ini, penulis memfokuskan pada topik bahasan  yangdisebutkan pada sistematika penyajian makalah. 1

2

1.3  Tujuan Khusus Memahami prinsip kerja PET/CT  Tujuan Umum 1. Memahami prinsip kerja PET/CT 2. Mengetahui batasan dan bahaya pemakaian PET/CT 3. Memahami faktor-faktor kesalahan suatu hasil scan PET/CT 4. Menginterpretasikan data PET/CT 1.3.Manfaat  1. Manfaat bagi penulis  Penulis dapat terlatih menggabungkan hasil bacaan dari berbgai sumber, mengambil sarinya, dan mengembangkan ke tingkat pemikiran yang lebih matang. 2. Manfaat bagi pembaca  Pembaca dapat mengetahui, memahami dan mampu mengimplementasikan teori , konsep tentang karya tulis yang saya buat ini. 3. Manfaat bagi mahasiswa Mahasiswa dapat mengetahui, memahami dan menguasai tentang teori dan konsep karya tulis yang di buat serta dapat mengaplikasikannya.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB II TINJAUAN TEORI

 

2.1. Sejarah PET/CT Sejarah kedokteran nuklir kaya dengan kontribusi dari para ilmuwan berbakat di seluruhdisiplin ilmu yang berbeda dalam fisika, kimia, teknik, dan kedokteran. Sifat multidisiplin Kedokteran Nuklir membuat sulit bagi sejarawan medis untuk menentukan tanggal lahir Kedokteran Nuklir. Ini mungkin dapat menjadi yang terbaik ditempatkan di antara penemuan radioaktivitas buatan pada tahun 1934 dan produksi radionuklida oleh Oak Ridge National Laboratory untuk menggunakan obat terkait, pada tahun 1946.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))  Banyak sejarawan menganggap penemuan radioisotop buatan yang dihasilkan oleh Frdric Joliot-Curie dan Irne Joliot-Curie pada tahun 1934 sebagai tonggak paling signifikan dalam Kedokteran Nuklir. Meskipun, penggunaan awal dari I-131 dikhususkan untuk terapi kanker tiroid, penggunaannya kemudian diperluas untuk mencakup pencitraan kelenjar tiroid, kuantifikasi fungsi tiroid, dan terapi untuk hipertiroidisme.Meluasnya penggunaan klinis Kedokteran Nuklir dimulai pada awal 1950-an, sebagai pengetahuan diperluas tentang radionuklida, deteksi radioaktivitas, dan menggunakan radionuklida tertentu untuk melacak proses-proses biokimia.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))  Dalam tahun-tahun Kedokteran Nuklir, pertumbuhan adalah fenomenal.  Masyarakat Pada tahun 1960, Masyarakat mulai penerbitan Jurnal Kedokteran Nuklir,  jurnal ilmiah terkemuka untuk disiplin di Amerika. Kedokteran Nuklir dibentuk pada  tahun 1954 di Spokane, Washington, Amerika Serikat. Ada sebuah kebingungan  penelitian dan pengembangan baru dan radiofarmasi radionuklida untuk digunakan  dengan perangkat pencitraan dan untuk in-vitro.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009)) Di antara banyak radionuklida yang ditemukan untuk medis digunakan, tidak ada yang sama pentingnya dengan penemuan dan pengembangan Technetium-99m. Ini pertama kali ditemukan pada tahun 1937 oleh C. Perrier dan E. Segre sebagai unsur buatan untuk mengisi ruang nomor 43 dalam Tabel Periodik.(Kartiko, Yerridan Reno,  3

