Kandidat

Sesumbar Ma'ruf Amien, Pembangunan Akan Macet Jika Jokowi "Keok"

10 Januari 2019   11:54 Diperbarui: 10 Januari 2019   12:40 326 5 0

"Sebab, kalau sudah ada milestone, ada landasan tapi tidak dilanjutkan, itu akan terbengkalai apa yang sudah diletakkan oleh pak Jokowi, misalnya infrastruktur, tak ada kelanjutannya, maka tidak akan kasih manfaat besar lagi," kata calon wakil presiden nomor urut 01, Ma'ruf Amin memprediksi pembangunan infrastruktur yang masif akan terbengkalai bila Joko Widodo tak terpilih kembali sebagai presiden di periode 2019-2024. 

*****

Mantan Ketua MUI dan Rais Aam PB NU ini seakan memiliki kemampuan melesat menembus dinding waktu dan sesumbar bahwa pembangunan akan macet atau berhenti jika Jokowi gagal melanjutkan kekuasaannya dan sekaligus kegagalan dirinya menduduki orang nomor dua di Republik ini. Pria uzur 75 tahun ini meyakini Jokowi telah memiliki landasan dari sekian banyak proyek infrastruktur yang membuat keuangan negara megap-megap tanpa kejelasan manfaat bagi rakyat Indonesia.

Itu pun belum diimbuhi oleh pernyataan pedas Bank Dunia dalam laporannya  bertajuk Infrastructure Sector Assessment Program (InfraSAP) yang mengkritisi kualitas proyek infrastruktur yang rendah. 

Dalam beberapa insiden bahka kejadian yang merenggut nyawa seperti kasus di longosrnya underpass Kereta Bandara Soekarno-Hatta dan ambruknya beberapa proyek jalan tol  menegaskan memang proyek-proyek tersebut memang terkategorikan sebagai proyek pencitraan yang menafikan uji kelayakan dan beberapa tahapan yang seharusnya sampai adanya pelaksanaan pembangunan fisik. 

Kesan seorang Bandung Bondowoso yang tergila-gila dengan kecantikan ROro Jonggrang yang dia fikir mematok harga berupa adanya seribu candi yang bisa diselesaikan dalam lima tahun sangat kentara. Padahal Roro Jonggrang tidak berkeinginan sedikitpun untuk pengadaan seribu candi. Dan bisa-bisanya Bandung untuk ugal-ugalan hingga berhutang kesana-kemari.

Ternyata candi yang terbangun baru sebesar 54% dari seribu janji proyek candinisasi. Dan Ma'ruf Amien berkelakar bahwa jika Jokowi ternyata gagal menang maka gagal pula melanjutkan pembangunan proyek impiannya tersebut. Padahal simpel saja, apa betul pembangunan yang di gadang-gadang sebagai hasil oleh fikir, olah kreasi dan dieksekusi pada era Jokowi tersebut akan betul-betul mandeg?

Simpel saja, pertama apakah betul rakyat membutuhkan, bukan karena diinginkan. Asas manfaat harus sertamerta diperhitungkan dalam pembangunan fisik. Banyak contoh kasus proyek-proyek yang diduga menghisap dana-dana yang teralokasi untuk kepentingan lain tersebut minim manfaat. Seperti argumentasi Jokowi bahwa penyegeraan penyelesaian tol Trans Jawa atau Trans Sumatera terkait konektifitas. Nalar publik dipaksa bengkok karena persepsi yang dibangun rezim ini adalah, jika tidak ada transjawa maka tidak ada konektifitas antar daerah. Sebuah bangunan logika yang jauh dari kebenaran.

Ma'ruf Amien harus "belajar" menjauhi asumsi atau prasangka, karena beliau ini adalah mantan Ketua MUI maka sesuai rasanya jika penulis mengutip sebuah ayat yang bisa dijadikan referensi pria kelahiran Kresek, Tangerang ini kedepan untuk lebih irit merilis pernyataan yang kontroversial.

