Mohon tunggu...
Indah Novita
Indah Novita Mohon Tunggu... Hobi menulis dan membaca.

Perempuan Jawa yang tinggal di Makassar, mencintai dunia tulis-menulis, PNS, ibu empat anak, bersuamikan lelaki Bugis. Hidup adalah tak lelah belajar sesuatu yang baru, dan belajar tak harus di bangku sekolah. Karena pelajaran termahal adalah belajar di ruang kehidupan.

Selanjutnya

Tutup

Kisah Untuk Ramadan Pilihan

Tradisi Sahur: Selalu Ada Saat Telat Bangun

1 Mei 2021   07:07 Diperbarui: 1 Mei 2021   07:12 620 20 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Tradisi Sahur: Selalu Ada Saat Telat Bangun
Hidangan sahur sederhana dari dapur saya. Edisi lengkap.

Hai, selamat pagi. Bagaimana kabar Anda? Bagaimana sahur Anda tadi? Normal dengan waktu yang cukup untuk mengunyah makanan, atau terburu-buru karena terbangun dengan waktu subuh tinggal lima menit lagi? Hehehe.

Dari zaman saya menjadi anak, hingga sekarang menjadi emak, pasti selalu ada masa-masa terlambat bangun sahur. Sebenarnya terlambat ini nggak papa, sih, karena sebaiknya kita memang mengakhirkan sahur dan menyegerakan berbuka. Tapi kalau memiliki anak-anak yang susah dibangunkan, agak repot juga jika terlambat bangun untuk sahur. Kita yang sudah dewasa mungkin bisa saja sahur tergesa hanya dengan sebutir kurma dan segelas air kalau memang keadaan mengharuskan seperti itu. Kalau anak-anak, kasihan jika tidak makan hidangan lengkap. Nanti mereka lapar dan merengek saat maghrib masih jauh di ujung hari.

Ramadan kali ini saya sudah memikirkan kemungkinan telat bangun sahur itu. Jadi sejak awal saya memang memasang alarm di hape pukul 03.00. Perhitungannya jika saya terbangun jam segitu, masih ada waktu untuk masak dua jenis hidangan - satu sayur dan satu lauk - dari nol. Ditambah ngangetin sisa hidangan berbuka, maka hidangan sahur akan lebih beraneka. Ini komposisi yang paling ideal. Jam segitu juga saya masih ada waktu untuk menyempatkan salat tahajud dulu sebelum memulai aktivitas masak-masak. Pokoknya waktunya masih sangat panjang.

Antisipasi kedua datang dari bunyi alarm milik si sulung. Karena sulit sekali dibangunkan, papanya membelikan alarm khusus. Si sulung menyetelnya pukul 03.30. Bantuan dua alarm ini masih didukung garda terakhir, alarm hape suami yang ia setel pukul 04.00. Ini sudah yang paling terakhir, penyelamat mulusnya puasa ramadan kali ini, insyaAllah.

Oya, satu lagi sebenarnya ada juga panggilan sahur dari toa masjid, tapi ini kurang istiqomah. Kadang suaranya keras dan mengganggu, kadang pelan saja, kadang sangat singkat. Intinya ini bukan jenis bantuan bangun sahur yang saya andalkan. Letak masjid juga tidak terlalu dekat dengan rumah sehingga memang suaranya tidak terlalu kencang.

Pertanyaannya, apakah saya sudah mengalaminya? Telat bangun sahur? Jawabannya: tentu sudah! Hahaha.

Jadi ceritanya entah settingannya bagaimana, ternyata setelan alarm di hape saya salah dan saya harus menyetelnya tiap malam. Nggak otomatis bunyi tanpa saya harus otak-atik lagi. Akhirnya suatu saat saya lupa menyetelnya dan terbangun karena suami membangunkan. Sudah jam empat, ucapnya. Saya langsung bangun kelabakan. Mending kalau ada lebihan sisa berbuka yang bisa diangetin, kalau harus masak dari nol, tamatlah riwayat saya, hahaha. Di masa-masa seperti ini, maka upaya menyetok telur, sosis, naget, merupakan upaya yang sangat bermanfaat dan perlu!

Sejak telat bangun yang pertama itu, suami mengubah alarm hapenya menjadi 03.45. Ini sudah lumayan banget membantu saya jika saya tidak terbangun pukul 03.00.

Yang lucu adalah alarm punya si sulung. Hampir selalu setiap alarmnya bunyi, itu akan berbunyi lama - menemani saya memasak di dapur hingga selesai hidangan. Biasanya hidangan selesai pukul 04.00. Dan saat inilah saya membangunkan semua, termasuk suami - yang walaupun pasang alarm, kadang-kadang masih malas-malasan di kasur kalau tahu saya bangun tepat waktu pukul 03.00 dan sudah memasak. Nah, dua dari tiga anak saya tidur di lantai atas. Tidak cukup bila membangunkan mereka dengan teriakan saja. Maka rutin setelah hidangan siap pukul 04.00, saya akan naik ke kamar mereka, membangunkan si tengah - lalu membangunkan si sulung, plus mematikan alarm si sulung yang sudah lelah menjerit-jerit di sebelah telinganya persis selama 30 menit, hahaha.

"Nggak dengar!" begitu alasannya tiap saya omeli. Padahal saya yang di lantai bawah saja merasa berisik mendengar alarmnya nggak mati-mati. Pendengaran si sulung sebenarnya aman-aman saja, cuma kebiasaan tidurnya itu yang terlalu pules les.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN