Ikal HIdayat Noor
Ikal HIdayat Noor

jurnalis yang gemar menulis fiksi...

Selanjutnya

Tutup

Hiburan

Yuke Sumeru, Mantan Rocker yang Banting Setir Jadi Pegawai Allah

13 Mei 2014   00:27 Diperbarui: 23 Juni 2015   22:34 10314 5 2
Yuke Sumeru, Mantan Rocker yang Banting Setir Jadi Pegawai Allah
1399890683897775195



Yuke memilih jalan sunyi, hijrah meninggalkan ingar-bingar panggung hiburan yang telah membesarkan namanya di kancah musik rock. Dirinya kini menjalani hari-hari sebagai pendakwah, memberi tausiah dari satu pengajian ke pengajian lainnya. Bassist yang pernah menjadi additional player di group band Gong 2000 itu memantapkan hati untuk menjadi pegawai Allah.

Nama Yuke Sumeru mungkin akrab bagi pecinta musik rock di tahun ‘80. Ia dikenal sebagai jawara pemain bass kebanggan kota Bandung. Bukan cuma musik rock, ia pun lihai memainkan jazz. Bakat musik Yuke tersebut ditemukan oleh almarhum Harry Roesli. Yuke mengaku dicekoki piringan piringan hitam kolekasi Harry Roesli seperti Brand X dan Weather Report.

Pada paruh 1984-1985, Yuke mulai mondar-madir Jakarta-Bandung. Kesibukannya itu karena sebuah proyek bersama band Exit dan Indra Lesmana (keyboards), Gilang Ramadhan (drums), Dewa Budjana (gitar) dan Oding Nasution (gitar). Namun, justru ketika berada pada puncak kesibukkannya dalam bermusik itu, dirinya ditunjukkan sebuah kedamaian dengan memeluk islam.

“Saat itu saya kaget, ada salah seorang anggota band saya yang penampilannya jadi berubah, dia pakai jubah putih. Ketika saya bertanya apa sebabnya, dia tidak mau jawab. Saya malah dikenalkannya dengan seorang ustadz,” kenang Yuke.

Dari perkenalan itulah Yuke sedikit demi sedikit mulai belajar islam. Yuke mangaku tidak serta merta meninggalkan dunia hiburan. Melainkan tetap berjalan di antara keduanya, lalu menjauh setapak demi setapak. Butuh waktu cukup lama untuk bisa meninggalkan kebiasaan lamanya.

“Saya mulai belajar ngaji. Teman saya bilang, kalau saya ingin mengenal islam, saya harus mulai dari tidak meninggalkan shalat selama tiga hari berturut-turut, dan harus tepat waktu. Padahal waktu itu saya masih manggung, dan kalau habis manggung biasanya main ke bar, minum-minum. Pernah saya masih di dalam bar dan sudah masuk waktunya sholat subuh. Saya pergi cari mushola, pas nanya ke resepsionis, dia cuma bengong saja ngelihatin saya,” urainya.

Yuke mengaku baru total meninggalkan dunia hiburan dan gaya hidupnya yang lama, setelah berhaji ke Makkah. Ia berangkat haji dalam kondisi perokok berat dan peminum. Bahkan Yuke nekat ‘menyelundupkan’ enam slop rokok dan beberapa botol wine putih.

“Di depan Multazam, saya berdoa, ya Allah, umur saya sudah 40 tahun, saya mohon tempatkan saya di tempat yang Engkau sukai. Dan, saya ingin meninggalkan maksiat, tapi saya tidak tahu memulai dari mana. Setelah selesai berdoa, saya kembali ke hotel dan mencoba menghisap rokok yang saya bawa, tapi semuanya terasa basi. Saya juga menenggak wine, tapi baru mencium baunya saja rasanya saya mau muntah. Sejak saat itu saya berhenti merokok dan minum, dan saya semakin yakin atas jalan yang dipilihkan Allah,” terang Yuke.

