Mohon tunggu...
Indriati See
Indriati See Mohon Tunggu...

WNI bermukim di Jerman

Selanjutnya

Tutup

Sosbud Pilihan

Gema Bhinneka Tunggal Ika di HUT RI ke-69 KJRI Frankfurt

26 Agustus 2014   06:51 Diperbarui: 18 Juni 2015   02:32 0 8 7 Mohon Tunggu...
Gema Bhinneka Tunggal Ika di HUT RI ke-69 KJRI Frankfurt
1408981377468297446

Setiap tahun kita merayakan HUT Kemerdekaan negara kita yaitu Republik Indonesia. Jika kita lihat angka 69 maka kita akan berkomentar; “sudah 69 tahun kita merdeka, bebas dari penjajahan, sudah sanggup mengurus sendiri negara kita tanpa campur tangan asing, apa yang telah kita capai ?, dan seterusnya.”

Waktu selama 69 tahun bukanlah waktu yang pendek dan dalam waktu tersebut Indonesia sudah banyak membuat kemajuan dalam segala sektor walau pun belum optimal dirasakan oleh seluruh wilayah yang ada dan oleh seluruh rakyat Indonesia secara merata. Ibarat sebuah neraca yang menunjukkan garis turun dan naik maka begitu pula kondisi Indonesia faktanya. Semuanya ini hanya bisa diatur oleh kebijakan-kebijakan yang ditetapkan oleh Pemerintah yang sedang memerintah dengan jangka pemerintahan selama 5 (lima) tahun dengan tepat, konsekwen, jujur dan bertanggung jawab.

Disamping kebutuhan rakyat Indonesia yang harus diperjuangkan oleh Pemerintah RI juga Bhinneka Tunggal Ika sebagai semboyan bangsa Indonesia yang terdiri dari berbagai macam suku, bahasa, agama dan adat-istiadat. Bhinneka Tunggal Ika adalah semboyan murni dari Republik Indonesia yang harus dan tetap dipertahankan !.

1408981769294012193
1408981769294012193

Dalam artikel saya kali ini, saya ingin berbagi kepada para pembaca tentang liputan selama saya menghadiri upacara HUT Proklamasi RI yang ke 69 yang baru lalu sebagai berikut:

Upacara HUT RI ke-69 tahun ini diadakan di KJRI Frankfurt pada tanggal 17 Agustus 2014, dihadiri oleh masyarakat Indonesia yang bermukim di Frankfurt dan sekitarnya tersebut secara resmi dimulai tepat pukul 09:00 pagi. Upacara dibuka dengan penyambutan tamu kehormatan Bapak Alwi Shihab (eks. Menteri Kesejahteraan Rakyat) yang dalam sambutannya; beliau mengajak masyarakat Indonesia untuk memperkuat persatuan dan toleransi. Beliau juga mengingatkan bahayanya ideologi radikal yang dapat memecah persatuan bangsa. Setelah itu pelaksanaan upacara bendera pun dimulai dengan khidmat dan dilanjutkan dengan sambutan oleh Acting Konjen RI Frankfurt (Bapak Mudzakir).

[caption id="attachment_339669" align="aligncenter" width="620" caption="Mr. Manfred Fenner yang giat mempromosikan kebudayaan Indonesia"]

1408982101869600563
1408982101869600563
[/caption] [caption id="attachment_339670" align="aligncenter" width="621" caption="Pemenang Lomba Foto tentang Indonesia - Mrs. Carla Spantig"]
140898228841036469
140898228841036469
[/caption]

Pesta HUT Proklamasi rasanya ada yang kurang jika tidak disertakan dengan perlombaan-perlombaan yang diikuti oleh anak-anak dan orang dewasa, oleh karena itu panitia upacara pun mengadakan berbagai jenis perlombaan seperti untuk anak-anak misalnya; lomba balap kelereng, lomba memasukkan pensil ke botol, lomba makan donat dan untuk orang dewasa tersedia juga misalnya; lomba bakiak, lomba mengupas bawang juga tak kalah dengan anak-anak; lomba makan donat.

1408982542526678439
1408982542526678439

Selain perlombaan di atas yang tentunya mengundang tawa ceria masyarakat Indonesia yang menghadiri upacara tersebut, tak ketinggalan juga acara nyanyian dan tarian yang ditampilkan oleh berbagai jenis organisasi masyarakat Indonesia yang ada seperti PERMIF (Perhimpunan Masyarakat Indonesia di Frankfurt), GMIF (Gereja Misi Indonesia Frankfurt), Tetada Frankfurt, Lenong Betawi, Kroncong Asbun dan masih banyak lagi yang membuat para hadirin betah menikmati suguhan acara sambil menikmati Lunchbox yang disiapkan oleh para ibu-ibu KJRI.

Dari acara-acara tersebut di atas, penulis ingin sekali memperkenalkan Group Paduan Suara yang baru dibentuk. Group Paduan Suara ini belum bernama dan berkeinginan memfokuskan lagu-lagu rakyat dari wilayah Indonesia Timur. Mengapa hanya Indonesia Timur ? karena dari wilayah Indonesia lainnya sudah terbentuk lebih dahulu.

