Mohon tunggu...
M Imron Fauzi
M Imron Fauzi Mohon Tunggu... Mahasiswa

Duniaku BUMI MANUSIA dengan segala persoalannya. -Minke

Selanjutnya

Tutup

Edukasi

Masih Dianggap Pentingkah Pendidikan Formal Itu?

27 Februari 2020   17:21 Diperbarui: 28 Februari 2020   13:11 50 0 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Masih Dianggap Pentingkah Pendidikan Formal Itu?
ilustrasi: steemit.com

"Pendidikan adalah senjata, yang efeknya tergantung pada siapa yang memegang ditangannya dan kepada siapa itu di tunjukkan." -Josep Stallin.
Pendidikan merupakan aset termahal bagi sebuah bangsa dalam membangun jatidiri serta menjaga eksistensinya. Harapan-harapan terhadap sosok "manusia masa depan" merupakan suatu yang lumrah jika melihat ketekunan para pelajar dalam menjalani proses pendidikan. 

Ekspektasi yang sangat tinggi terhadap keberhasilan pendidikan dalam membentuk manusia yang berpengetahuan serta mampu mengemban tanggung jawab dalam melaksanakan tongkat estafet kepemimpinan, tentu mendorong sebuah bangsa agar bersikap tegas dan serius dalam menyelesaikan segala persoalan pendidikan.

Dewasa ini, disaat sistem pendidikan Indonesia yang masih belum jelas arah dan tujuannya, nyatanya animo masyarakat dalam menyekolahkan putra-putrinya masih sangat tinggi, karena diharapkan setelah menempuh dunai pendidikan masa depan yang cerah serta kesuksesan akan mudah dicapainya. Namun dilain sisi, banyak orang tua murid yang merasa tercekik dengan biaya pendidikan yang mahal, meski begitu mereka tetap tetap mencari tempat pendidikan yang menurutnya berkualitas, sekalipun mahal.

Dengan kondisi biaya pendidikan yang mahal, tentu tak sedikit pula dari orang tua murid yang secara terpaksa mengurungkan niat untuk menyekolahkan anaknya. Alasanya sudah jelas, yakni menganggap sangat mustahil mampu membiayai sekolah. Sekalipun dipaksakan untuk tetap sekolah, hal tersebut dianggap tidak menjamin dapat merubah keadaan.

Bagi golongan masyarakat miskin, pendidikan memang masalah yang sangat dilematis. Di satu sisi kemiskinan yang membuat mereka tidak bisa mengenyam pendidikan sekolah formal. Namun di sisi lain, karena tidak bersekolah juga yang membuat mereka kesulitan untuk keluar dari lingkaran kemiskinan. Bagi mereka, pendidikan itu dianggap sebagai beban karena apriori bahwa pendidikan justru memiskinkan kehidupan mereka.
Telah kita ketahui bersama bahwa ilmu pengetahuan tidak hanya diperoleh dari dalam kelas saja. 

Pada realitanya, memang sistem pendidikan formal yang diterapkan saat ini sangat menjauhkan dari kondisi dan realita sosial. Bahkan sekolah pun kini hanya menonjolkan kemegahan gedung-gedungnya dan dikomersialkan. Dengan demikian, bukankan sudah jelas bahwa untuk menjadi manusia yang pintar dan berpengetahuan tidak mengharuskan melalui jalan masuk ke sekolah formal?

Ivan Illich, salah seorang tokoh radikal humanis memiliki karya yang berjudul "Deschooling Society" (Masyarakat Tanpa Sekolah) merupakan bentuk penolakan secara kompehenrensif terhadap sekolah formal. Menurutnya, sekolah formal dianggap tidak mampu memadai bagi perkembangan anak-anak dan kaum muda. Illich meyakini bahwa jika diterapkan konsep masayarakat tanpa sekolah tentu akan menjadikan siswa mendapatkan kebebasan dalam belajar tanpa harus bersusah payah memperolehnya dari masyarakat.

Illich sangat tidak sepakat dan menentang dengan tegas pandangan yang menganggap bahwa pengetahuan dan keterampilan hanya bisa diperoleh dari sekolah formal saja. Sebab, pada kenyataanya sekolah bukanlah satu-satunya lembaga modern yang mampu membentuk pandangan manusia menjadi realita. Lebih ekstrimnya lagi, Illich mengkritik bahwa sekolah jauh lebih memperbudak orang dengan cara yang lebih sistematis, karena hanya sekolah yang dianggap mampu untuk melaksanakan tugas utama pendidikan, yaitu membentuk penilaian yang kritis.

Lebih jauh, Ivan Illich memiliki pandangan bahwa sebuah sistem pendidikan seharusnya memberikan kemudahan dan kesempatan kepada semua orang untuk mendapatkan sumber belajar pada setiap saat. Kemudian, memungkinkan semua orang mentransferkan pengetahuannya kepada orang lain dapat dilakukan dengan mudah. Pun sebaliknya, yakni orang yang ingin mendapatkannya. Sehingga, menjamin tersedianya masukan umum yang berkenaan dengan pendidikan.  

Sejumlah penggagas lain juga banyak yang melontorkan pesimisme mereka terhadap lembaga pendidikan formal. Seperti yang tertuang dalam buku tulisan Eko Prasetyo "Orang Miskin Dilarang Sekolah". Tulisan Andreas Harefa dengan judul, "Sekolah Saja Tidak Pernah Cukup" dan  "Sukses Tanpa Gelar". Darmaningtyas juga memiliki tulisan yang berjudul "Pendidikan Yang Memiskinkan" dan "Pendidikan Rusak-Rusakan". 

Zageus juga menulis "Kalau Mau Kaya, Ngapain Sekolah". Diluar negeri ada  Robert T Kiyosaki menulis tentang ("If You Want To Be Rich and Happy, Don't Go To School", dan "Rich Dad, Poor Dad") juga menyuarakan soal pesimismenya terhadap sekolah formal, dan sebagainya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x