Humaniora Pilihan

Refleksi Hidup dalam Perjalanan Tauhid

30 Oktober 2018   17:26 Diperbarui: 30 Oktober 2018   21:44 451 4 2
Refleksi Hidup dalam Perjalanan Tauhid
dokpri

Setiap manusia lahir dan tumbuh dengan kertas soal masing-masing. Semua punya ujiannya, dan kurikulum khusus, personalized, dari Allah swt. Semua kertas soal harus diselesaikan seumur hidup, dengan tujuan satu: mendekat kepada Sang Pencipta Yang Maha Esa. Kurikulum kita disusun khusus untuk mengajarkan bahwa siapa yang faham tauhid, akan menjadi manusia yang tenang, punya panduan hidup, tahu apa yang bisa menyelamatkannya di dunia akhirat.

Aku lahir dengan kertas soalku juga. Akupun punya kurikulumku sendiri. Ujian besar pertama dalam hidupku Allah berikan saat aku ada di perantauan, jauh dari orang tua dan teman. Badai hidup terjadi memukul sangat keras, dan tak ada orang-orang yang sebelumnya selalu menjadi penaung dan pelindung. Siapa lagi yang bisa kita minta menjadi penaung dan pelindung selain Allah Sang Maha Esa? Inilah pelajaran tauhid pertamaku.

Dalam badai di tanah rantau aku benar-benar berlari kepadaNya. Bukan merangkak, bukan berjalan. Aku berlari kencang, ketakutan, dengan badan hancur lebur. Menangis, tersungkur, sampai akhirnya Allah kirim seorang nenek buta untuk berpesan, "Ujianmu adalah kesempatan bagimu. Aku akan bantu dari jalan yang tak kau sangka-sangka. Ayo bangkit! Kau kuciptakan unik, dengan ujian yang hanya Kuberikan padamu."

PesanNya membuatku bangkit, mendapatkan sekolah saat pendaftaran sudah ditutup dan beasiswa saat dana yang ada sudah dialokasikan kepada orang lain. Ajaib, mujizat? Bagi Allah semua itu semudah membalik telapak tangan.

Ini momentumku merapat padaNya. Mulai pakai jilbab untuk fokus belajar menjadi hamba kecintaanNya, meskipun dengan angin di sana, jilbabku lebih banyak diterbangkan angin daripada melekat pada rambutku hehe. Masih belajar, dan terus belajar. Mulai pula dengan segala ibadah sunnah yang luar biasa, tak terbayang sebelum aku merantau. Semua untuk "merapat" pada hanya satu Tuhan Yang Maha Esa, dan tak lagi minta ke yang lain... nggak ada lagi juga. Orang tua pun jauh. Mau ke mana? Memang hanya ke Allah. Hanya Allah yang ada.

Alhamdulillah hidup menjadi sangat mudah setelahnya. Allah buka semua nikmat dunia bagiku. Apapun yang aku minta dikabulkan. Dan benar kalau dibilang manusia yang kenal tauhid jadi tenang. Aku menjadi manusia yang jauh lebih tenang setelah ujian tadi berlalu. Jauh lebih "terpandu" dalam jalanNya. Dan luar biasa hadiahNya bagiku.

Sayangnya, aku menjadi sering lupa memberi "kredit" padaNya dalam kelapangan. Aku merasa semua adalah "hasil kerja kerasku" yang sesungguhnya tak ada apa-apanya dan tak mungkin terjadi tanpa izinNya.

Maka Allah beri ujian kedua: kanker payudara. Yang ini ternyata benar-benar ujian yang kusambut dengan happy. Aku sangat gembira mendapatkan ujian yang satu ini. UI itu prestis, tapi sekolah kanker lebih prestis lagi. Tak banyak yang bisa lolos masuk ke dalamnya. Aku makin merapat padaNya. Aku sadar dosa-dosaku sedang dicuci, bahagia rasanya. Sampai pernah ada yang mendoakan kesembuhanku, dan aku bilang, aku takut sembuh, dan jadi jauh dariNya. Aku ingin selalu dekat denganNya dan ujian ini efektif mengingatkanku padaNya.

Saat itu kemegahan dunia terus diberikan, dengan beban kerja yang jauh lebih ringan. Nikmat sekali. Sayangnya aku belum sadar akan dosaku untuk ingat bahwa ini semua adalah hadiahNya, bukan berkat kerja kerasku. Harga diriku masih menjadi tuhan kecil bagiku. Kerjaanku pun masih sering membuatku tak memprioritaskanNya. Inilah noda tauhid yang kulakukan saat itu, tuhan-tuhan yang mengganggu hubunganku dengan Penciptaku yang harusnya setiap detik menjadi priortasku. Ternyata ini ujian yang tak kusadari. Ini ujian yang lebih sulit. Dan aku belum lulus.

Terakhir, dikirimkan ujian terakhir untuk mengangkat noda itu. Berbagai hal terjadi untuk meruntuhkan harga diriku dan kerjaanku. Allah kirim orang untuk mengecilkanku, menghinaku, dan akhirnya melepas segala atribut yang pernah diberikanNya padaku. Aku berhenti bekerja, dan otomatis tak lagi punya penghasilan aktif, jabatan, power, reputasi, posisi, dan semua yang terkait dengannya. Sesungguhnya semua sudah aku rencanakan, dan tak serta merta diambil mendadak olehNya. Aku yang memang minta diambil. Tapi saat semua diambil, aku sempat gamang juga. Dan terakhir Allah ambil nikmat kekuatan fisik. Ini yang selama ini aku jadikan tuhan, yang kufikir membuatku mampu "bekerja keras" mengejar berbagai kemegahan dunia. Kali ini semua Allah ambil.

Ujian terakhir ini benar-benar signifikan. Gamang, sampai suamiku berkata, "Kamu kayak nggak punya Allah saja."

Jleb, iya.. kenapa bisa begini? Masya Allah... maka aku pun mulai ingat bahwa ada Allah. Semua memang tak ada, tapi ada Allah. Itu saja yang aku butuhkan. Hanya Allah. Akupun jadi tenang. Kurasakan bahwa semua diambilnya, karena Allah sendiri yang ingin mengurusku langsung, tanpa perantara. Ingin menimangku, membuatku istirahat setelah bekerja keras selama ini.

Tak ada penghasilan aktif? Ga papa, aku tahu beres. Allah kirim rejeki melalui suami.
Tak ada posisi, jabatan, power? Tak ada kekuatan fisik? Ga papa, ini saatnya untuk mulai mengenal diri, jiwa, hati, dan Allah. Tak butuh semua itu. Memang harus begini supaya bisa fokus belajar merasa dalam diam. Berhenti berfikir. Mulai merasa.
Tak ada siapa-siapa? Karena semua sibuk dengan dunia masing-masing? Ya iyalah. Tak perlu berharap pada manusia. Tidak juga pada suami dan keluarga. Hanya ada Allah, dan itu segalanya bagiku.

Pernah aku menangis. Tiba-tiba melalui imam shalat jamaah, Allah berkata, "semua ujianmu ini sudah ditakar, jalanin saja. Kamu mampu! Dan Aku selalu ada bersamamu. Kapan Aku pernah meninggalkanmu? Makanya kamu juga harus perhatikan orang lain seperti Aku selalu perhatikan kamu." Iya ya.. Allah bilang aku mampu. Ada Allah di sisiku. Butuh apa lagi? Ini cukup. Sejak saat itu aku punya "mantra" baru: "Allah bilang aku mampu" yang kuucapkan setiap kali ujian terasa berat. Dan itu cukup untuk menguatkanku menjalani ujian dengan percaya diri dan tenang.

Sempat aku merasa suamiku dan ibuku - dua energi terbesar dari Allah bagiku - sangat sibuk dan tak ada waktu untukku. Sampai Allah bilang, kan ada Aku. Semua bisa pergi, bisa pulang lho. Hanya Aku yang akan terus ada bersamamu. Masya Allah. Sejak saat itu tak pernah ada lagi aku berharap pada manusia. Ada Allah, kenapa butuh manusia kalau ada penciptanya. Kenapa berharap pada manusia yang tak bisa menciptakan yang kubutuhkan? Setiap detik, setiap momen aku butuh, Allah ada.

Aku belajar sangat banyak dari ujian terakhir ini. Dan meskipun Allah ambil banyak kemegaham yang pernah dihadiahkanNya padaku, Allah buka hal yang lebih penting: nikmat syukur. Tiba-tiba hatiku terbuka, mataku terbelalak. Sekelilingku begitu indahnya. Kenapa baru sadar sekarang? Rumah, suami yang luar biasa, ayah yang penuh cinta dan perhatian, ibu yang penuh energi dan inspirasi, anak-anak yang cantik dan pintar, pohon, bunga, burung... indah sekali. Semua menjadi orekstra indah setiap hari, sampai aku merasa penuh, sangat penuh. Apa sih yang kubutuhkan lagi? Semua disediakanNya, diatur khusus untukku. Mau apa lagi? Sekarang giliranku untuk membuktikan diri sebagai "abdi" yang menghamba padaNya dengan berbuat sesuatu untuk semua yang ada ini.

Ooh.. ternyata dengan merapat denganNya, Allah bukakan hati kita, ubah cara pandang kita, dan akhirnya semua ada solusinya.

Ujianku kali ini mengarahkanku hanya padaNya tanpa embel-embel, tanpa alat, tanpa apapun. Kini impianku adalah untuk melayaniNya, mencari bekal untuk siap bertemu denganNya. Saat ini rasanya belum cukup. Masih banyak hal yang Allah sukai dari hamba-hambaNya yang belum kumiliki. Maka sekarang ini yang ingin kucari. Kalau dulu aku senang mengejar "award" dari manusia, kini aku ingin mendapat "award" dariNya saja.

Ujian kali ini seperti memasukanku ke dalam kepompong untuk benar-benar siap mengubah kepribadian, cara pandang, cara bersikap yang lebih didasari tauhid. Ke dalam kawah candradimuka untuk bisa menggodogku agar siap menghadapi berbagai ujian di depan yang mungkin lebih berat lagi. Siap melangkah menghadapi berbagai halang rintang menuju Sang Maha Pencipta. Enaknya, Allah adalah satu-satunya Maha Guru yang memberikan ujian sambil menyediakan diri untuk memberikan jawaban. Aku terus bertanya hanya padaNya, konsultasi, mohon ampun, dan terus merapat padaNya sepanjang ujian berlangsung.

Semoga "La ila ha ilallah" tak lagi ternoda dalam hatiku mulai detik ini. Aku tahu masih banyak potensi untuk itu. Aku bisa merasakannya. Aku tetap manusia biasa. Alhamdulillah ujian kali ini melatihku untukmenjadi pengamat diri sendiri. Langkah selanjutnya adalah ujian yang lebih susah lagi: tauhid dalam kelapangan, kesehatan. Aku tak mau lagi tidak lulus seperti sebelumnya. Semoga aku terus bisa merapat padaNya setiap kali ada yang mengganggu tenang jiwaku. Karena kalau hanya ada Allah dalam hati, tak akan ada yang bisa mengganggu ketenangan jiwa.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2