Mohon tunggu...
Imran Rusli
Imran Rusli Mohon Tunggu...

Penulis dan jurnalis sejak 1986

Selanjutnya

Tutup

Birokrasi

Tanah Abang, Tak Kunjung Lengang (15)

16 Agustus 2015   23:39 Diperbarui: 16 Agustus 2015   23:39 116 2 2 Mohon Tunggu...

Pusat Grosir tanah Abang (PGTA) diserbu produk China sejak tahun 2003, namun produk lokal tak mau kalah, Tasikmalaya dan lain-lain berusaha mengimbangi dan mencoba merebut lagi pasar dalam negeri...

Pengusaha konveksi pakaian anak, Chairuddin, mengatakan, selain murah, produk China juga unggul dalam desain. Stelan baju tidur anak perempuan, misalnya, kalau produk China dijual seharga Rp 350.000 per kodi (20 pasang atau Rp 17.500 per pasang). Produk lokal yg sejenis harganya lebih dari Rp 400.000 per kodi atau Rp 20.000 per pasang. Stelan pakaian anak-anak yg terdiri dari celana, rompi, dan kaus diperdagangkan hanya Rp 40.000 per pasang. Sementara itu, (hanya) celana anak- anak produk dalam negeri dijual dengan harga Rp 30.000 per potong.

”Dari dulu desain mereka unggul, tetapi dulu hanya produk Hongkong yang masuk dan harganya relatif lebih mahal dari produk dalam negeri. Sekarang produk China yang non-Hongkong pun masuk, itu yang dijual sangat murah,” ujar pengusaha konveksi di sentra garmen Buncit Raya Jakarta ini.

Murahnya harga produk garmen dari China, lanjut Chairuddin, karena harga bahan bakunya relatif lebih murah daripada tekstil dan perlengkapan konveksi produk Indonesia. ”Kalau upah tukang jahit, kita sudah sangat murah. Baju tidur, setelan celana dan baju, ongkos jahitnya cuma Rp 400 per potong. Bahan bakunya yang mahal, apalagi setelah kenaikan harga BBM (bahan bakar minyak),” katanya.

"Di China pengusaha tak dibebani segala tetek bengek pungutan oleh negara. Kebijakan Pemerintah China untuk mensupport pengusaha tekstilnya antara lain: dengan menerapkan bea masuk impor nol persen sesuai dengan tuntutan perdagangan bebas (ACFTA); mematok mata uang China, Yuan, dengan kurs tetap; menurunkan suku bunga pinjaman bank," kata H. Aris yang pernah beberapa kali ke Guang Zhao, bank-bank pemerintah di China memberlakukan bunga pinjaman yang sangat rendah kepada perusahaan tekstil dan garmen yang memiliki buruh lebih dari 150 orang; Pemerintah China juga memberi pinjaman lunak berbunga rendah kepada importir dari Indonesia atau Nigeria dengan tempo pengembalian yang lebih lama; mereka juga membangun infrastruktur transportasi besar-besaran seperti jalan raya, rel kereta api dan pelabuhan untuk menurunkan biaya angkut logistik. Selain itu birokrasi sangat efektif dan efisien, tidak seperti di Indonesia yang banyak sekali ‘meja’ lengkap dengan pungutan liarnya.

Yang lebih hebat adalah layanan super cepat mereka. Beberapa pedagang di Pusat Grosir Tanah Abang mengatakan kalau memesan mukena, jilbab atau gamis ke Guang Zhao, datangnya lebih cepat dibanding memesan ke Tasikmalaya. Ini kenyataan yang tak bisa dibantah. Kondisi barang juga dipastikan baik-baik saja, kalau ada yang cacat bisa direject tanpa banyak prosedur.
Fakta ini cukup mendebarkan, apalagi produk tekstil dan garmen China yang menyerbu Pusat Grosir Tanah Abang tersebut termasuk batik. Meski cuma batik printing dan bukan batik tangan, kenyataan ini bisa mengguncang sentra batik Indonesia seperti Pekalongan, Solo, Ypgjakarta dan Jepara. Data Badan Pusat Statistik (BPS) 2012 tercatat sebanyak 1.037 ton produk batik yang masuk dari China ke Indonesia dengan nilai USD 30 juta atau sekitar Rp 294 miliar.

Namun segala kelebihan produk tekstil dan garmen asal China ini tak membuat semua produsen lokal patah semangat. Masih banyak produsen lokal yang tetap bertahan meski dengan susah payah. Sebagian pedagang juga masih memperlihatkan optimisme untuk kebangkitan produk tekstil dan garmen Indonesia. “Asal pemerintah mau membantu seperti apa yang dilakukan pemerintah China terhadap pengusaha dan pedagangnya, saya yakin produk tekstildan garmen lokal akan kembali Berjaya, [caption caption="Produk orea dan Jepang juga banyakmenyerbu Pusat Grosir Tanah Abang"][/caption]masalahnya kualitasnya jauh lebih bagus menurut saya,” ujar Jidah Nazwa Naiya (50), seorang pedagang di Blok B Lantai B1 Pusat Grosir Tanah Abang.

Alasan Jidah sederhana saja, produk China adalah produk massal yang berskala super besar, sementara produk lokal agak terbatas, bahkan banyak yang sengaja membatasi produknya menjadi produk ekslusif. “Orang Indonesia itu suka berbeda dari yang lain, dia bangga kalau pakaiannya tidak sama dengan teman atau tetangganya,” katanya.

VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x