4

A(2009))  Pada 1980-an, radiofarmasi dirancang untuk digunakan dalam diagnosis penyakit  jantung. Perkembangan tomografi emisi foton tunggal, sekitar waktu yang sama,  menyebabkan rekonstruksi tiga dimensi dari jantung dan pembentukan bidang Kardiologi  Nuklir. Perkembangan lebih baru dalam Kedokteran Nuklir meliputi penemuan positron  emisi tomografi pertama pemindai (PET). Konsep tomografi emisi dan transmisi,  kemudian berkembang menjadi emisi photon tunggal computed tomography (SPECT),  diperkenalkan oleh David E. Kuhl dan Roy Edwards di akhir 1950-an. Pekerjaan mereka  mengarah pada desain dan konstruksi instrumen tomografi beberapa di University of  Pennsylvania. Teknik pencitraan tomografi telah dikembangkan lebih lanjut di  Washington University School of Medicine.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009)) Ditemukan oleh Dr Ron Nutt dan Dr David Townsend, penemuan scanner bernama PET/CT pada tahun 2000 oleh majalah Time. Pada tahun 2001, PET/CT menjadi nama produk dalam setahun oleh Frost dan Sullivan.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))   2.2. Definisi PET/CT  PET/CT adalah modalitas yang menggabungkan Positron Emission Tomography  (PET) dengan x-ray Computed Tomography (CT) dalam satu perangkat, sehingga  pencitraan dari keduanya dapat diambil secara berurutan dan hasilnya dapat digabungkan  dalam satu gambar.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))   PET/CT adalah alat diagnostik imaging medis yang paling canggih di dunia saat  ini, adalah satu-satunya teknologi yang menggunakan cara anatomi untuk melakukan  pemeriksaan imaging terhadap fungsi, metabolisme dan reseptor tubuh, dapat mendeteksi  dengan tepat tanpa melukai tubuh, berkemampuan diferensiasi dan sensitif yang tinggi  untuk memeriksa keberadaan lesi kanker yang kecil sekalipun dan deteksi dini kanker  pada stadium awal, tingkat kecermatan diagnosis mencapai di atas 90%. Pemeriksaan  PET/CT mempunyai peran penting untuk penentuan rancangan pengobatan selanjutnya.  (Kartiko, Yerridan Reno, A(2009)) 5

6

 

2.3. Prinsip Kerja PET/CT   PET bekerja berdasarkan fenomena anilihilasi dari partikel positron (+) yang  bertemu dengan partikel beta/elektron (). Positron yang dipancarkan suatu radionuklida  yang digunakan dalam PET bergerak melewati jaringan tubuh, mendisipasikan energy  kinetiknya, menangkap elektron kemudian membentuk atom positronium. Pada peristiwa  ini dihasilkan 2 foton, yang masing-masing berenergi 511 keV, hampir collinear, dan  bergerak berlawanan arah 180.

. Gambar1.Peristiwa anihilasi dalam PET

 

  Untuk pemeriksaan PET, digunakan radionuklida yang berumur paro (T1/2)  pendek.Hal ini merupakan prinsip keselamatan yang paling awal.Zat radioaktif tersebut  dicampur dengan molekul aktif metabolik (air, glukosa atau ammonia), kemudian  disuntikan ke dalam tubuh pasien, biasanya melalui bagian tangan.Setelah disuntik,  tubuh pasien  didiamkan selama selang waktu (waiting period) tertentu, sekitar 3090  menit, yang diperlukan agar radionuklida mencapai dan terdeposit (uptake) secaramerata  pada organ yang dituju, untuk akhirnya menghasilkan foton-foton anihilasi. Setelah itu  tubuh  pasien ditempatkan dalam pemindai citra (imaging scanner).(Kartiko, Yerridan  Reno, A(2009))

 


 Gambar2. Tubuh pasien ditempatkan pada imaging scanner

 

  Peralatan pemindai citra ini terdiri atas deretan detektor sintilasi, yang disusun  sedemikian rupa seperti terlihat padaGambar3.Sistem ini akan mendeteksi foton fotonhasil anihilasi yang selalu terpancar saling berlawanan arah atau dengan sudut 180,  sehingga memudahkan untuk menentukan letak sumbernya. Sumber foton berada pada  garis lintasan foton-foton ini.

 

 

Gambar3. Peralatan Pemindai Citra

   

