Indria Salim
Indria Salim Penerjemah lepas

Seorang antusias dan pembelajar sederhana. Seorang pengagum dan penikmat keindahan alam serta beragam seni, termasuk seni kehidupan. Twitter: @IndriaSalim

Selanjutnya

Tutup

Hiburan highlight headline

Menonton "Trinity: The Nekad Traveler", Puas Nggak Puas

17 Maret 2017   12:35 Diperbarui: 17 Maret 2017   16:58 706 33 26
Menonton "Trinity: The Nekad Traveler", Puas Nggak Puas
Screenshot youtube: Indria Salim

Baiklah, saya katakan lebih dulu kenapa saya nggak puas menonton “Trinity, the Nekad Traveler”. Nggak puas itu kalau hanya menonton sekali, karena saya ingin menikmatinya minimal sekali lagi! Simpel. 

Adegan yang mengambil lokasi di Lampung |Screenshot youtube: Indria Salim
Adegan yang mengambil lokasi di Lampung |Screenshot youtube: Indria Salim

Melalui tayangan di layar lebar, saya ingin bertualang dan mengalami kembali serunya berkeliling ke tempat wisata dan tempat-tempat menarik, indah, dan unik seperti yang ditampilkan di layar lebar dalam film itu. Menonton film ini menggugah saraf ketawa saya, yang juga menciptakan “virus cekikik dan cekakak” di ruang bioskop tempat saya menonton film Trinity yang “nekad” itu. Err, mata sempat membasah seketika, tanpa terasa. Baper? Mungkin. Tapi mengapa? 

Pada dasarnya merasakan keindahan itu memang menyentuh kalbu. Mendengar soundtrack musiknya sambil memanjakan mata dengan lansekap luas  dan cling, ada festival layang-layang, penampakan Pantai Losari di Makassar yang terkenal itu, dan teknik "long shot" yang digunakan dengan optimal sehingga penonton seperti saya serasa berada di lokasi yang ada di layar lebar. Itu baru visualisasinya, belum jalan ceritanya yang mengikat minat.

Keputusan saya menonton film “Trinity, the Nekad Traveler” terdorong oleh pertimbangan rasa penasaran terhadap novel aslinya yang berjudul “The Naked Traveler”, reputasi sutradaranya -- yaitu Rizal Mantovani yang menggarap film yang berdasarkan adaptasi novel pengarang sekaligus traveler inspiratif – Trinity. Saya mengikuti akun Twitter Trinity (travel blogger dan penulis aslinya) sejak tahun 2010. Waktu itu saya sangat awam tentang traveler ala Trinity meskipun sampai kini saya belum sempat membaca ketiga belas buku karyanya.

Billboard di bioskop | Foto: Indria Salim
Billboard di bioskop | Foto: Indria Salim

Hari Kamis, 16 Maret tanpa direncanakan, saya menonton rilis perdana film drama (berbumbu komedi) yang diproduksi oleh rumah produksi Tujuh Bintang Sinema dengan Produser Ronny Irawan dan Agung Saputra dari rumah produksi Tujuh Bintang Sinema, Produser Eksekutif Lela Tresna dan Iwan S. Djasmoro.

Nonton tanpa rencana, ternyata rilis perdana |Foto: Indria Salim
Nonton tanpa rencana, ternyata rilis perdana |Foto: Indria Salim
Bucket List, wajib ditunaikan |Screenshot youtube: Indria Salim
Bucket List, wajib ditunaikan |Screenshot youtube: Indria Salim

Cerita dibuka dengan adegan Trinity (Maudy Ayunda) sedang bermonolog tentang beberapa catatan terkait travelling. Di awal, pemirsa disuguhi kutipan menarik versi terjemahan yang diambil dari kutipan Mark Twain, “20 tahun dari sekarang, kau akan lebih banyak kecewa akan hal-hal yang pernah tak kau lakukan.” – Kutipan Mark Twain, “Twenty years from now you will be more disappointed by the things that you didn't do than by the ones you did do. So, throw off the bowlines. Sail away from the safe harbor. Catch the trade winds in your sails. Explore. Dream. Discover.

Trinity (Maudy Ayunda) punya hobi traveling sejak kecil. Namun, sebagai seorang karyawan, hobi yang kemudian menjadi kebutuhannya ini sering terbentur aturan cuti kantor, selain juga soal dana yang pas-pasan. Trinity pun mengalami dilema antara fokus pada pekerjaan atau menekuni hobi traveling. Beruntung dia punya dua sahabat dan satu sepupu bernama Ezra (Babe Cabita) yang mendukung dan memahaminya. Trinity dalam kisah petualangannya juga “kesandung cinta” dengan Paul (Hamish Daud), traveler ganteng yang suka fotografi dan membuat video perjalanan. Ah, ada juga Mr. X yang pemurah dan tulus, sampai kisah ini berakhir tetap dibiarkan berperan misterius.

Trinity selalu menuliskan pengalaman jalan-jalannya dalam sebuah blog bernama naked-traveler.com. Dalam hal ini, catatan menariknya adalah bahwa Trinity suka traveling, dan untuk itu dia perlu uang. Yang terjadi adalah, dia butuh uang, maka dia melakukan traveling untuk bisa menuliskan pengalamannya, dan dengan itu dia mendapatkan penghasilan cukup buat melakukan perjalanan demi perjalanan selanjutnya. Awalnya adalah hobi, lalu berubah menjadi kegiatan yang bisa diandalkan sebagai sumber penghidupan.

Gagasan utama dalam film drama ini adalah mengangkat kegigihan Trinity dalam upayanya mewujudkan impian-impian yang dituangkan dalam Bucket List – mencari terobosan, mengoptimalkan dana, bernegosiasi dengan bosnya yang “pelit dan bergaya ratu drama”, dan menikmati hobinya dalam bertualang sendiri, dan sesekali bersama-sama dengan para sahabatnya – Yasmin (Rachel Amanda) dan Nina (Anggika Bolsterli).

Para pemain beraksi wajar, proporsional, tata rias juga sesuai tema, dan dihadirkan sempurna dalam peran masing-masing. Ini termasuk adegan yang minimalis namun tidak kalah peran pentingnya menyempurnakan kekerenan film ini – yaitu adegan dialog orang tua Maudy (Cut Mini dan Farhan), yang menginginkan Trinity juga memikirkan soal jodoh. Ayu Dewi sebagai sang bos dan Mala Barbie – si karyawan carmuk berakting dan mendapat bagian peran yang sangat pas! Juga penyanyi dan komposer musik Tompi, dan pemeran mantan pacar Trinity (Charles, yang tampil sekelebat), yang mewarnai cerita dan meninggalkan kesan tersendiri di hati pemirsa. 

Ada sepenggal kisah cinta, persahabatan, kebanggaan dan rasa cinta Tanah Air, juga inspirasi kegigihan dan kerja keras dalam kemandirian seorang Trinity. Tidak menggurui, namun tetap bermuatan pesan-pesan inspiratif yang membawa pemirsa (baca: saya) pada suasana kontemplatif dan keharuan.

Film ini semakin mantap dengan backsound dan backsong keren arahan Music Director Joseph Jafar ini. Maudy juga menyanyikan sendiri lagu gubahan Dewi Lestari, “Satu Bintang di Langit Kelam.” Di trailer video ini kita bisa mengintip pemandangan dan suasana di Way Kambas, satu spot di Filipina, dan biru jernihnya laut di Maladewa (Eng: Maldives).

Karya film Indonesia ini membuktikan bahwa kalau semua yang terlibat itu menggarap dengan serius dan profesional, film dengan tema fun, bernuansa komedi, dinamis, menggugah tanpa harus dramatis berlebihan, dan inspiratif bisa menjadi sarana branding pariwisata Indonesia. 

Film ini sendiri memberikan banyak hal yang diharapkan pemirsa film, khususnya pemirsa film karya anak bangsa – menghibur, menarik, asyik, romantis, menyentuh rasa persahabatan, mempromosikan kebangsaan dan kebanggaan yang wajar.

Dalam beberapa kali adegan, digambarkan Trinity memiliki keyakinan teguh dan ulet dalam memperjuangkan keinginannya, “Nulis ibarat doa dan alam semesta akan mengamini.” Ini mengingatkan saya pada prinsip “The Secret”-nya Rhonda Byrne yang mendunia sejak satu dekade yang lalu.

Membuat penonton meleleh tanpa lebay |Screenshot youtube: Indria Salim
Membuat penonton meleleh tanpa lebay |Screenshot youtube: Indria Salim

Trinity membuat hati meleleh, dengan ungkapannya yang sederhana namun faktual bagi saya, “Ke mana pun kaki melangkah, rumahku Indonesia.”

Meskipun ada sedikit tanya yang tidak terjawab, “Siapakah sebenarnya Si Mr. X yang membayari perjalanan all in Trinity itu?” – namun saya acungkan dua jempol buat semua saja yang terlibat dalam penyajian karya film keren ini. Semoga film Indonesia memproduksi semakin banyak film bermutu dengan efek multimanfaat. Itulah ungkapan kepuasan saya menonton Trinity: The Nekad Traveler. – 17 Maret 2017 | @IndriaSalim|

Referensi:

1

2

3