Humaniora

Jangan Khawatir Soal Perempuan, Tuan Karl Marx!

14 Maret 2018   18:51 Diperbarui: 14 Maret 2018   18:56 240 0 0

"kemajuan sosial dapat diukur oleh posisi sosial perempuan" -- Karl Marx

Dalam sebuah disiplin Ilmu sosiologi tentu kita sudah mengenal nama-nama tokoh sosiologi Klasik seperti Emile Durkheim dan Max Webber yang menjadi rujukan dasar sebuah paradigma masyarakat sosial, dari keduanya tersebut lahirlah sebuah tokoh peralihan bernama Karl Marx seorang Prussia (Jerman Timur) yang saat ini menjadi negara Polandia sebagai bapak sosiologi modern yang mampu menyatukan konsep Durkheim dan Webber dalam kajian ilmu sosiologi modern. 

Sampai hari ini pengaruh pemikiran marx pada dunia masih terasa bukan hanya dalam sekup internal negara namun secara global dua ideologi sayap kanan dan kiri masih bersiteru  secara dingin. Dalam pengaruh pemikiran Karl Marx tentu kita ketahui dalam setiap politik praktisnya tidak lepas dari kajian tentang bagaimana memperjuagkan kelas-kelas sosial.

Kali ini tentunya kita tidak sedang membahas tentang Marxisme Ortodoks, Marxisme Analitis ataupun Marxisme Postmodernisme namun yang menarik ialah kajian terkait Marxis Feminisme. Dalam sebuah buku biografi Karl Marx yang ditulis oleh Muhammad Ali Fakih kebetulan beliau satu saku sama saya mengatakan bahwa Marxis Feminisme merupakan bagian dari cabang Feminisme yang memiliki fokus pada penyelidikan tentang cara-cara bagaimana perempuan ditindas oleh Sistem kapitalisme. 

Pendapat tersebut tentu merujuk dengan apa yang sudah ansichdisampaikan dalam buku Manifesto of the communis partyyang terbit pada tahun 1848. Tentu Marx dalam hal ini  meletakkan hal-hal dasar tentang penindasan dan Perempuan.

Saat perjalan Karl Marx ke Perancis tentu marx melihat perempuan bekerja selama 12 sampai 16 Jam dalam sehari di sebuah pabrik Industtri dan kebun anggur, oh betapa prihatinnya si Karl Marx melihat kondisi yang sedemikian sengsaranya perempuan masa itu di Prancis. Sepintas perjalanan karl marx dari Prusia yang melanjutkan perjalanan intelektualnya ke Prancis lalu bertemulah disana dengan para sosialisme Purba seperti Ludwig Beurbach dan Freiderich Englesh yang sebenarnya adalah young Hegelian (penerus perjuangan GWF Hegel), semakin deras aliran darah Karl Marx untuk peduli terhadap nasib kaum buruh khususnya perempuan pada saat itu yang sebenarnya sejalan dengan basic Karl Marx yang sangat membidangi sastra Humanisme.

Freiderich Engels menganalisis fenomena sosial yang terkait dengan moralitas, penindasan gender terkait erat dengan penindasan kelas. Relasi antara lelaki dan perempuan dalam masyarakat, mirip dengan hubungan kelas Proletar dan kelas Borjouis. Melalui fenomena ini subordinasi perempuan merupakan fungsi dari penindasan kelas, yang harus dipertahankan (seperti rasisme) untuk melani kelas pemodal dan kelas penguasa. 

Hak kerja antara laki-laki dan Perempuan itu dibedakan. Kapitalisme menolak membayar pekerja rumah tangga perempuan. Ia hanya bisa makan dan hidup jadi babu tanpa gaji (layaknya binatang peliharaan), berbeda dengan pekerja rumah tangga laki-laki. Analisis Engles ini ditulis oleh Brown Heather A dalam bukunya "Marx on Gender and The Family"  

Kaum feminise Marxis berpendapat dari analisis Engels diatas berpendapat bahwa mengabaikan perempuan dalam kerja-kerja produktif erarti bahwa ranah-ranah produksi, baik dalam publik maupun swasta berada dibawah kontrol kaum laki-laki. Hal ini disepakati sebagai sebuah bentuk penindasan terhadap kaum perempuan. Beberapa Feminisme marxis mengajukan mereka untuk diperjuangkan dalam ranah pekerjaan rumah tangga dalam sistem perekonomian kapitalis, sederhananya perempuan yang biasanya mencuci, memasak dan sebagainya itu mendapatkan kompensasi berupa upah. 

Tentu jika kita sederhanakan kemauan kaum marxis ialah pekerjaan perempuan diakui dan dihargai di ruang publik. Tetapi jika saya lihat ini hanya sebatas wacana keinginan kaum Marxis Feminisme maka tahun 1972 Feminisme Internasional tterlibat meluncurkan Kampanye Upah Internasional untuk pekerjaan rumah tangga tepatnya di Italia pelopornya adalah sekelompok perempuan Italia.  

Bahkan penulis pada zaman itu juga ikut menyuarakan seperti Selma James dan Dalla Costa dan lain-lain. Meskipun gerakan seperti ini tak bertahan lama dan bisa dikatakan mengalami kegagalan namun hal ini dianggap sebagai sebuah wacana penting sebagai bentuk passion sebuah perubahan kaum pekerja perempuan.

Di Eropa perhari ini Justru mengutamakan hak-hak perempuan sehingga perlindungan hukum bagi kaum perempuan di segala bidang sangat di intenskan, intens dalam artian yakni keadilan terhadap sesama manusia. Istiah populer hari ini di Eropa ialah First Women yang mengandung arti utamakan perempuan atau perempuan yang utama betapa mulianya kaum perempuan diperlakukan, sedangkan di Indonesia sendiri lebih luar biasa sekali dengan munculnya pelopor perempuan cerdas bernama R.A Kartini yang memunculkan gagasan Eman Sipasi.

Perempuan yang awalnya perempuan Indonesia hanya sebatas Dapur, Ranjang dan Papan kini mampu merubah paradapan perempuan Indonesia mengalami paradigma drastis menjadi sosok yang produktif dan terampil sehingga yang awalnya hanya sebatas pekerjaan mengurus rumah tangga dan melayani lelaki  (suami) kini mereka dapat aktif berkarir layaknya kaum laki-laki karena memiliki hak yang sama.

Maka jangan heran jika Ibu Megawati pernah menjadi soerang presiden yang memimpin didalamnya ada kaum laki-laki, betapa berjasanya R.A Kartini memperdayakan kaum perempuan menjadi lebih baik dengan buku terbitannya "Habis Gelap, terbitlah Terang". Pada Tahun 2013 Federecci mendesak gerakan feminimisme dengan cara mereformasi kelembagaan, Mereformasi peraturan menjadi sebuah payung hukum yang adil sehingga terjadi keharmonisan dalam tatanan hidup masyarakat baik, ntah hal itu dipimpin oleh kapitalis sekalipun. Jadi dapat dipastikan kegelisahan Marx di masa lalu tidak perlu dikhawatirkan hari ini karena kita sudah mendapatkan solusi dari niatan baik layaknya Marx.