Analisis

"Anies Dibuang, Anies Disayang"

11 Januari 2019   11:25 Diperbarui: 11 Januari 2019   12:33 330 2 2
"Anies Dibuang, Anies Disayang"
Pose Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Konferensi Nasional Partai Gerindra. (foto: detik/Lamhot Aritonang)

Bawaslu rasa Timses memang tidak begitu berhasil membungkam kharisma Anies Baswedan. Hal yang di soal tentang pilihan pose jari tangan antara Anies Baswedan dan beberapa kepala daerah lainnya yang malahan terang-terangan dukungannya kepada rezim ternyata memiliki standar yang banyak. Tidak lagi sekedar ganda. Anies di rasa kubu petahana adalah lampu pijar yang sanggup menarik jutaan laron berdatangan ke Prabowo Subianto.

Ancaman Bawaslu tidak tanggung-tanggung, tiga tahun penjara. Anies takut? Bukan Anies yang takut, malahan para Anieser, --sebuah sebutan bagi rakyat yang memiliki akal sehat --  yang meradang. Bahkan di media sosial mereka sudah mulai warming-up,  para pendukung Anies di Pilkada dan kemungkinan juga para pendukung Anies se-Indonesia akan menjanjikan aksi yang lebih keren ketimbang 212 kemaren. Masih tetap mau mencoba wahai Bawaslu?

Untung saja beberapa pihak dari kubu penantang masih mau menggunakan cara damai yakni dengan juga melaporkan para kepala daerah bahkan beberapa menteri kabinet Jokowi kepada Bawaslu. Dan mereka seakan menguji independensi dan netralitas Bawaslu. Sekaligus juga menyadarkan badan pengawas tersebut bahwa duit yang mereka terima per bulan adalah duit rakyat dan bukan duit dari para Golfer yang tajir melintir.

Bagi kubu petahana citra dan kharisma Anies di pandang jauh berbeda levelnya, bahkan jika dibandingkan dengan Luhut Binsar sekalipun. Cara Anies mengakhiri pidato di acara tertutup Partai Gerindra di sela-sela cuti yang dia ambil dinilai memiliki daya magis. Di anggap akan menstimulir para undecided voters untuk segera menjatuhkan pilihannya kepada pasangan yang di pilih Gubernur DKI Jakarta ini. 

Dan sekali lagi, produk pollsters yang memiliki perangai sama seperti VA, inisial dari sosok artis kontroversial yang di duga melacurkan dirinya dengan angka bayaran cukup fantastis. Rilisan dari survei mereka yang memiliki info sexy, seperti angka elektabilitas dan angka popularitas yang menentramkan psikologis tersebut ternyata tidak sama dengan penampakan gesture dan kepercayaan diri rezim yang berkuasa tersebut. Angka-angka yang selalu dibombardir kepada publik tersebut ternyata tidak linier dengan sikap-sikap publik. Orgasme palsu yang berharga mahal.

Begitu banyak indikator yang bisa dipakai. Salah satunya adalah sepinya setiap kegiatan penggalangan massa yang dilakukan oleh petahana. Bahkan sikap "kurang ajar" penduduk pulau Madura yang "mengusir" Jokowi saat menghadiri Temu Relawan di pulau garam tersebut menegaskan bahwa kerjaan Denny JA dan Syaiful Mudjani sejatinya adalah syahwat tipu-tipu karena memang tidak sinkron dengan gestur politik publik.

Pilihan Jokowi untuk menjilat kembali ludah terpaksa dipilih. Jokowi mulai membangun keakraban kembali dengan Anies Baswedan. Beberapa pertemuan yang diatur sedemikian rupa oleh pihak protokoler Istana antara Jokowi dengan Anies Baswedan diharapkan bisa menjadi pintu masuk Jokowi untuk meraup suara pemilih. 

