Mohon tunggu...
Ilyas Maulana
Ilyas Maulana Mohon Tunggu... Mahasiswa - Amatir

Fatum brutum amor fati

Selanjutnya

Tutup

Humaniora

Sejarah, Antara Rekaan & Kenyataan

5 Februari 2023   11:24 Diperbarui: 5 Februari 2023   11:29 113
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
(Sumber gambar:http://kabinbukuhangnadim.blogspot.com/)

"History has been written by the victors".  Sejarah itu ditulis oleh mereka yang menang. Demikian ungkapa yang sering kita dengar. Penulis pribadi sering mendengarnya saat ada forum-forum diskusi dan juga pendidikan kaderisasi di organisasi yang diikuti. Juga pernah kalo tidak salah di ruang kelas, ada dosen yang juga berkata demikian. "Sejarah ditulis oleh mereka yang menang/ sejarah adalah milik mereka yang menang" dipahami bahwa pelajaran sejarah di bangku-bangku sekolah adalah hasil rekaan semata oleh pihak-pihak yang berkepentingan, oleh mereka yang "menang".

Saat dulu diumpamakan tragedi G 30S/PKI yang menggambarkan kebrutalan dan pengkhianatan PKI terhadap NKRI. Apakah ada yang mempertanyakan keabsahan cerita sehingga dinasionalisasikan dengan dibuatkan filmnya? Apakah adegan-adegan dalam film itu nyata dan sesuai dengan aslinya? Atau malah semua reka adengannya hanya settingan belaka dan tidak sesuai dengan faktanya? Mungkin ada sebagian mereka yang bersikap kritis dan mempertanyakan hal tersebut.

Bila kita diperbolehkan memakai istilah "propaganda", mungkin film G 30S/PKI selama ini adalah salah satu ide propaganda orde baru. Mereka menggunakan ini untuk pelanggengan kekuasaannya. Seolah merekalah pahlawan di negeri ini, merekalah yang menyelamatkan ideologi pancasila, merekalah yang mencabut komunisme sampai ke akar-akarnya,andn soo on. Diakui atu tidak propaganda ini sukses menggapai simpatisan di masyarakat. Rasa benci terhadap PKI makin mengakar, tidak memberikan pengakuan kepada mereka, mensdiskreditkan segala hal yang berbau-bau kiri.

Pasca kejadian tahun 65 dulu, kondisi masyarakat itu terbelah dua. Ada label bagi mereka yang komunis dan bukan komunis. Masyarakat mesti berpihak, apakah masuk barisan kanan atau masih simpatisan kiri. Dan bagi merela yang tidak memihak, berarti telah berpihak. Berpihak kepada minoritas. Sungguh ngeri pada saat itu. Demikian esensi yang penulis dapatkan dari sebuah novel yang berjudul "Pulang" karya Leila S Chudori. Novel tersebut menggambarkan bagaimana sejarah telah mengubah dinamika suatu bangsa, tentang mereka yang terkena imbas karena terindikasi bagian golongan "kiri" meski hanya sekadar satu meja makan dan satu ranjang.

Kembali kepada kesuksesan propaganda yang telah diciptakan, terkait film yang wajib diputar setiap tanggal kejadian. Nampaknya masyarakat yang lahir pasca kejadian tersebut mempercayai akan kesahihan ceritanya. Dan mereka pun sudah terhegemoni akan doktrin-doktrin kebencian terhadap PKI. PKI, oleh masyarakat awam dipahami sebagai mereka yang tidak beragama, membunuh santri dan ulama, benda pribadi adalah kepemilikan bersama, and soo on. Dan hal-hal tersebut adalah apa yang digambarkan, dinarasikan dan divisualisaikan dalam film itu.

Bukan persoalan siapa dalang dibalik kejadian ini, siapa aktornya, siapa sutradaranya atau apapun itu. Namun ini menyangkut hak-hak warga negara yang turut terkena imbasnya, HAM pada saat itu mungkin disimpan dalam laci. Rakyat tidak dibalut dengan seragam "manusia, saudara" mereka dipandang "Kiri/kanan". Oleh karenanya dahulu dikenal dengan istilah "bersih diri dan bersih lingkungan". Entah berapa ribu jiwa yang telah kehilangan nyawanya pasca kejadian itu. Demikian akibat dari bersih diri. Pun mereka yang tidak terindikasi secara langsung bagian dari "kiri" atau katakanlah hanya sekadar teman diskusi, teman se meja makan atau seranjang. Mereka turut mendapatkan sikap "istimewa" dari pemerintahan. Tidak diterima kerja di institusi pemerintahan, tidak diterima kerja di BUMN, bahkan di KTP ada ciri khusus bagi mereka. ET (Eks Tapol)

Bukana hanya dalam bentuk film. Pernah berkunjung ke Monumen Nasional (Monas)? Pasti sebagain pernah ke san entah dalam  momentum liburan sekolah atau study tour. Di museumnya, di dalam monas selain tentang segala hal yang berhubungan dengan negeri ini juga di sana ada diorama peristiwa G 30S/PKI. penulis pribadi pernah berkunjung ke sana sewaktu kelas satu SMA. Nampak jelas diorama tersebut yang berupa miniatur dalam atalase kaca menunjukan bagaimana kronologi G 30S/PKI itu terjadi. Digambarkan bagaimana dari awal mula kejadian hingga penemuan mayat di lubang buaya. Semua itu dijelaskan dengan detail yang dimaksimalkan. Sehingga membuat pengunjung setidaknya memiliki gambaran secara bastrak mengenai peristiwa itu. Terlepas dari kebenaran atau  hanya rekaan.

Dibanyak buku pelajaran sejarah yang diajarkan di bangku sekolah, di sana memuat dalang di balik peristiwa tahun 65 adalah PKI. Kiranya paham tersebut akan tetap tertanam dalam pikiran-pikiran yang itu-itu saja. Kita mesti membaca sejarah dari kaca mata yang berbeda agar dapat melihat suatu jeda, suatu beda yang nantinya dapat dikomparasikan secara bersama. Entah itu menggunakan pisau analisis apa saja. Pendekatan secara historis, sosialis, atau agamis sekalipun itu.

Salah satu keuntungan dapat merasakan bangku kuliah dengan menyandang status mahasiswa adalah kita akan mendapat perspektif baru yang selama ini mungkin kita tidak akan mendapatkannya. Banyak mahasiswa yang kritis, tak peduli seberapa liberalnya pemikiran mereka karena memang kampus adalah tempat bagi hal-hal demikian. Sebagai arena berpikir, berdialektika. Karenan memang ini domainnya. Maka hal-hal yang selama ini dianggap benar bisa dinilai salah, yang salah bisa dianggap benar. Tentu dengan berdasarkan argumen dan penalaran yang tidak  berangkat dari ruang-ruang kosong.

Peristiwa G 30S/PKI ini mesti dijadikan sebagai bahan kontemplasi bagi kehidupan. Bangsa ini tidak serta merta akan bertahan dan terus dicekoki doktrin-doktrin kolot yang isinya mendiskreditkan saudara se tanah air, melanggar HAM. Mestinya perlu terobosan baru yang mengakomodir. Apakah tidak boleh sekolah, bekerja, mendapat hak-hak sebagai warga negara karena hanya mereka yang kakek buyutnya seorang yang "kiri" ?

Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun