Analisis

Selamat Datang Presiden Baru RI Kedelapan, Bye-Bye Jokowi

12 Juli 2018   08:54 Diperbarui: 12 Juli 2018   09:10 250 0 0

Imajinasikan sebentar.

Capres pesaing Jokowi dengan pede dan kalem menanyakan tentang janji-janji surga Jokowi tentang puluhan juta lapangan pekerjaan bagi rakyat Indonesia, nilai tukar US Dollar sepuluh ribu rupiah per dollar, Pertamina yang kuat dan eksis lalu mengalahkan Petronas, pertumbuhan ekonomi 7% dan sekian banyak janji-janji palsu yang diumbar dahulu saat berkampanye di tahun 2014.

Jokowi hanya bisa mengangkat bahu sambil berkata, "I dont read what I sign, bro!"

Panggung debat menjadi panggung stand up bagi pesaing Jokowi dan panggung membantai Jokowi tanpa ampun. Para panelis tidak bisa lagi memoderasi dengan "fair" agar sang petahana tidak pucat pias diatas panggung. Gestur Jokowi menunjukkan gestur pecundang. Kasihan.

Konstelasi politik tanah air menjelang pilpres 2019 adalah sebuah pertunjukan kelas atas dan tidak bisa diterjemahkan dengan gamblang bak SMRC, si badut penggirin opini hendak menyihir publik dengan statistik abal-abalnya. Publik pun dipaksa untuk mencermati mengapa Habib Rizieq begitu menjadi ditakuti saat ini meskipun para pecundang di dunia maya bernama Kecebong masih belum sadar betapa HRS telah menjadi sosok berarti bagi capres-capres yang diusung oleh parpol di Indonesia. 

Tesis Indonesia harus menjadi lebih moderat ternyata inheren dengan sepak terjang HRS yang fasih melanggamkan Pancasila ketimbang Megawati yang gagap bersikap saat anak ideologisnya menaikkan harga BBM meskipun sejumlah menteri menggaransi tidak akan ada kenaikan BBM hingga 2019.

Jika publik hari ini seperti dipaksa menerima fakta-fakta bahwa Jokowi pasti menang dan hanya tinggal menunggu pelantikan oleh sejumlah mass media mainstream yang sudah diracuni oleh para kapitalis tidak perlu bergeming. Jokowi menang bukan sebuah postulat, aksiomatis atau konklutif

Penulis lebih menyukai menyebutnya sebagai sebuah utopis, ilutif dan cenderung nir-nalar. Jokowi bukan siapa-siapa di tahun 2019 pasca rontoknya semua elemen yang dijadikan sebagai indikasi keberhasilan seorang presiden. Jangan terjebak dengan pembangunan infrastruktur yang terkesan massif tapi sama sekali jauh panggang dari api untuk manfaat bagi perekonomian bangsa.

Indonesia di tahun 2019 adalah Indonesia yang jauh dari hingar-bingar serapah tentang intoleransi, NKRI, Pancasila dan seterusnya, karena adagium ini sudah khatam bagi rakyat Indonesia. Tidak boleh ada lagi sekelompok orang yang merasa paling Indonesia ditengah-tengah kemajemukan. 

Apalagi mencoba membenturkan dengan Islam. Jokowi terlihat menikmati pertempuran yang konyol ini. Sejumlah ulama ditangkapi meskipun kemudian dilepaskan karena tidak ada bukti sama sekali. Para vokalis ditangkap dengan dalil makar, itu pun kemudian dilepaskan juga.

Lalu apakah goro-goro pilpres ini hanya riuh di dalam negeri saja? Kita bahkan harus lebih rajin membaca situasi di konstelasi dunia. Apakah Donal Trump merasa Indonesia dibawah Jokowi menjadi begitu penting bagi Amerika Serikat. 

Apakah Raja Salman merasa Jokowi bisa menjadi "Malik" bagi umat Islam tanpa persekusi yang memuakkan. Hanya satu negara yang merasa enjoy dengan Jokowi, silahkan tebak!

Naga-naganya rakyat bisa perlahan melihat benang merahnya. Pertama adalah isu perang dagang. Beberapa petinggi republik ini menyebutkan Indonesia menjadi bagian yang terlibat di peperangan ini. Mari kita ketawa karena Indonesia hanya se-ucrit nilai ekspornya di zaman Jokowi jadi presiden, makanya bingung melihat harga dollar yang terus membumbung karena itu sinyal keran impor lebih besar daripada keran ekspor.

Lalu mengenai penilai Arab Saudi, apakah penting bagi Jokowi? Bagi penulis, gaya Jokowi sok jadi imam shalat di Afghanistan adalah sinyal implisit kalau Jokowi adalah pria muslim yang taat dan cinta kepada muslim yang lainnya. Sekali lagi penulis harus tertawa terbahak-bahak. 

SP3 untuk HRS bukan berangkat dari tidak terbuktinya HRS berbuat mesum, melainkan jebakan tolol bernama fake-whatsapp tersebut memang tidak berjalan mulus dan semestinya. Malahan HRS membangun tembok tinggi besar hingga Jokowi tidak bisa bertandang dan duduk-duduk manis di Istana Malik Salman.

Semua mata memandang Indonesia, terutama negara-negara besar yang moderat dan islamis. Indonesia memang harus bangkit dan berubah drastis. Tidak lagi bisa dimainkan lakon negeri besar dengan cara memimpin yang serampangan. Negeri zambrut khatulistiwa ini terlalu besar bagi permainan si brewok, simbok dan jenderal Brutus.

Rakyat harus menang di negeri ini, Islam harus menang di negeri sejuta masjid ini. 

Salam Ujung Jari!