Mohon tunggu...
Imron Fhatoni
Imron Fhatoni Mohon Tunggu... Pelajar

imronfhatoni.blogspot.com

Selanjutnya

Tutup

Film Pilihan

Usai Menonton Film "Joker"

13 Oktober 2019   06:56 Diperbarui: 13 Oktober 2019   07:59 0 1 0 Mohon Tunggu...
Usai Menonton Film "Joker"
sumber: Warner Bros

Di balik setiap sosok, selalu terdapat kisah-kisah yang menarik untuk ditelusuri. Selalu ada "the turning point" atau titik balik yang mengubah haluan hidup seseorang. Selalu ada proses dan pengalaman personal yang kemudian membuat seseorang memilih untuk berada pada posisi tertentu.

Film Joker menguak satu sisi yang selama ini tidak pernah diketahui orang. Tadinya, saya kira cerita film ini akan mempertegas mengapa musuh abadi Batman itu layak dibenci. Ternyata salah. Setelah menonton Joker, saya malah diam-diam menaruh simpati pada pergulatan hidup pelawak malang itu. Saya melihat satu kontras.

Dalam film Batman, Joker dikenal sebagai penjahat jenaka namun sadis. Ia memiliki senyum khas yang mengerikan. Joker adalah teror yang mencekam penduduk Gotham. Ia adalah dalang dari segala kerusuhan.

Tapi dibalik semua karakter buruk yang disematkan kepadanya, pernahkah kita berfikir apa yang sebenarnya melatarbelakangi karakter itu? Apakah Joker memang dilahirkan untuk menebar ketakutan? Apakah ia memang layak dibenci?

Lelaki kurus itu nampak sumringah. Ia selalu berusaha tersenyum saat bertemu banyak orang. Ia, lelaki yang memiliki gangguan mental itu bekerja sebagai badut. Namanya Arthur Fleck. 

Ia adalah pelawak yang tinggal di apartemen kumuh Kota Gotham bersama ibunya Peny Fleck. Arthur sangat terobsesi menjadi seorang komika atau stand up comedian. Demi mimpi besarnya itu, Ia rela melakukan apa saja.

Arthur mengambil semua job pertunjukan. Ia menghibur semua orang. Ia menjalani suka duka sebagai badut. Hanya dengan terus menebar senyum dan menyenangkan hati semua orang, dia mendapat uang. Namun sebagaimana banyak orang lain di luar sana, hari-hari Arthur tak selalu berjalan lancar.

Ia kerap mendapat perlakuan tak menyenangkan dari lingkungan sekitarnya. Ia memiliki gangguan psikologis dan mengidap Pathological laughter and crying (PLC), yang kerap membuatnya tertawa saat menghadapi tekanan emosi. Hal ini pula yang menyebabkan ia sering dikucilkan.

Sepanjang film ini, kita bisa menyaksikan betapa malangnya kehidupan seorang Arthur Fleck. Ia tidak hanya harus berjuang melawan gangguan kejiwaan, tetapi juga karir dan ekonomi. Beragam kekerasan fisik dan mental terpaksa ia terima. 

Padahal, ia hanya seorang badut dengan penghasilan tak seberapa. Masa depannya sehitam lorong-lorong jalan kota Gotham. Kehidupan sama sekali tak memihak pada lelaki itu.

Suatu waktu, Arthur yang saat itu baru saja dipecat, terlibat konflik dengan 3 pemuda di kereta. Ia dikeroyok hingga hampir tak sadarkan diri. Lalu sejurus kemudian, suara sesuatu terdengar menggelegar. "...DOR...". Arthur menembak mereka. Inilah pembunuhan pertama yang dilakukan Joker.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x