Mohon tunggu...
kholil rokhman
kholil rokhman Mohon Tunggu... IG di kholil.kutipan

Melupakan akun lama yang bermasalah

Selanjutnya

Tutup

Bisnis Artikel Utama

Temanku yang Berusia Produktif, Bisnisnya Bertumbangan

22 Juni 2020   06:08 Diperbarui: 22 Juni 2020   20:10 818 26 8 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Temanku yang Berusia Produktif, Bisnisnya Bertumbangan
Ilustrasi pengusaha muda. Pexels dipublikasikan Kompas.com

Menjadi pebisnis itu butuh perjuangan super ekstra. Istilahnya membangun "kerajaan bisnis" sendiri lebih sulit daripada nebeng "kerajaan bisnis" orang lain atau pihak lain.

Jika ikut perusahaan orang lain atau jadi aparatur negara, maka tinggal melaksanakan kerja dan berinovasi. Nantinya di awal bulan atau di akhir bulan akan mendapatkan gaji.

Sekalipun sama-sama hanya bekerja pada pihak lain, menjadi pegawai negeri tetap beda dengan menjadi pekerja perusahaan swasta. Pegawai negeri sulit dipecat, sulit bangkrut karena keuangan negara "terjamin" oleh pajak. Namun, batas gajinya sudah jelas.

Sementara, menjadi pekerja perusahaan swasta lebih mudah dipecat, tapi potensi gaji tinggi bisa terjadi. Khususnya jika kerja di perusahaan swasta yang besar. Bahkan, gajinya bisa lebih tinggi daripada gaji pegawai negeri.

Bagaimana dengan mereka yang membangun bisnis sendiri? Tentu jelas lebih berat, sekalipun juga ada keuntungannya. Beratnya adalah tak ada jumlah pendapatan yang pasti. Bukan hanya bekerja dan berinovasi tapi juga harus memikirkan pelanggan.

Pebisnis juga berpotensi dihadapkan pada perizinan yang ribet, pembayaran atau pungutan administrasi yang melelahkan, belum lagi kalau ada "jatah preman". Jadi, memang berat.

Sementara, keuntungan wirausaha adalah lebih merdeka menentukan diri sendiri. Merdeka dalam bekerja karena tak ada tekanan dari atasan. Jika sukses, maka pendapatannya akan melebihi pegawai negeri atau pekerja swasta.

Saya menduga, karena risiko dan beratnya jadi pengusaha, membuat sedikit pebisnis di Indonesia. Dikutip cnnindonesia, jumlah pebisnis di Indonesia tahun 2018 adalah 3,1 persen dari total jumlah penduduk Indonesia. Padahal, syarat negara maju adalah jumlah pengusaha setara 14 persen dari jumlah penduduk.

Beratnya jadi pengusaha dan minimnya pengusaha di Indonesia membuat saya memberi empat jempol pada pemuda yang jadi pengusaha. Artinya mereka yang jadi pengusaha adalah orang-orang yang berani mengambil risiko.

Namun, kondisi pandemi saat ini membuat para pengusaha terpuruk. Saya sendiri memiliki beberapa kenalan para pengusaha yang masih di usia produktif, yakni usia masih di bawah 40 tahun.

Mereka mulai kesulitan dengan kondisi seperti ini. Ada kenalan yang jadi pengusaha peralatan konveksi yang kelimpungan. Masa pandemi membuat daya beli masyarakat saya pikir menurun. Itulah yang membuat kenalan saya makin sulit mengembangkan bisnisnya.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN