Mohon tunggu...
kholil rokhman
kholil rokhman Mohon Tunggu... IG di kholil.kutipan

Melupakan akun lama yang bermasalah

Selanjutnya

Tutup

Bola Pilihan

Nostalgia, Dengar Live Bola di Radio Itu Asah Imajinasi

16 Oktober 2020   06:13 Diperbarui: 16 Oktober 2020   07:10 90 23 3 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Nostalgia, Dengar Live Bola di Radio Itu Asah Imajinasi
Ilustrasi radio. Foto: Gadgetoid.com dipublikasikan Kompas.com

Zaman dahulu, mendengar live sepak bola dalam negeri lewat radio adalah momen yang saya tunggu. Mendengar sepak bola via radio itu benar-benar mengasah imajinasi.

Dahulu, di tahun 90-an atau sebelumnya, siaran langsung sepak bola di televisi terbatas. Siaran langsung Liga Italia misalnya, sepekan hanya satu sampai dua pertandingan. Satu pertandingan live di RCTI, satu pertandingan live di ANTV (dulu namanya masih ANteve).

Siaran langsung Liga Inggris juga sepekan sekali di SCTV. Kemudian pindah ke Indosiar di masa setelah Reformasi. Beda dengan zaman sekarang. Via streaming, kita bisa melihat laga Liga Inggris, Liga Italia yang kita inginkan.

Dahulu siaran langsung Liga Indonesia juga sangat jarang. Di ANteve seminggu hanya sekali. Bahkan, saya ingat ketika di masa krisis 1997-1998, siaran langsung Liga Indonesia hanya seputaran laga di Jabotabek. Sekarang sepertinya beberapa laga bisa kita lihat dalam sepekan, tentu melalui TV berbayar atau aplikasi di internet.

Nah, zaman dahulu karena tak bisa ke stadion mengingat jarak yang jauh dan tak ada siaran langsung televisi, maka radio jadi andalan. Jika beruntung, kita bisa mendapatkan di gelombang radio AM untuk mendengar banyak pertandingan live.

Kala itu, RRI tiap daerah setahu saya menyiarkan tim secara langsung. Saya yang di Pulau Jawa saja pernah mendengarkan live radio laga PSM Makassar (dulu sebutannya PSM Ujung Pandang). Tentu saja suaranya kecil karena jaraknya jauh. Tapi saya masih bisa mendengarkan aksi Jacksen Tiago. Nah, Jacksen main di PSM berarti adalah Liga Indonesia kedua.

Maka kalau beruntung kita bisa mendapatkan gelombang siaran langsung sepak bola di radio, untuk laga yang jaraknya jauh. Kalau saya sendiri, sering mendengarkan live BPD Jateng dan PSIS.

BPD adalah tim dari Semarang yang ikut Liga Indonesia 1 dan 2. Tapi, karena intervensi pemerintah provinsi yang terlalu dalam, BPD terseok seok di Liga Indonesia 2 dan akhirnya bubar.

Maka kemudian saya lebih sering mendengarkan PSIS. Saya pun masih ingat, komentator yang selalu didatangkan RRI Semarang adalah Bung Fredo Alnero, wartawan Kedaulatan Rakyat. Bung Fredo ini mendampingi host yang sering gonta ganti.

Nah, mendengarkan live sepak bola via radio itu benar-benar mengasah imajinasi. Sebab, saya tak melihat langsung dengan mata. Ketika kiper Persita Tangerang Yan Heriansyah kesakitan di ujung laga melawan BPD Jateng, host live langsung menjelaskan bagaimana Yan memakai strategi menyulur waktu.

Saya langsung mengimajinasikan bagaimana ekspresi wajah dan gerak Yan Heriansyah yang pura-pura kesakitan. "Wah pura-pura ini. Bisa ngga menang BPD," kata saya dalam hati. Laga itu berakhir 2-2. Esok paginya saya lihat koran Suara Merdeka yang memasang foto Yan Heriansyah ditangani oleh tim medis.

Saat Iduladha, dulu Liga Indonesia dua tetap dijalankan. Kala itu PSIS lawan Persipura. PSIS mampu menang kalau tak salah 6-3. Saya membayangkan bagaimana orang-orang pada makan sate atau gulai setelah Maghrib, ini malah main bola.

Dari siaran live radio, saya juga membayangkan bagaimana Stadion Citarum yang dulu jadi kandang BPD Jateng di Liga Indonesia 1 sesak pada laga perdana. Saat itu BPD Jateng main seri melawan Semen Padang 1-1. Stadion sesak karena laga itu bisa ditonton langsung secara gratis tak dipungut biaya.

Radio telah mengantarkan banyak orang berimajinasi. Setahu saya, imajinasi itu adalah salah awal dari perubahan dunia, khususnya dalam hal teknologi. Dulu orang berimajinasi bagaimana bisa berkomunikasi jarak jauh secara langsung. Imajinasi itu kemudian menjadi nyata dengan adanya telepon.

Orang berimajinasi bagaimana bisa melihat live tanpa harus ke tempat kejadian, maka imajinasi itu membuahkan televisi. Ada imajinasi untuk terbang memakai alat, maka muncullah pesawat terbang.

Kini bisa saja orang memiliki imajinasi baru dari realitas yang makin modern. Imajinasi yang membuat hidup makin ramai. Bagi saya radio justru dengan keterbatasannya karena hanya bisa didengar, telah mengasah imajinasi.

Radio telah memberi ruang pada pendengarnya untuk mengkhayalkan apa yang sedang disiarkan. Ibarat memasak, radio hanya memberikan alat dan bahan masakannya, pendengar disuruh memasak sendiri. Maka, muncullah beragam masakan. Tak seperti TV dan jaringan internet yang ibaratnya menyajikan makanan siap saji.

Ini hanya tulisan nostalgia yang coba saya petik hikmahnya. Oiya, cerita ini sudah lebih dari 20 tahun lalu. Saya juga tak tahu cerita Bung Fredo Alnero dan Yan Heriansyah saat ini. Semoga selalu dalam lindungan Yang Maha Kuasa. Salam nostalgia. (*)

VIDEO PILIHAN