7

8

Setelah jumlah data foton terkumpul cukup sesuai dengan rentang waktu yang   ditentukan, yaitu sekitar 3045menit, data akan dikoreksi dengan efisiensi detektor,  waktumati sistem, koinsidensi random, penyebaran, penyerapan dan ketakseragaman  pencuplikan. Kemudian computer akan mengkonversi dan merekonstruksi dengan  filteredbackprojection atau dengan cara aljabar. Hasil konversi dan rekonstruksi ini  diolah secara statistika dan ditampilkan sebagai gambar atau peta organ.Proyeksi tiga  dimensi dihasilkan dari berbagai sudut yang berbeda.Tampilan tiga dimensi lebih  memudahkan untuk mendiagnosis abnormalitas organ. Perbedaan warna atau tingkat  kecerahan pada gambar PET menunjukan tingkat fungsi organ atau jaringan yang  dimaksud. Kemudian radionuklida yang ada dalam tubuh pasien secara metabolisme akan disekresikan ke luar tubuh dalam selang waktu antara 6 sampai dengan 24 jam. (Kartiko,  Yerridan Reno, A(2009))  2.4.AplikasiKlinik Pemeriksaan PET/CT a. Bidang Onkologi  PETScan yang menggunakan radionuklida F18 (fluorodeoxyglucose/FDG, FDGPET) telah banyak digunakan dalam bidang onkologi. Radionuklida ini merupakan jenis glukosa analog yang diserap oleh sel, mengalami proses phosphorylasi oleh enzim hexokinase, serta akan ditahan (retained) oleh jaringan tubuh. Jaringan yang akanmenahan radionuklida ini memiliki aktivitas metabolik tinggi, seperti: payudara, paruparu, usus, prostat, otak, hati, dan kebanyakan jenis tumor ganas. Gambar yang diperoleh digunakan untuk: diagnosis, penentuan stadium (staging), penentuan penyebaran, pemantauan pengobatan penyakit kanker, khususnya penyakit Hodgkin, dan kanker paruparu. Untuk penyakit tumor stadium awal, pemeriksaan PETScanlebih sensitif daripada CTScan atau MRI.Selain itu, PETScan dapat membantu dalam menentukan kategori tumor sebagai penyakit kanker (malignant) atau bukan penyakit kanker (benign).Secara praktis, hampir sekitar 90% pemeriksaan PETScan ditujukan untuk bidang ini.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009)) b. Bidang Neorologi  Prinsip kerja neuroimaging PET berdasarkan atas asumsi bahwa daerah tubuh yang memiliki radioaktivitas tinggi akan terkait dengan aktivitas otak. Pemeriksaan

inimengukur secara tidak langsung laju aliran darah aktual ke lokasi yang berbedabeda diotak.Jenis radionuklida yang digunakan pada aplikasi ini adalah O15. Teknik ini dapat digunakan untuk menemukan focus area (daerah yang memiliki metabolisme tinggi atau mengalami pengurangan konsumsi oksigen dan darah) di otak.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009)) c. Bidang Kardiologi  Dalam bidang kardiologi, FDGPET dapat mengidentifikasi hibernatingmyocardium.Selain itu dapat membantu dalam penentuan berkurangnya aliran /tersumbatnya pembuluh darah ke jantung.Hal ini diindikasikan dengan adanyapeningkatan metabolisme glukosa.Pasien dengan gejala ini didiagnosis menderita coronary artery disease (CAD).Contoh: PETScan menunjukan bahwa aliran darah ke jantung berkurang, namun metabolisme jantung tidak terpengaruh. (Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))

 

d. Bidang Neuropsychology/Cognitive Neoroscience  Dalam bidang ini, PET Scan digunakan untuk memeriksa keterkaitan antara proses psikologi tertentu atau kesalahan fungsi/aktivitas otak.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009)) e. Bidang Psikiatri  Sebagaimana diketahui, radionuklida C11dan F18merupakan ikatan kimiayang secara selektif terikat dengan neuroreceptor. Radioligands yang terikat padadopamine receptor (D1,D2, reuptaketransporter), serotonin receptor (5HT1A, 5HT2A,reuptaketransporter), opioid receptor (mu) dan tempat lainnya telah banyak digunakan pada manusia. Pemeriksaan ini digunakan untuk mendiagnosis kegagalan fungsi syaraf.seperti: substanse abuse, mood disorders dan beberapa jenis penyakit psikiatrik lainnya.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009)) f. Bidang Farmakologi  Dalam uji coba pra klinikal (preclinical trials), beberapa radionuklida disuntikankepada binatang. Dengan menggunakan PET Scan, laju penyerapan sampel dan organsasarannya dapat dipantau dengan mudah dan akurat. Sehingga, metode ini  9

