Mohon tunggu...
Humaniora

'Ibu Indonesia' yang Menjadi Buah Bibir

4 April 2018   00:20 Diperbarui: 4 April 2018   00:30 0 2 0 Mohon Tunggu...
'Ibu Indonesia' yang Menjadi Buah Bibir
hidayatullah.com

Sudah dengar puisi 'Ibu Indonesia' karya Bu Sukmawati? Apa tanggapanmu saat pertama kali mendengarkannya? Semua orang akan merasa apa maksud dari puisi tersebut? Mengapa membawa-bawa cadar, adzan, bahkan syariat Islam?

Sebenarnya saya paham dan mengerti apa maksud dari puisi tersebut, tetapi mengapa beliau membawa sesuatu yang sensitif untuk dijadikan sebuah karangan yang dipertontonkan kepada khalayak. Puisi tersebut tentu akan dapat dinikmati semua khalayak jika tidak membawa-bawa sesuatu yang berkaitan dengan agama.

Tentu dalam waktu singkat video yang memuat puisi tersebut viral.Puisi yang dibacakan dalam acara '29 Tahun Anne Avantie Berkarya' di Indonesia Fashion Week 2018 dan membawa perdebatan di masyarakat. Ada yang menganggap puisi tersebut mengandung SARA, tetapi pernyataan itu dibantah oleh Bu Sukmawati. Beliau menyatakan bahwa beliau adalah seorang budayawati yang sedang mengarang puisi.

Ada banyak tanggapan yang muncul dari masyarakat. Dari komentar di media sosial yang memberi saran hingga yang keras sekalipun. Bahkan banyak bermunculan puisi-puisi balasan untuk Bu Sukmawati. Seperti contohnya adalah puisi balasan dari Ustadz Felix Siauw dengan judul 'Kamu Tak Tahu Syariat'.

Puisi tersebut berisi tentang himbauan agar lebih baik diam daripada bicara tanpa ilmu dan menyesatkan atau seharusnya belajar syariat Islam bukan malah berpuisi. Karena dalam puisi Ibu Indonesia ada pernyataan "Aku tak tahu syariat Islam". Dalam puisi Ustadz Felix Siauw juga dituliskan bahwa membandingkan konde dengan cadar adalah suatu yang menggelikan. Dan masih banyak puisi-puisi lain yang menyatakan tidak setuju dengan puisi 'Ibu Indonesia'.

Selain itu banyak pihak juga meminta Bu Sukmawati untuk segara memberikan klarifikasi dan meminta maaf. Masalah-masalah semacam ini seharusnya kita hindari. Karena bisa menimbulkan pro dan kontra serta membawa perpecahan di masyarakat.

Puisi tersebut juga akan sampai pada pendengarnya dengan tanpa membandingkan sesuatu yang tidak seharusnya dibandingkan. Terlebih lagi ini menyangkut urusan agama yang sangat sensitif untuk dibandingkan bagi para penganutnya. Bisa saja hal semacam ini juga berpotensi menghancurkan kerukunan antar umat beragama.

Saya tidak mengerti bagaimana seorang budayawati menciptakan puisi, tetapi alangkah lebih baiknya jika puisi tersebut diciptakan untuk kemaslahatan bersama tanpa memicu timbulnya kontroversi.