[caption id="attachment_339673" align="aligncenter" width="620" caption="Group Paduan Suara "]

1408982805558664390
1408982805558664390
[/caption]

Pembentukan Group Paduan Suara yang diasuh oleh Ibu Like Gottwald tersebut adalah kelanjutan dari Parade Kultur bulan Juni yang lalu, dimana untuk pertama kalinya barisan Indonesia Timur dibentuk di bawah koordinasi saya sendiri. Untuk kepercayaan yang diberikan tersebut, saya ucapkan terima kasih kepada KJRI dan PERMIF serta seluruh Panitia Parade Kultur 2014. Semoga di Parade Kultur berikutnya kita bisa bekerja-sama kembali. (Laporan tentang Parade Kultur menyusul ya ;) ).

[caption id="attachment_339675" align="aligncenter" width="620" caption="Pembacaan Puisi "]

1408983254729470402
1408983254729470402
[/caption]

Yang membuat saya terharu adalah ketika salah satu pelajar Indonesia dari Mannheim (Putri Nur Julita) membacakan puisi saya yang berjudul “Negeri Bahariku” dengan iringan lagu “Aku Papua” karya Franky Sahilatua. Tak ketinggalan juga tarian Tifa yang ditarikan oleh dua orang nona manise (Marina Madarch Warkor dan Vero Nica) dengan iringan lagu “Hena Masa Waya”

Puisi "Negeri Bahariku"

Ajakan bayu tuk melaut membangkitkan hasrat menapak pasir putih nan lembut memantulkan sinar sang surya bak hamparan kristal penuh pesona . Nelayan datang dengan jala, bekal makanan dan lentera laut pun menyambut dengan ceria „sampai akhir petang sayangku !, doakan kami agar beruntung selalu" . Jala dibentangkan dan doa pun dipanjatkan dilempar ke laut dengan penuh harapan „Ya Allah, Engkau sumber kehidupan, berilah kami rezeki untuk hari ini saja, agar kami diberi kekuatan selalu tuk berkarya" . Irama merdu suling bambu menari bersama sang bayu pekikan burung-burung laut membentuk orkestra lembut anak nelayan pun gembira menyambut . "Santaplah bekal ini, anakku ! nasi dan lauk-pauk dari ibu, pengganjal perut, cukup untuk harimu" ucap ayah dengan pandangan penuh kasih bekal pun dibuka dengan iringan doa pada Sang Pengasih . Sang surya perlahan menuju ufuk warna alam pun menjingga menambah cantiknya alam raya dengan perlahan-lahan jala pun ditarik sarat dengan penghuni bahari . Senyum puas terpancar dari hati „cukup untuk hari ini ! terima kasih padaMu Sang Bahari" biduk pun berputar kembali menuju pantai yang menanti . Untukmu Indonesiaku negeri bahari sebutanmu laut dan samudramu sumber penghidupan rakyatmu semoga makmur dan jaya selalu ... Indriati See - Hofheim im Ried, 14 November 2011 [caption id="attachment_339674" align="alignnone" width="620" caption="Tari Tifa diiringi oleh lagu "]

14089831361159491856
14089831361159491856
[/caption]

Selain kedua lagu di atas, para penonton kami ajak juga untuk menghentakkan kaki mengikuti irama lagu-lagu seperti: Sajojo, Sayang Kene, Bolelebo, Hura-hura Cincin dan terakhir ditutup dengan lagu “Hari Merdeka (Tujuh Belas Agustus 1945)” yang dinyanyikan bersama oleh para penonton.

Selain menyanyikan lagu-lagu rakyat dari Indonesia Timur di atas, kesempatan bagi kami juga tuk memperkenalkan pakaian adat masing-masing peserta ... hm ... betapa cantik, kaya dan beraneka ragamnya.

[caption id="attachment_339676" align="aligncenter" width="620" caption="Penonton yang turut menari"]

1408984512768698102
1408984512768698102
[/caption]

Upacara HUT RI di atas tidak hanya untuk menghormati jasa para pahlawan saja melainkan juga mengikat erat hubungan silaturahmi masyarakat Indonesia di Luar Negeri dan tetap menjunjung tinggi ke-Bhinneka Tunggal Ika-an yang ada dalam masyarakat kita.

1408985013338091320
1408985013338091320

Upacara pun ditutup dengan penurunan bendera Merah Putih pada jam 16:30 yang berlangsung selama 30 menit.

Akhir kata saya ucapkan terima kasih kepada Bapak Dr. Soni Akmal (KJRI) tuk info tambahan, Fotografer Dus Flores dan FB KJRI, teman-teman Group Paduan Suara (Like Gottwald, Renny Tauran, Eka Biebel, Putri Juliasi Lumban Gaol, Putri Nur Julita, Marina Madarch Warkor, Dessy Samurwaru, Barry Salaka, Lady, Iren Manuhutu, Vero Nica, Grace Talakua, Lili, Marchris Tiahahu Karelauw, Els Nicolay) dan mohon maaf jika ada yang terlewat atau kekurangan dari liputan di atas.

“Semoga Indonesia selalu jaya dan salam MERDEKA !”

Musik: Rayuan Pulau Kelapa