Mohon tunggu...
Razib  Ikbal
Razib Ikbal Mohon Tunggu... Mahasiswa

Hanya seorang scorpius yang suka kesunyian.

Selanjutnya

Tutup

Edukasi Pilihan

Menyesal Menjadi Mahasiswa yang Tak Bisa Bahasa Inggris

6 Juni 2021   09:56 Diperbarui: 6 Juni 2021   10:02 224 5 0 Mohon Tunggu...
Lihat foto
Menyesal Menjadi Mahasiswa yang Tak Bisa Bahasa Inggris
(Sumber foto: https://www.pexels.com/)

Mungkin orang akan memandang bahwa kami---para mahasiswa---adalah  orang-orang yang sangat berbahagia tanpa pernah merasakan penyesalan seberapa pun besarnya kesalahan di masa lalu. Atau mungkin orang akan mengira bahwa kehidupan menjadi seorang mahasiswa penuh dengan kebahagiaan. Terutama mereka yang baru merasakan beratnya hidup di dunia SMA. Biasanya orang seperti ini yang ingin cepat-cepat menjadi mahasiswa karena lelah dengan tugas dan kewajiban yang menumpuk selama SMA. Ya mungkin di bayangannya kuliah itu cuma pacaran sama nongkrong enggak jelas. Mungkin ya.

Nyatanya, kami juga memiliki berbagai penyesalan dalam hidup sebagai seorang mahasiswa. Kami juga sering sedih. Bahkan, sejatinya kehidupan sebagai seorang mahasiswa tak semenyenangkan itu. Masih untung enggak meninggal juga

Bukan berarti kami sebagai mahasiswa tidak bersyukur. Banyak tugas? Ya kami terima meski dengan sering sambat dan misuh-misuh. Tapi sebanyak apa pun tugas itu akhirnya beres juga. Pelajaran semakin sulit? Ya kalau kami tak sanggup, mungkin semuanya DO di awal. Lalu, apa yang membuat saya menyesal ketika menjadi mahasiswa? Bukan saya yang menyesal karena menjadi mahasiswa, tetapi ada banyak hal di masa lalu yang saya sesali setelah menjadi mahasiswa.             \

Salah satu penyesalan itu adalah selalu bolos mata pelajaran bahasa Inggris ketika masih sekolah dahulu. Kalau saya, sih, tidak bolos. Seringnya tidur dan tidak memperhatikan. Kalau ada tugas? Gampang, tinggal scan dan salin pekerjaan teman yang sudah fasih berbahasa Inggris layaknya orang Guatemala.

Serius menyesal karena tidak bisa bahasa Inggris. Saya kira dengan berkuliah jurusan biologi tidak akan bertemu lagi dengan bahasa Inggris. Ya kalaupun ketemu tidak akan begitu penting. Toh saya jurusan biologi, bukan sastra Inggris. Palingan juga di dalamnya belajar soal hewan, tumbuhan, biomolekuler atau mikrobiologi. Praktikumnya hanya menyayat daun, batang, membedah katak, cacing, ular, ya, yang begitu saja. Tidak perlu belajar bahasa Inggris. Toh buku-buku biologi juga sudah banyak yang diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia.

Namun, setelah dua semester kuliah jurusan biologi, saya merasa menyesal beranggapan demikian waktu dahulu. Ternyata sebagai mahasiswa (saya rasa bukan cuma biologi, hampir semua mahasiswa) memang harus mempunyai kemampuan bahasa Inggris yang mumpuni. Tidak perlu sejago anak sasing juga, tetapi setidaknya cukup untuk memahami artikel jurnal internasional, textbook yang tentu berbahasa Inggris, atau bahkan presentasi beberapa mata kuliah. Apalagi jika kebetulan kalian sial. Keterima di jurusan yang international class. Jelas bahasa Inggris menjadi makanan sehari-hari.

Pertama saya merasa menyesal dan merasa menjadi mahasiswa yang sial ketika semester pertama. Saya mulai banyak berhadapan dengan referensi bahasa Inggris. Ada dosen yang menyuruh membuat makalah dengan tema tertentu dan referensi harus jurnal internasional, ada juga yang memberi tugas untuk mempelajari materi sendiri dan diberi sumber berupa video berbahasa Inggris, dan yang paling parah adalah harus membuat review jurnal dalam bahasa Inggris dan mempresentasikannya pula menggunakan bahasa Inggris.

Sayangnya penderitaan tidak selesai sampai di situ, Kawan. Baru selesai semester satu sudah banyak penderitaan baru. Penderitaan yang sebetulnya baru permulaan.

Semester dua semakin banyak mata kuliah biologi. Berbeda dengan semester satu yang masih banyak mata kuliah umum. Karena semakin banyak mata kuliah jurusan, maka semakin banyak pula sumber bacaan berbahasa Inggris. Buku belum semua diterjemahkan, artikel jurnal untuk referensi dituntut harus jurnal internasional, dan istilah-istilah biologi kalau tidak bahasa latin, ya, bahasa Inggris. Yang makin sedih adalah untuk memahami buku dan jurnal berbahasa Indonesia saja masih perlu proses cukup panjang. Eh ini ditambah berbahasa Inggris. Kerja berkali lipat. Pertama menerjemahkan, kedua memahami, ketiga menerjemahkan lagi, ketiga memahami lagi, baru keempat mengingat apa isinya.

Bahkan, yang lebih parah lagi bukan hanya bacaan yang berbahasa Inggris. Dosen mengajar juga PPT-nya berbahasa Inggris. Kalau ada video ilustrasi atau penjelasan? Tentu berbahasa Inggris yang saya sangat bersedih mendengarnya karena tidak paham.

Penderitaan terakhir bagi saya sebagai mahasiswa yang tidak pandai berbahasa Inggris adalah perlu belajar lagi bahasa Inggris agar bisa mendapat nilai TOEFL yang cukup untuk bisa sidang. Iya, benar. Di universitas saya, kalau mau sidang harus punya skor TOEFL yang memadai. Saya lupa tepatnya, tapi minimal 400an. Lah saya lihat soal simulasi TOEFL saja sudah tidak bisa jawab semuanya. Kan suram.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
VIDEO PILIHAN
KONTEN MENARIK LAINNYA
x