Itu yang terlihat, setidaknya asumsi ini berangkat dari gerahnya Joko dengan stagnannya pergerakan angka-angka yang dijadikan sebagai parameter kinerja timses. Sosok Ma'ruf Amien yang terlalu cepat bertransformasi dari sosok ulama yang teduh menjadi politisi kemaruk membuat publik malahan menjadi antipati. Publik yang di incar semasa pemilihan mantan Ketua MUI ini ternyata melengos. Sebuah blunder besar yang diciptakan oleh kubu petahana.

"Orang-orang kira saya dengan Pak Anies itu ada masalah, ada masalah gimana? Orang setiap hari ketemu, guyon bareng," Hal itu diungkapkan Presiden Jokowi saat berpidato pada acara penyerahan sertifikat lahan ke 3.023 orang di Gedung Serbaguna Cendrawasih, Cengkareng, Jakarta Barat, Rabu (9/1/2019).

Penulis meyakini anggapan bahwa Jokowi tengah berusaha menarik simpati publik agar memilih dirinya dengan memberikan kesan bahwa dirinya dan Anies Baswedan tidak memiliki masalah adalah sebuah pernyataan yang bertolak belakang dengan keadaan sebenarnya akan di-amini oleh para pendukung Jokowi yang fanatik, die harder dan pendukung garis keras. Untuk membaca pembaca penulis menyarankan untuk mencari di Twitter. 

Bacalah cuitan para pendukung Jokowi, bagaimana mereka mencaci maki, membunuh karakter mantan Mendikbud dan timses Jokowi di tahun 2014 lalu. Bagi pendukung Jokowi, Anies Baswedan adalah racun politik yang tidak memiliki nilai sedikitpun.

Dan Pilkada Jakarta kemaren adalah titik balik Anies sebagai individu. From zero to hero. Rakyat Jakarta yang nalarnya lurus membalikkan anggapan para pendukung Jokowi yang lupa sejarah. Apalagi kebijakan demi kebijakan Anies selaku orang nomor satu di Ibukota itu menunjukkan keberpihakan kepada wong cilik dan rakyat kecil. Anies menjelma menjadi pahlawan rakyat Jakarta. 

Proyek Reklamasi yang menjadi representasi kelompok minoritas yang rakus disikat Anies tanpa ampun. Proyek yang dianggap menjadi kepanjangan tangan kepentingan bisnis para kroni di belakang Jokowi tuntas di era Anies. Proyek tersebut dihentikan tanpa syarat.

Anies menjadi ikon perlawanan publik. Dan "konyolnya" posisinya di kubu penantang. Jokowi ngeper dan kalang kabut. Pilihan tidak ada selain mendekati Anies sedemikian rupa. Upaya terlihat "dekat" tersebut bisa menjadi langkah awal para voters mempertimbangkan menjatuhkan pilihannya ke Jokowi. Demikian kurang lebih.

Jokowi berlari kencang untuk memastikan para undecided voters atau pemilih yang masih dalam tahap mempertimbangkan pilihan politiknya. Angka selisih yang --katanya para pollsters--sebesar 20% adalah angka yang menakutkan. Upaya dan kerja keras harus dilakukan. Belum lagi konsep berdebat tertutup (para paslon boleh mengajukan pertanyaan yang tidak dipersiapkan oleh panelis) yang bisa saja berubah menjadi ajang pembantaian dirinya di panggung debat nanti. 

Kalau para true beliefers di masing-masing kandidat sudah terpatok sedemikian rupa, ekspektasi untuk memenangkan kontestasi adalah dengan meraup sebanyak mungkin pemilik suara yang tengah mempertimbangkan pilihannya.

Caranya? Dekati Anies Baswedan. Citrakan tidak ada masalah yang substansial antara Jokowi dengan Anies Baswedan. Kosmetika politis yang sudah di antisipasi oleh nalar publik. Jualan pencitraan saat ini sudah tidak lagi mempan untuk membuat seseorang jadi memilih Jokowi.

Salam Ujung Citra!