Mohon tunggu...
Ikrom Zain
Ikrom Zain Mohon Tunggu... Tutor - Content writer - Teacher

Hanya seorang pribadi yang suka menulis | Tulisan lain bisa dibaca di www.ikromzain.com

Selanjutnya

Tutup

Humaniora Pilihan

Orang yang Suka Cari Panggung, Enaknya Diapakan Ya?

9 Februari 2020   07:18 Diperbarui: 9 Februari 2020   07:59 1662
+
Laporkan Konten
Laporkan Akun
Kompasiana adalah platform blog. Konten ini menjadi tanggung jawab bloger dan tidak mewakili pandangan redaksi Kompas.
Lihat foto
Ilustrasi. - intisari.grid.id

Lho judul saya kok jadi tendensius begini.

Maklum, tulisan ini muncul selepas saya ikut ambil bagian dalam gerakan dukungan terhadap korban perundungan di Malang kemarin. Saking semangatnya saya menyebar artikel, foto, dan petisi dukungan terhadap sang korban, ada beberapa orang yang entah mendapat bisikan apa menyebut saya mencari panggung. Lah?

Saya bingung. Saya sedang tidak sedang mengikuti ajang Miss Universe atau pun dalam masa kampanye pemilihan walikota. Saya juga tidak sedang mengikuti kegiatan senbatsu (pemilu raya) JKT48 yang memilih member untuk single baru. Saya tidak kepikiran untuk menjadi center JKT48. Saya kan laki-laki.

Baik, kembali ke topik. Saya jadi bingung dengan apa yang dikatakan beberapa orang dengan definisi cari panggung. Wong panggungnya saja sudah penuh untuk hajatan banyak orang. Sekarang lagi musim nikahan kan? Jadi, saya sih woles saja.

Namun, saya juga cukup sebal dengan orang yang memang berusaha semaksimal mungkin untuk mencari panggung. Entah mencari nama, mencari popularitas, atau bahkan jika pada akhirnya mencari keuntungan lewat aksi panggungnya. Kalau semuanya dilakukan secara wajar sih menurut saya tak masalah. Ikut ajang kecantikan atau audisi bernyanyi malah sangat membanggakan. Bagaimana kalau dilakukan dengan cara lain?

Semisal, mendompleng sebuah kegiatan yang awalnya bertujuan baik tetapi ada udang di balik bantal. Kampanye pileg tahun kemarin adalah beberapa diantaranya. Saya sampai hampir di-black list oleh warga kampung saya karena suara saya yang vokal mengkritisi kedatangan para caleg. Terlebih jika mereka datang dengan banyak sesi fotografi tapi minim program kerja nyata. Tanpa teding aling-aling, saya akan langsung meminta waktu sebentar untuk menanyakan program kerja mereka dan diakhiri dengan kalimat, mau cari panggung di sini?

Saking seringnya saya menemukan seperti ini, saya malah mengerti beberapa ciri khas yang melekat. Salah satu diantaranya adalah mereka akan mencari dan mendekati orang yang dirasa sudah memiliki nama. Sudah memiliki pengaruh kuat di bidang tertentu. Dengan memanfaatkan kedekatan ini, maka otomatis akn ada efek domino yang menyebabkan si cari panggung akan juga kecipratan nama.

"Saya kan sudah kenal dekat si X yang jago begini. Nama saya kan jadi terkerek".

Sering kan melihat seperti itu? Hmmm... sebenarnya wajar. Namun, jika si cari panggung mulai berulah dengan memanfaatkan nama besar orang yang didekatinya, ini harus diwaspadai. Apalagi jika kedekatan itu berkaitan dengan uang atau hal lain yang sebenarnya digunakan untuk kepentingan pribadi. Misalnya nih mengadakan suatu amal dengan mencatut nama seorang yang sudah punya nama tapi uang amal itu tak digunakan. Atau, yang terjadi beberapa waktu terkahir sebuah arisan tipu-tipu yang memanfaatkan nama artis. Kan semua berawal dari orang yang mencari panggung?

Kedua, tentu harus ada momen yang menyebabkan orang itu bisa cari panggung. Makanya, saat ada momen kasus perundungan ini, ada yang bilang saya memanfaatkan momen. Lah, kalau mau, saya malah gunakan ini untuk meningkatkan follower saya di Instagram. Mengingat, ternyata postingan saya di Instagram ternyata ditangkap oleh media nasional. Pantas saja banyak akun yang memberi likes di postingan itu. Apakah saya mendapat keuntungan? Yang ada follower saya tidak naik. Malah berkurang.

Nah momen ini bisa dijadikan orang yang ingin mencari panggung. Entah momen hari kasih sayang, imlek, atau hari besar lain. Atau juga momen bertemu dengan banyak orang. Pada momen seperti ini, orang yang cari panggung akan mulai tebar pesona. Saya kadang melipir dengan orang yang mulai ada tanda mencari panggung. Saya enggak kuat dengan rayuan gombalnya. Dan juga, omongannya yang too much of himself. Lebih baik saya cari orang yang sefrekuensi saja.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
  3. 3
Mohon tunggu...

Lihat Konten Humaniora Selengkapnya
Lihat Humaniora Selengkapnya
Beri Komentar
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama untuk memberikan komentar!
LAPORKAN KONTEN
Alasan
Laporkan Konten
Laporkan Akun