Mohon tunggu...
Ikhlas Prasongko
Ikhlas Prasongko Mohon Tunggu... IT/Pendaki/Fotografer

Penikmat kata, gambar & nada

Selanjutnya

Tutup

Musik Artikel Utama

Yang Beda dari KLa Project di Konser "Satu Dekade Untuk Selamanya"

21 September 2019   19:58 Diperbarui: 24 September 2019   09:47 0 2 0 Mohon Tunggu...
Yang Beda dari KLa Project di Konser "Satu Dekade Untuk Selamanya"
Konser KLa Project | Dokpri

Perasaan rindu membumbung tinggi, jatuh kepayang 
Bertahun mencari tambatan diri, ah  adakah engkau jawabnya.... (Terkenang, Album Klakustik 1996)

KLa Project kembali tampil bareng Java Jive di Pita Kaset 90s Music Festival, Jumat 20 September 2019 di Dyandra Convention Center Surabaya dalam konser 'Satu Dekade Untuk Selamanya'. Kedua band papan atas di tahun 90-an ini sebelumnya juga pernah tampil bareng di lokasi yang sama di tahun 2012 dalam "Romantic Groovy Night Concert".

Penampilan mereka bisa sebagai pelepas rindu bagi penggemar KLa Project di Surabaya dan sekitarnya. Band beranggotakan Katon, Lilo dan Adi ini terakhir tampil di Surabaya di tahun 2014 saat konser reuni di Ballroom Grand City. Banyak yang berharap penampilan KLa Project di konser 'Satu Dekade Untuk Selamanya' ini bisa tampil all out seperti halnya konser-konser yang sebelumnya. Namun ternyata harapan itu tidak beranjak nyata. 

"In The Mood" yang selalu menjadi prolog sebelum personil KLa Project tampil. Meskipun dalam kondisi stage masih gelap gulita, hanya bayangan dari para kru yang sibuk mempersiapkan instrumen. Track berupa intstrumental yang diambil dari album Lima (1992) sudah mampu memicu adrenalin penggemarnya. Juga menjadi senyawa yang tepat untuk membuka kembali portal memori dalam mengenang lagu-lagunya KLa Project. Namun di konser tadi malam terasa hanya menjadi sebuah jingle. Volume sound seperti mendengarkan radio dari kamar sebelah.

"In The Mood" yang sebelumnya selalu berhasil menjadi mantra yang menghipnotis dan membuat kaki kesemutan ingin melompat-lompat. Tangan terangkat bertepuk tangan dan mata fokus ke bayangan ketiga personil KLa Project saat naik panggung. Tapi entah mengapa, tadi malam seperti kehilangan daya hipnotisnya.

"Satu Kayuh Berdua" sebagai lagu pembuka juga tidak mampu mengulang kesan indah seperti halnya konser-konser lainnya. Kecuali bagi beberapa penggemar KLa Project (sebut saja KLanees) yang mendapatkan lemparan bunga dari Katon Bagaskara sang vokalis. Lagu pertama yang biasanya langsung ikutan nyanyi bareng mulai awal sampai akhir. Tapi ternyata tidak bisa dinikmati seperti yang diharapkan. Masalah sound ini benar-benar membuat raga ini kurang semangat. Lebih banyak pikiran, mengapa bisa seperti ini ya? 

Firasat ini sejak Java Jive tampil di lagu pertama sampai ke lima, beberapa kali terdengar suara pecah yang tidak nyaman di telinga. Untungnya di lagu ke-enam sampai terakhir sudah tidak terjadi lagi. Saat jeda insiden sound juga terjadi lagi dan kali ini lebih fatal. Duo, gitar akustik dengan vokalisnya saat membawakan lagu-lagu yang hits di tahun 90an tiba-tiba suaranya menghilang. Penonton-lah yang akhirnya menyelesaikan lagunya sampai Duo penampil tersebut turun panggung tanpa pamit. Atau sudah pamit tapi karena soundnya mati jadi penonton tidak mendengarkan.

Dari penampilan pertama KLa Project, pukulan drum yang menghentak dan lengkingan melodi dari Lilo sang gitaris seperti kurang berenergi. Masih kalah menggelegar dibanding dengan suara drum dan melodi dari band pembuka yang personilnya masih anak-anak itu. Suara dari drum dan gitar KLa Project seperti bukan disetting sebagai lead sound. Suaranya lebih sering tenggelam.

Beda saat di Romantic Groovy Night, sound yang keluar dari semua band yang tampil menunjukkan kelasnya. Skala bintang 1 sampai bintang 5 dalam menilai band. Raisa yang saat itu baru mengeluarkan album pertamanya sebagai band pembuka dapat bintang 3. Java Jive bintang 4 dan KLa Project bintang 5 alias sempurna. Saat itu sound yang keluar dari instrumen yang dibawahkan oleh KLa Project terasa penuh mengisi ruangan. Harmoninya rapi seimbang. Hentakan tempo penuh tenaga. Pekikan melody menghantarkan energi dan suara vokal jernih menyampaikan kata.

Namun kesempurnaan seperti itu tadi malam sayangnya tidak terulang. Mulai lagu pertama sampai terakhir dinikmati dengan ala kadarnya. Teman-teman dalam kelompok saat ditanya apakah merasakan yang aneh dengan soundnya dan semua sepakat benar adanya. Penonton yang tidak dikenal di sebelah kanan kiri saat ditanyai, jawabnya juga sama. Ada yang tidak beres dengan sound sistemnya. Tapi apa dikata. Tidak ada yang bisa dilakukan sebagai penonton selain menikmati penampilan di panggung dengan apa adanya. Iya, sound adalah pembeda utama dalam konser kali ini.

Beda kedua adalah porsi dari additional player seperti saksofon, trombon & trompet yang lebih banyak dibanding konser-konser sebelumnya. Bisa jadi hal itu untuk mensiasati agar ritme dan energi yang di atas panggung bisa terbagi lebih merata. Tapi porsi additional player yang lumayan ini malah menenggelamkan tarikan melodinya Lilo yang tadi malam tidak beruntung karena kurang terekspos akibat sound system.

Beda ketiga adalah 'bintang tamu' yang ikut membawakan lagu 'Tak Bisa Ke Lain Hati'. Dari sejauh yang diketahui, bintang tamu yang tampil biasanya dari artis yang benar-benar berprofesi sebagai penyanyi. Tapi baru pertama kali menyaksikan yang menyanyi bareng diatas panggung dengan sang vokalis bukanlah dari seorang artis beneran.

HALAMAN :
  1. 1
  2. 2
KONTEN MENARIK LAINNYA
x