"Wahai orang-orang yang beriman! Jauhilah banyak dari prasangka, sesungguhnya sebagian prasangka itu dosa dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain dan janganlah ada di antara kamu yang menggunjing sebagian yang lain. Apakah ada di antara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Tentu kamu merasa jijik. Dan bertakwalah kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha Penerima tobat, Maha Penyayang." [QS Al Hujurat : 12]

Kalau pun pada akhirnya semua proyek-proyek mercusuar Jokowi tersebut tidak akan dilanjutkan, semisalnya proyek Trans Papua yang katanya telah dibangun oleh Jokowi ratusan kilometer itu dihentikan oleh penantang, maka apa pun bentuk kompensasi dari penghentian proyek tersebut tetap harus didasari atas nilai "keadilan dan kemakmuran" bagi seluruh rakyat Indonesia. Sejauh mana manfaat pembangunan jalan Toll (kata para pendukung Jokowi yang militan) tersebut? Apakah betul akan memberikan manfaat yang berarti? 

Jika dijadikan bahan lelucon, bisa jadi Ma'ruf Amien sedang memproyeksikan adanya ratusan Esemka lalu lalang di Trans Papua tersebut karena harga ekonomis yang ditawarkan oleh Mobnas tersebut sangat terjangkau oleh masyarakat Indonesia. Sebuah proyeksi yang bagus (visioner) dan menyenangkan tentu saja. Tapi setidaknya Ma'ruf Amien tentu harus bisa meyakinkan publik terlebih dahulu bahwa memang telah diluncurkannya proyek Mobnas tersebut bulan Oktober lalu.

Sebaiknya paslon ini mulai lebih intens bertemu dan bertatap muka untuk sinergi yang kuat guna menghadapi serbuan pertanyaan-pertanyaan cadas dari Prabowo-Sandiaga. 

Terutama kesukaan Jokowi berhutang, berdiam diri atas kasus-kasus pelanggaran HAM dan hukum tebang pilih. Kasus Novel Baswedan yang didepan mata belum sama sekali menunjukkan titik terang pengungkapannya. Atau sekalian kemampuan Jokowi dengan segenap purnawirawan seperti Moeldoko dan Luhut Binsar untuk mengungkapkan kasus penculikan para aktifis saat meletusnya People Power tahun 1998 lalu. Jangan hanya menjadikan kasus penculikan tersebut sebagai komoditas politik.

Naif dan aneh bukan jika para timses Jokowi selalu mengulik tentang keterlibatan Prabowo tapi KPU menyatakan dan menetapkan Prabowo sebagai calon presiden. Mereka memang tidak memberikan pelajaran berpolitik menggunakan akal sehat. Mereka lebih suka politik fantasi dan ironi.

Sebaiknya kita mulai berhitung, kira-kira seberapa banyak uang negara dapat diselamatkan Prabowo-Sandiaga jika kelak terpilih sebagai pasangan Presiden dan Wakil Presiden Republik Indonesia. 

Menghentikan pembangunan proyek-proyek infrastruktur yang malahan membuat rakyat kehilangan hak untuk mendapatkan pelayanan kesehatan. Atau hak-hak para siswa untuk mendapatkan sarana atau prasaran pendidikan yang membantu mereka bisa tampil dan berhasil di persaingan global.

Khususon untuk pembaca semua, negara kita adalah negara yang luas membentang, membutuhkan kekuatan dan vitalitas yang memadai untuk menjalani hari-hari panjang lima tahun ke depan. 

Apakah betul-betul kekurangan kandidat negara kita jika harus seseorang yang sebaiknya sudah tetirah dari peliknya dunia masih getol menikmatinya? Silahkan berikan jawaban di kolom komentar. Untuk komentar yang cadas dan bernas dapat bonus berupa salam Dua Jari!

Salam Aji Mumpung!