10 jelas lebihefektif dan efisien jika dibandingkan dengan teknik konvensional, yaitu denganmembedah hewan untuk mendapatkan informasi yang sama.(Kartiko, Yerridan Reno, A(2009)) 2.5Kelebihan dan Kekurangan PET  CT SCAN  PET memiliki kelebihan dapat memberikan gambaran fisiologis dan proses  patofisiologis, metabolisme seluler, perfusi jaringan, dan sintesis DNA maupun  protein.10 Di bidang onkologi endokrin, PET dapat memberikan gambaran sintesis lokal,  uptake, penyimpanan, dan reseptor dari berbagai hormon. PET dapat menilai status  fungsional preoperatif staging, evaluasi diagnostik lesi yang dicurigai ganas,  mengidentifikasi metastasis atau tumor recurrent, serta dapat memberikan gambaran  prognosis dan sebagai alat memilih dan mengevaluasi terapi.10 PET scan memberikan  resolusi yang lebih baik daripada single-photon emission CT karena memiliki aktifitas  radioaktif dan coincidences yang intens sehingga meningkatkan rasio sinyal  dibandingkan noise. Lama PET scan relatif singkat, PET mampu memberikan penilaian  kuantitatif besarnya aktivitas radioaktif di berbagai jaringan dari waktu ke waktu.8 7  Biaya dan keterbatasan ketersediaan teknologi merupakan kekurangan utama PET, Selain  itu PET membutuhkan produksi radioisotop karena waktu paruh tracer yang singkat dan  masalah penanganan sampah radioaktif. Resolusi spatial teoritis PET scan lebih rendah  buruk dibandingkan dengan CT ataupun MRI. (Wismayana, Ary.,dkk(2007))

 

2.6. Aspek Keselamatan   Meskipun radionuklida yang digunakan dalam PETScan berumur paro pendek,  hal tersebut tetap akan memberikan dampak pada sel atau jaringan tubuh pasien. Bagian  tubuh tempat disuntikannya radionuklida biasanya mengalami soreness atau swelling. Untuk mengatasi gejala ini, pada bagian tubuh tersebut dioleskan pelembab atau  dikompres dengan air hangat.   Radionuklida yang di masukan ke dalam tubuh menimbulkan 2 foton yang  berenergi masing-masing 511 keV. Hal ini dapat memungkinkan untuk menimbulkan  foton gamma lain dari proses peluruhan. Selain itu dapat pula menimbulkan radiasi  bremsstrahlung karena perlambatam positron.Perlambatan ini disebabkan oleh interaksi

 positron dengan material.Material yang dikandung dalam tubuh memiliki nomor atom  (Z) yang rendah seperti air dan jaringan lunak lainnya.(Kartiko, Yerridan Reno,  A(2009))   Dalam penelitian yang dilakukan oleh McElroy.pekerja radiasi menerima  paparan radiasi pada saat persiapan, pemindahan, menentukan posisi pasien dalam  PETScanner. Selama rangkaian kegiatan tersebut, untuk menangani satu pasien pekerja  radiasi menerima dosis radiasi sebesar 9,3 Sv; dan 0,018 Sv/MBq untuk setiap  kegiatan pemasukan radionuklida ke dalam tubuh pasien. Dengan demikian, dalam kajian  keselamatan ini, catatan-catatan yang harus kita perhatikan adalah sbb: a. Untuk keperluan keselamatan pasien, maka hal yang terpenting adalah aspekklinik dalam menentukan jenis radioaktif dan dosisnya, serta pengkondisianpasien sebelum dan selama pengobatan. Aspek fisik juga diperlukan dalammemastikan kemurnian dan dosis radionuklida serta pencampuran denganmolekul aktif metabolik yang akan digunakan; b. Sebagaimana dalam kedokteran nuklir pada umumnya, untuk keselamatanpekerja radiasi jelas bahwa pengaturan jarak, penggunaan waktu dan perisai daripasien yang telah mendapatkan radionuklida adalah metode yang dapatmengoptimalkan penerimaan radiasi bagi pekerja radiasi itu sendiri. Hal lain yangperlu diperhatikan pula adalah pencegahan tertumpahnya cairan radionuklidadan penggunaan cerobong asap.  c. Keselamatan untuk masyarakat umum harus dijamin dengan sistem danprosedur yang memisahkan antara pasien yang telah mendapat radionuklidadengan masyarakat umum. Catatan: Hal ini juga penting bagi keselamatanpekerja radiasi. Penataan ruang dan ketebalan dinding ruang siklotron atauhotcell, ruang tunggu pasien setelah diberi radionuklida sebelum dipindai (quietroom) dan ruang pengobatan merupakan hal yang tidak terlalu sederhana. Hal ini karena, referensi yang umum digunakan untuk penetuan ketebalan dinding, yaituNCRP No 49,4 hanya digunakan untuk sumber kernel titik atau narrow beam. d. Perlindungan terhadap lingkungan hidup dalam kedokteran nuklir pada umumnyadilakukan dengan penyimpanan sementara ebelum pembuangan akhir (delayand decay method) atas sekresi pasien yang telah menerima radionuklida  

 

11

12

 

e. selamaperlakuan dan barangbaranglain, seperti jarum suntik, yang didugaterkontaminasi. Hal ini harus pula dipertimbangkan dalam desain fasilitas. (Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))

 

2.7. Perkembangan Teknologi PETSCAN   Pada akhir sekitar tahun 1990an, dengan ditemukannya bahan detektor yang dapat  dipasang pada PETScanner membawa perkembangan yang cukup signifikan terhadap  ketepatan diagnosis dan mutu hasil pencitraan, sekaligus memperpendek waktu  pemindaian.PET/CTScanner untuk pertama kali dikenalkan pada tahun 2000, model ini  mengintegrasikan PET dan CT ke dalam satu perangkat.Teknologi ini memungkinkan  untuk mendapatkan data anatomi dan biologi (metabolis) sekaligus.Gambar hasil  PET/CT Scan ini dapat memberikan informasi diagnostik yang lebih komprehensiv dan  lebih tepat. Peningkatan penggunaan teknologi jenis ini karena PET/CT Scan memiliki  kelebihan, antara lain: dapat mendiagnosis lebih awal, akurasi penentuan tingkat  keparahan dan lokalisasi tumor dan ketepatan pemantauan dan pengobatan. PETScan  secara simultan mendeteksi sel kanker aktif, menunjukan gambar perubahan miniscule,  struktur anatomi dan fungsinya.Sedangkan CTScan memberikan informasi yang lengkap  dan rinci mengenai lokasi, ukuran dan bentuk sel kanker.(Kartiko, Yerridan Reno,  A(2009))   PETscanningdan CTscanningdilakukan pada saat bersamaan. Dapat diilustrasikan  secara singkat, bahwa luka yang kecil akan dideteksi oleh PET, sementaraitu lokasinya  akan ditentukan oleh CT.CT scan, sebagaimana diketahui, akan memberikan paparan  radiasi kepadatubuh pasien. intensitas radiasi setelah melewati tubuh pasien diukur  menggungkandetektor. Secara algoritma, komputer akan melakukan proses perhitungan  untukmenggambarkan struktur organ tubuh.Dengan hasil pencitraan bermutu yang  dihasilkan oleh PET/CT Scan, pasienberkesempatan untuk memperoleh hasil yang lebih  baik, terhindar dari beberapaprosedur pengobatan yang mungkin tidak diperlukan. (Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))

  PET/CT Scan dapat jugamendeteksi sedini mungkin mengenai terjangkitnya  kembali penyakit kanker atau tumoryang mungkin tertutup oleh bekas luka jaringan  akibat pembedahan atau radioterapi.Hingga saat ini, perangkat PET/CT Scan terdiri atas  kamera hibrida, partial ring scanner, fixed fullring scanners, dan PET/CT scanner. Jenis  perangkat yang dipasangdapat menentukan jumlah radioaktif yang harus dimasukkan ke  dalam tubuh pasien,waktu yang diperlukan untuk melakukan scanning, dan total  workload dari ruangan.Kamera hibrida yang digunakan adalah  multihead,NaI(Tl)berbasiskamera gamma yangtelah dilengkapi dengan sirkuit koinsiden  untuk mengakuisisi PET. Namun demikian, ada jugabeberapa yang menggunakan  detektor secara partialring yang kemudian berputar untukmendapatkan proyeksi tubuh  pasien yang diinginkan.Sumbu aksial yang pada umumnyadigunakan dalam perangkat  ini adalah 15 cm. Kristal sintilasi yang dipasang padascanner biasanya Bismuth  Garmanate (BGO). Bahan lain yang lebih baru lagi Lutetium Oxyorthosilicate (LSO) dan  Germanium Oxyorthosilicate (GSO). (Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))

 

Tabel2. Perbandingan antara bahan detektor BGO dan LSO [4].   PET/CT, Bahan Detektor BGO

 PET/CT, Bahan Detektor LSO

 

Aktivitas radionuklida yang disuntikan (MBq)

 

370

 

555 Waktu scan (menit) 31 19  

 

  LSO memiliki keluaran cahaya tampak yang lebih tinggi untuk setiap interaksi  foton dibandingkan dengan BGO. Hal ini memungkinkan untuk mengurangi waktu scan  dan mereduksi noise pada gambar.(Wismayana,Ary.,dkk(2007)) 13