Kalangan dhuafa

Setelah mantap berhijrah, Yuke mulai mendalami Alquran. Dirinya mendaftar sebagai mahasiswa di Perguruan Tinggi Ilmu Alquran (PTIQ). Dalam kurun waktu tujuh tahun Yuke berhasil menghafal Alquran dan mendapatkan gelar masternya. Sebuah perjuangan yang tak mudah.

“Alhamdulillah, saya orangnya tidak pernah malu belajar. Usia saya sudah 43 tahun waktu mulai belajar baca Alquran. Saya benar-benar bersyukur diberi kesabaran dan kemudahan Allah, sehingga saya bisa hafal Alquran,” terang pria kelahiran Bandung, 18 Oktober 1958 itu.

Sebagai wujud rasa syukur atas kenikmatan dan kedamaian islam yang ia rasakan sekarang, dan sebagai penebus berbagai maksiat di masa lalu, Yuke mamantapkan diri menjadi pegawai Allah. Dirinya berkomitmen akan menyedekahkan harta, waktu dan tubuhnya di jalan Allah.

“Sekarang saya ini pegawai Allah. Setiap hari saya mengisi pengajian kemana-mana dalam rangka menjalankan perusahaan Allah.  Semoga nanti gajiannya di akhirat,” terangnya penuh rasa yakin.

Seiring berjalannya waktu, Yuke semakin terpanggil untuk berdakwah di kalangan dhuafa. Bahkan, keuntungan yang ia dapatkan dari usaha jual beli mobil antik yang dikelola oleh sang istri, sebagian disisihkan untuk mereka.

Yuke menyusuri daerah sekitar Bintaro, Serpong, hingga Lebak Bulus, dan menetapkan tiga kampung pemulung sebagai garapan dakwahnya. Sebelum berdakwah, Yuke mengumpulkan informasi berkaitan pendapatan yang diterima para pemulung. Alhasil tiap kali berdakwah di sana, Yuke membawa sekantong amplop yang isinya uang sesuai pendapatan para pemulung.

“Sebelum pengajian dimulai, para pemulung itu saya kasih amplop dan sembako agar mereka fokus mengaji dan tidak risau lagi hari ini mau makan apa,” jelasnya.

Saat ini, ia juga tengah membangun sebuah masjid di lokasi pemulung di Bintaro. Rencananya ia juga ingin membangun masjid di semua titik pemulung yang dijadikan ladang dakwahnya. Selain itu, Yuke juga mengasuh 50 orang anak yang ia tempatkan di rumahnya di Bogor, Jawa Barat. Di tempat itu, mereka disekolahkan dan dibina keislamannya.

“Semoga kelak mereka tumbuh menjadi seorang muslim yang kuat akidah dan keilmuannya,” harap Yuke.

Dari hati

Selain dekat dengan jamah dari kalangan pemulung, Yuke juga akrab dengan jamaah dari kalangan para artis. Keluar dari dunia hiburan bukan berarti memutuskan tali persahabatan yang telah lama terjalin. Yuke banyak dimintai mengisi pengajian-pengajian di rumah sahabatnya. Kalangan artis yang secara khusus menimba ilmu dari Yuke diantaranya adalah Dewi Sandra, Ivan Slank, Reni Jayusman, dan Denny Candra.

Cara berdakwah Yuke memang dikenal sangat santun dan penuh hikmah, sehingga membuat para jamaah merasa nyaman. Untaian kata-kata yang disampaikannya begitu halus, sehingga mampu menggambarkan keindahan islam dan menyentuh hati jamaahnya.

“Selama ini, banyak ustadz yang keras kepada jamaahnya. Sedikit-dikit neraka, kalau nggak begini neraka, ya mereka lari. Rasulullah sendiri berdakwah dengan cara yang penuh hikmah. Seharusnya kita meneladani beliau. Kalau ibarat kita main musik, kita harus steem dulu gitarnya. Nah, kalau steemannya udah benar kita mau main lagu apa aja ayo. Dakwah juga begitu, kita steem dulu hatinya. Kita tunjukkan keindahan dan kedamaian islam, kalau hatinya sudah bener, nggak usah disuruh-suruh mereka bakal lakuin sendiri,” pungkasnya.