Politik

"Personal Branding" yang Membungkus Jokowi

13 Januari 2018   09:09 Diperbarui: 13 Januari 2018   09:49 1072 2 2

Beberapa kali penulis mendapatkan kiriman meme atau karton yang menggambarkan Jokowi sedang berkaos  dan bersandal jepit. Tidak terpikir untuk mem-forward dagelan yang sama sekali tidak lucu. Melawak sesuatu yang cerdas, maka jika ada comic atau komika menggunakan idiom agama tertentu dan berharap ada punch atau punch line beberapa ayat-ayat suci yang membuat audiens ngakak adalah sebuah ironi akal sehat.

Begitu juga upaya-upaya yang menggiring opini publik bahwa seseorang adalah sebuah pribadi yang humble, merakyat dan low profile dengan bungkusan-bungkusa imej bersandal jepit dan mengenakan kaos seperti menampar akal sehat kita. Rakyat tidak butuh sebuah pencitraan kebablasan seperti itu. Merakyat bukan berdandan seperti rakyat. Tapi merakyat adalah berfikir dalam konteks harapan yang bergumpal di dalam diri rakyat dan bagaimana cara kemudian menyajikannya dalam realitas.

Lihat saja saat Pilkada serentak mulai bergulir. Beberapa calon yang selama ini kental nuansa penolakannya terhadap simbol-simbol islam mendadak pamer sedang shalat berjama'ah. Apes saja karena dari rekaman gambar digital terlihat yang sedang pamer kesholehan tersebut memang gagap pemahaman. Dalam Islam, saat berjama'ah ada panduan dan adabnya. JIka berdua sang imam dan makmum berdiri sejajar. Tapi jika ada dua makmum, wanita dan perempuan maka yang perempuan di sebelah kiri sang imam.

Itulah resiko personal branding. Pencitraan yang tanpa observasi dan berusaha empati hanya akan menghasilkan guyonan-guyonan dan dagelan yang tidak lucu sama sekali.

Apalagi jika ada yang nekat mengatakan bahwa saat berkampanye sebaiknya hindari isu SARA dan cukup menjual program. Sejauh yang penulis catat dan ingat bahwa pilpres tahun lalu ada yang menjual program. Pada faktanya hanya menjadi pepesan kosong karena boro-boro terealisasi hingga dinikmati rakyat banyak. Sedangkan kekhawatiran dipergunakannya isu SARA yang kemudian diperagakannya si calon sedang berjamaah ditengah-tengah masa kampanye dengan lafadz dan makhroj yang "fasih" luar biasa. Persis bacaan keturunan Hadramaut, Yaman.

Pilpres setahun lagi. Jangan terjebak dengan prilako kosmetis dan cenderung hipokrit. Belum lama ini Mentan dengan bangga --jika tidak disebut tengil-- mengatakan bahwa impor beras adalah wujud kasih sayang Jokowi kepada rakyat. Mungkin Mentan sedang demam tinggi hingga menggigau. Padahal program yang digaungkan dahulu adalah akan menghentikan impor komoditas saat kelak memimpin.

Jadi sekali lagi, jangan terjebak dengan prilaku sandal jepit dan berbaju kaos. Itu jebakan mematikan dan membuat kita terperangkap lima tahun ke depan. Merakyat tentu saja merasakan penderitaan rakyat dan memenuhi tuntutan rakyat, bukan berlagak seperti rakyat. Please be smart, Bos!

Salam Ujung Jari!