 

 


 

 

 

14

 

2.8. Perangkat Khusus   Beberapa vendor atau pemasok telah menyediakan perangkat-perangkat khusus l ain yang digunakan untuk kendali mutu dan mengurangi besarnya paparan radiasi pada  pekerja radiasi. Perangkat khusus ini antara lain berupa: a. Kalibrator dosis dengan perisai timbal tebal; b. Wellcounterdengan perisai eksternal untuk mengurangi nilai cacah latar; c. Suntikan yang dilengkapi dengan perisai tungsten; d. Suntikan yang dapat dioprasikan pada jarak jauh; e. Perisai timbal tambahan; dan f. Konteiner suntikan dengan yang diberi perisai. (Kartiko, Yerridan Reno, A(2009))

 

2.9. Prinsip Kerja Positron-Emission Tomography Positron-Emission Tomography (PET) merupakan noninvasive, three-dimensional, nuclear imaging technique.7 Perkembangan PET saat ini sangat menarik untuk diikuti karena penggunaan klinis PET berkembang dengan sangat luar biasa terutama di bidang onkologi.8 Perkembangan ini tidak lepas dari fungsi PET itu sendiri. PET memiliki kelebihan dibandingkan dengan metode imaging lainnya seperti CT atau MRI, dimana CT dan MRI hanya memberikan gambaran anatomis saja, sedangkan PET mampu memberikan gambaran fungsional dan anatomis walaupun gambarannya tidak sebaik MRI ataupun CT.7 Namun hal ini dapat diatasi dengan penggabungan PET dengan CT dalam satu alat scanner yang dinamakan PET/CT, dengan demikian dihasilkan gambaran anatomis dan fungsional yang jauh lebih baik sehingga informasi yang didapat lebih baik dan pada akhirnya tercapai penatalaksanaan penyakit yang lebih baik.(Wismayana, Ary.,dkk(2007))

 

 


 

 

 

BAB III PENUTUP

 

3.1.  Kesimpulan Dari pemaparan di atas, beberapa kesimpulan penting dapat diambil: 1. Teknologi PET atau PET/CTScansangat bermanfaat dalam diagnostik di bidangonkologi, neurologi, kardiologi, neuropsychology/cognitive neoroscience, psikiatridan farmakologi; 2. Perkembangan teknologi PET atau PET/CTScanterlihat nyata danberkemungkinan besar untuk terus berkembang. Perkembangan ini diharapkandapat meningkatkan mutu pencitraan dengan tetap memperhatikan keselamatanradiasi bagi pasien, pekerja radiasi, masyarakat umum dan perlindunganterhadap lingkungan hidup; dan 3. Adalah mutlak untuk menetapkan dan menerapkan PJM yang meliputi aspekadministratif, klinik dan fisik dalam pembangunan, pengoperasian maupundekomisioning suatu fasilitas PETScan,Untuk mengantisipasi masuknya teknologi PETScandi Indonesia, penulismengajukan dua saran sbb: Pertama, BAPETEN perlu segera melakukan pengkajianyang lebih komprehensif mengenai PETScan.Pengkajian ini harus bermuara padadisusunnya peraturan dan pedoman terkait keselamatan dan jaminan mutu PETScan,serta sistem perizinan dan inspeksi yang relevan; Kedua, untuk pelayanan perizinan,khusunya izin konstruksi, suatu lokakarya internal perlu dilakukan BAPETEN dalamrangka mengevaluasi keselamatan desain (ketebalan dinding dan perisai) fasilitas PETScan.

 

3.2. Saran   Penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kesempurnaan oleh karena  itu penulis meminta agar pembaca berkenan memberikan kritik dan saran demi  kesempurnaan di masa mendatang.

 

15

16

DAFTAR PUSTAKA

 

Wisamaya, Ary., dkk(2007). F-Flourodeoxyglucose(FDG) Positron-Emission Tomography  (PET) sebagai modalitas Imaging penatalaksanaanKankerTiroid.Denpasar.https://ojs.unud.ac.id/index.php/eum/article/view /5808. Diunduh pada 13 November 2017 pukul 17.00 WIB. 

Kartiko, Yerridan Reno, A (thnbrp?).PendahuluanTeknologi, KeselamatandanJaminanMutu  PET-SCAN.https://ansn.bapeten.go.id/files/PET_Scan-Yeri-NurK.pdf. diunduhpada 13 November 2017 pukul 17.15 WIB.