Mohon tunggu...
Humaniora Artikel Utama

Taksi Resmi yang Terbasmi

13 Februari 2016   13:13 Diperbarui: 13 Februari 2016   16:16 721 1 5 Mohon Tunggu...

Galau… itulah yang dirasakan oleh pengemudi –pengemudi taksi regular atau taksi resmi saat ini, bagaimana tidak, taksi tidak resmi berbasis aplikasi sudah semakin marak belakangan ini.

Kegalauan terjadi karena tidak imbangnya persaingan dalam perebutan penumpang antara taksi resmi dengan taksi aplikasi. Persaingan tersebut nyata-nyata adalah persaingan yang jauh dari sehat.

Bagaimana tidak? Taksi aplikasi (katakanlah taksi Uber dan Grab Car) adalah taksi berbasis aplikasi dengan dukungan bermacam-macam merek kendaraan, dari yang standar sampai dengan yang cukup mewah sementara tarifnya jauh lebih murah dari taksi resmi.

Sebagai pengguna atau penumpang, sudah jelas mereka akan pilih kendaraan yang tarifnya jauh lebih murah dengan kondisi kendaraan yang cukup baik. Taksi resmi saat ini juga tidak kalah dalam segi kendaraan tetapi calon penumpang lebih menomorsatukan harga (dan itu sudah pasti).

Contoh tarif dari Depok ke Bandara, dengan taksi resmi argo bisa mencapai lebih dari Rp. 250.000,- sementara dengan taksi aplikasi tarifnya bisa jauh lebih murah yaitu dibawah Rp 200.000,-

Kenapa tarif taksi aplikasi bisa lebih murah? Kenapa tidak ada keseragaman harga? Kenapa taksi aplikasi bisa lebih menguntungkan? Pemerintah memang tidak melegalkan operasi taksi aplikasi ini, tapi sepertinya pemerintah terkesan membiarkan hal ini, kenapa saya katakan demikian? Karena taksi ini semakin hari semakin banyak jumlahnya dan mungkin bisa melebihi kuota taksi resmi pemerintah yang ada di jabodetabek.

Si pemilik merek (Uber maupun Grab Car) mereka selalu berkilah kami hanya menjual aplikasi!! Dan tidak ada yang melarang itu, itu betul! Tapi tanpa dukungan kendaraan dan pengemudi maka aplikasi tersebut tidak akan berjalan. 

Sementara itu saat ini taksi-taksi resmi perlahan-lahan semakin tersudutkan, berjalan terseok seok dan makin ditinggalkan baik oleh penumpang maupun oleh pengemudi taksi resmi itu sendiri, ini terbukti banyak perusahaan taksi yang tidak mengoperasikan kendaraannya bukan karena kendaraanya rusak tetapi karena tidak ada pengemudi yang mengoperasikan kendaraanya. Banyak pengemudi taksi resmi berpindah haluan menjadi pengemudi taksi aplikasi dengan alasan lebih mudah mencari penumpang karena tarifnya jauh lebih murah.

Secara perlahan-lahan tapi pasti para pelanggan taksi resmipun sudah banyak yang beralih ke taksi aplikasi ini, karena factor harganya yang sangat murah, para pengusaha taksi resmi mungkin saat ini tidak bisa berbuat apa-apa hanya menunggu tindakan nyata dari pemerintah untuk memikirkan masalah ini, tapi entah sampai kapan?

Saat ini penentuan tarif taksi resmi ditentukan oleh pemerintah berdasarkan usulan dari para pengusaha taksi, sementara taksi aplikasi mereka bisa menentukan harga sendiri tanpa persetujuan dari pemerintah, sementara itu perusahaan taksi resmi dihadapkan dengan banyaknya biaya dalam mengelola armada-armadanya yang harus dikeluarkan, seperti membayar pajak, uji keur kendaraan, membayar gaji karyawan, mekanik, sewa tempat/pool untuk kendaraan, tera argo, dan masih banyak lagi biaya-lain, sementara taksi aplikasi tidak membayar apapun, tidak ada pajak kendaraan umum (karena plat hitam), pajak dibayar oleh pemilik kendaraan masing-masing, tidak ada biaya keur kendaraan, tera argo, sewa tempat dan lain-lain makanya mereka berani memberikan harga jauh lebih murah.

Dalam hal ini, penumpang tidak bisa dipersalahkan untuk memilih taksi apapun karena itu merupakan hak mereka untuk menggunakan sarana transportasi yang menurut mereka baik, tetapi sekali lagi tarif merupakan pilihan nomor satu. 

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x