Media

Ada Apa dengan Agama?

14 September 2017   19:33 Diperbarui: 14 September 2017   19:44 194 0 0

Ada Apa Dengan Agama?

 

Kebenaran datang dari mana-mana, bukan hanya sebagian kecil dari ajaran. Untuk itu kita tidak dapat mencela pendapat yang lain selain pendapat kita sendiri.

 

Semua Agama mengajarkan kebaikan kepada seluruh pemeluknya. Tidak ada agama satupun yang membuat para pemeluknya menjadi manusia yang tidak manusiawi; kekerasan, vandalisme, intoleransi, dan perbuatan yang sejenisnya. Seperti kita tahu bahwa agama mengajarkan dua hal yang penting, hubungan kepada Tuhan dan hubungan kepada sesama manusia. Jika kedua hubungan tersebut tidak dicerminkan dalam berperilaku.
(Zubaidilah Abdullah, Mahasiswa Fakultas Tarbiyah UIN Malang )

 

Ada seorang tokoh nasional bernama Nurcholis Majid yang memberikan solusi terhadap pelaku umat beragama dalam kehidupan sehari-hari. Cak Nur, panggilan akrab beliau, berkata bahwa kebanyakan manusia beragama seringkali disebabkan karena sikap inkulsif terhadap adanya ajaran agama lain. Merasa paling benar ajaran agamanya, menyalahkan ajaran agama lain dan sikap intolerani yang berpotensi menjadi konflik, perang dan kekejaman yang lain.
(Aribek Mohammad, Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Malang)

 

Mengapa harus agama yang dijadikan tameng?  Massa merupakan kelompok manusia yang sedang bersatu dalam suatu misi tertentu. Jiwa dalam manusia yang tergabung dalam suatu masa akan terppecah dan bersatu dengan jiwa manusia lain dalam kelompok tersebut. Jiwa mereka menjadi satu jiwa yang mudah digerakkan dan mudah ditaklukkan dalam berbagai tujuan.
(Mifathul Ulum, Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Malang)

 

Kajian ontologis mengenai agama tentu  tidak bisa dilepas dari masing-masing ajaran. Namun, semua agama dengan berbagai ajaran terdapat benang merah yang muncul. Masing-masing agama sama-sama memiliki Tuhan yang membuat para pemeluknya menjalankan dogma. Dalam ketidak berhasilan melaksanakan ajaran, perlu adanya kesadaran bagi para umat beragama untuk saling mengoreksi diri sendiri supaya pemahaman tidak terbatasi.
(Muadzin, Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Malang)

 

Beragama bagaikan melukis orang, harus tampak seluruh bagian tubuh supaya dikatakan menjadi orang yang utuh.
(Saiful Islam, Mahasiswa Fakultas Syariah UIN Malang)

 

Sejauh yang saya amati dari fenomena yang ada, kebanyakn masyrakat masih memandang bahwa agama merupakan kebenaran. Akhirnya jika fokus agama hanya kebenaran, dapat berakibat perpecahan, dan konflik.
(Ms Rijal Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Malang)

 

Menerjemahkan konflik harus berdasarkan kepandaian wawasan yang kritis supaya solusi yang diberikan tidak menyebabkan masalah baru.  Seperti upaya yang dilakukan dalam konflik Rohingnya di Indonesia, sangat tidak pantas menanggulangi konflik tersebut dengan tidak tepat pada sasaran; demo Borobudur.
(Nugroho, Mahasiswa Fakultas Fisip Unibraw)

 

Berbicara soal agama tidak akan jauh dengan namanya kekuasaan. Tidak ada kekuatan lebih besar di dunia selain agama. Disamping mampu menjadi pedoman umat manusia, namun juga mampu mengubah perilaku pemeluknya sesuai pemahaman keyakinannya mengenai agama.(Johan Firmansyah, Mahasiswa Fakultas Psikologi UIN Malang)

 

Tidak ada kebenaran absolut. Semua kebenaran bisa dikatakan benar. Tak luput juga dengan agama. Karakter manusia khususnya di Indonesia adalah para manusia yang memiliki solidaritas tinggi. Tak heran jika solidaritas tersebut mudah dimanfaatkan untuk tujuan-tujuan yang bertentangan dengan kedamaian.
(Brengyhuarta Rahman, Mahasiswa Fakultas Humaniora UIN Malang)

 

Agama sangat rentan sekali dengan tunggangan kepentingan politik. Pembelaan atas nama agama merupakan salah satu contohnya.

(Obi Khoirul Anam, Mahasiswa PAI UNISMA)

 

Saya menawarkan ajaran agama baru, dimana tidak ada kata maaf dan terimakasih. Bagi saya, kerusuhan yang berkaitan dengan issue agama sangat menguntungkan bagi media. Kata maaf dan terimakasih kepada hal yang tidak berguna akan melemahkan diri kita.

(Bertus, Mahasiswa FakultasTarbiyah UIN Malang)



Majelis Berpikir, Rabu, 13 Sept 2017 @KopiLanang